Tipuan Kedzaliman

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Aulia Fitriah

Tidak semua orang menyadari bahwa kehadirannya di muka bumi tak berbekal apa-apa. Lemah dan tak berdaya. Hanya karena kasih sayang Azza Wa Jalla, setiap insan mampu mengembangkan potensi dirinya. Tumbuh dan berkembang dalam naungan kehendak-Nya. Menkmati karunia yang disediakan-Nya di daratan, samudera, hutan belantara, bahkan angkasa raya.

Semua karunia Allah inni seharusnya kita syukuri, agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih baik. Rasa syukur yang didasari kesadaran bahwa kita sungguh tidak memiliki apa-apa. Sudah selayaknya kita merenungkan firman Allah SWT : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur,” (QS an-Nahl:78), ironisnya, sebagian manusia tidak mau mengakui kenyataan ini.

Keengganan sebagai manusia untuk menyadari posisinya sebagai makhluk ciptaan-Nya telah menimbulkan banyak kekacauan sekaligus penderitaan. Selain merasa bisa berbuat semuanya, mereka juga sangat bernafsu untuk menguasai orang lain. Segala cara ditempuh, berbagai tipu daya digunakan. Tak mengakui adanya Rabb Maha Pencipta, mereka justru menjadi tuhan-tuhan yang sangat keji. Ribuan bahkan jutaan manusia menjadi korban. Sementara bumi yang harusnya dieksplorasi untuk kemakmuran manusia, terpuruk sia-sia.

Manusia yang merasa dirinya menjadi tuhan, sebenarnya tidak pernah merasa merdeka. Dirinya selalu dihantui ambisi. Setiap langkahnya selalu dibayangi angkara yang membelenggu pikiran dan jiwanya. Bahkan statusnya sebagai ciptaan Allah yang mulia terperosok dalam jeratan iblis durjana. Apa pun yang dilakukannya tidak memberi manfaat sedikit pun bagi hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, Allah SWT dengan tegas melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai tumpuan, apalagi sampai melalaikan kita pada kebesaran dan kekuasan-Nya. Sayangnya, masih ada manusia-manusia yang tidak memiliki pendirian, yang menjadikan mereka sebagai sekutu.

Allah berfirman. “ katakanlah: terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenernya orang-orang yang dzalim itu sebahagian dari mereka tidak menjajikan kepada sebahagiaan yang lai, melainkan tipuan belaka,” (QS Faathir; 40).

Amat besar murka Allah kepada orang-orang dzalim. Lebih-lebih pada mereka yang selalu berusaha menipu orang lain untuk kenikmatan dunia yang amat sedikit dan sementara. Mereka yang mengklaim menguasai dunia ini karena merasa memiliki kekuatan yang menghancurkan. Padahal, apa yang ada di langit dan di dunia adalah milik-Nya. Dalam ayat selanjutnya, Allah SWT menegaskan, sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah,” (QS Faathir; 41)

Menghidarkan diri kita dari perbuatan dzalim adalah sebuah keniscayaan. Tidak pelak, kita harus berusaha agar seluruh potensi yang kita miliki bisa bermanfaat bagi kehidupan. Bila tidak, lambat laun kita bisa saja mengalami disorientasi dalam memandang hidup ini. Ini akan membuat kita tidak peka lagi terhadap kedzaliman, bahkan terlibat dalam kedzaliman itu sendiri. Hanya kepada Allah kita memohon agar terhindar dari perbuatan yang sia-sia.

Comments

comments