Proyek Standarisasi IASB (IFRS) Terhadap Industri Asuransi Syariah di Indonesia

Ilustrasi. (Istimewa)

Industri asuransi syariah merupakan bagian dari Islamic Financial Institutions (IFIs), sampai saat ini masih terkendala dalam mengaplikasikan standar pelaporan keuangan internasional (IFRS). Meskipun demikian, asuransi syariah dalam upayanya mengadopsi standar internasional yang berlaku umum berkembang cukup pesat. Di samping itu, asuransi syariah yang notabene bagian dari Lembaga Keuangan Syariah juga mengacu pada standar lain yaitu standar Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI). Sehingga akan menimbulkan kebimbangan apakah industri asuransi syariah akan mengaplikasikan dua standar (IFRS & AAOIFI) yang berbeda secara bersamaan atau memilih standar yang sudah jelas memiliki basis syariah. Tentu saja dalam pengadopsian IFRS maupun AAOIFI ini akan berdampak pada keberlangsungan industri asuransi syariah terutamanya di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jika kita lihat pengadopsian IFRS baik di lembaga keuangan maupun di lembaga non keuangan, telah menuai kesuksesan dan memberikan keuntungan. Menurut IASB terdapat lebih dari 100 negara mengumumkan untuk mengadopsi IFRS dalam pelaporan keuangannya, sifatnya yang universal dan dapat diterima secara global, sehingga hasilnya dapat dikonsumsi oleh publik. Dalam beberapa penelitian IFRS banyak diadopsi oleh negara maju yang mempunyai penegakan standar yang kuat dan infrastruktur yang memadai. Penelitian lain menyebutkan bahwa adopsi IFRS dalam penegakan standar yang lemah akan tetap mendukung, dengan catatan perusahaan diberikan insentif ekonomi yang cukup untuk mencapai kepatuhan yang tinggi. Namun dalam hal ini, menunjukan hasil yang positif manakala sampel yang diambil merupakan perusahaan yang dimiliki oleh asing, hasil menunjukan sebaliknya ketika sampel diambil pada perusahaan yang dimiliki oleh non asing.

Penerapan IFRS pada industri asuransi syariah berdampak pada biaya pelaporan keuangan atau arus kas kontrak asuransi. Sehubungan dengan transaksi keuangan islam (terutama asuransi syariah) umumnya adopsi IFRS diperdebatkan karena terdapat masalah pada Syaria Compliance yang tidak tercantum dalam standar ini, sehingga tidak dapat menutupi karakteristik dari transaksi keuangan islam. Dengan demikian, karakteristik transaksi berbasis islam ini membutuhkan standar khusus yang bisa menaunginya. Setidaknya standar yang menjadia acuan lembaga keuangan islam saat ini (AAOIFI), sejalan dengan basis syariah sehingga tidak ada benturan antara sistem syariah dan konvensional. Industri asuransi syariah tidak hanya bertanggung jawab atas finansial tetapi juga bertanggung jawab secara moral dan bahkan menjadi pertanggungan di hadapan Tuhan.

Dari beberapa argumen IFRS dianggap tidak berlaku untuk industri asuransi syariah terlepas dari definisi dan filosofinya, ada beberapa transaksi yang membedakan insdustri asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Standarisasi IFRS saat ini memproyeksikan khususnya pertimbangan praktis yang ditawarkan kepada para pengguna, bagaimana proyek itu dirasakan dalam industri syariah. Terdapat beberapa keunggulan diantaranya informasi akuntansi yang berkualitas, akurasi peramalan, akuntan terlatih, dan komparabilitas. Sedangkan kerugiannya adalah IFRS tidak dapat memenuhi peryaratan untuk industri asuransi syariah. [Depi Lestari/STEI SEBI]

Comments

comments