Prof KH Didin Hafiduddin: Zakat Bisa Jadi ‘Lifestyle’ Muslim Indonesia

Ilustrasi.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita sudah sering mendengar kata zakat. Apalagi saat bulan Ramadhan, di saat inilah kita diwajibkan untuk mengeluarkan salah satu dari jenis zakat yaitu zakat fitrah. Zakat sendiri merupakan salah satu bagian dari rukun islam, yang mana kita sebagai orang yang beriman wajib mengeluarkan zakat apabila telah memenuhi kriteria dan persyaratannya.

Zakat dalam bahasa arab adalah Kesucian dan Pertumbuhan atau Keberkahan. Sedangkan secara istilah adalah “Sebutan bagi harta yang dikeluarkan oleh seorang muslim dari hak Allah ta’ala untuk disalurkan kepada golongan yang berhak dengan tata cara tertentu”. Apabila dipaparkan secara rinci dari definisi zakat sendiri, yang mana obyek zakat adalah harta benda, status zakat adalah pengeluaran harta oleh seorang muslim, dan zakat bukanlah pungutan liar tanpa legalitas dan aturan ketat. Hanya Allah swt yang berhak mengatur penyaluran harta zakat.

Menurut pakar zakat, Prof KH Didin Hafiduddin mengatakan, zakat itu dibagi menjadi dua macam yaitu zakat fitrah dan zakat maal (zakat harta). “Zakat fitrah itu memiliki dua tujuan yang mulia,”

Pertama, zakat fitrah bagi orang yang berpuasa bisa sebagai penyempurna ibadah puasanya, serta membersihkan diri dari berbagai macam perbuatan yang tidak bermanfaat. Kedua, dengan berzakat fitrah berarti memberikan bantuan makanan kepada fakir miskin dan para mustahik lainnya.

Harapannya dari penyaluran harta zakat sendiri itu sudah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan dan disalurkan kepada orang-orang yang tepat. “Jangan sampai fakir miskin meminta-minta atau kelaparan di hari raya Idul Fitri, sementara kita yang mampu tak mau peduli,” jelas Didin.

Disamping zakat fitrah sendiri, Beliau menghimbau supaya kaum muslimin membiasakan diri menunaikan zakat maal, baik itu hasil dari pertanian, perdagangan maupun dari penghasilan (zakat profesi). Menurutnya, penyaluran zakat maal bisa dilakukan pada bulan Ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya sesuai dengan syariat Islam.

“Saya berharap bahwa kesediaan untuk berzakat harta ini menjadi lifestyle kita sebagai kaum muslimin di Indonesia,” ungkap Didin.

Sehingga, apapun posisi jabatan dan pekerjaan, maka umat senantiasa berupaya untuk berzakat ataupun berinfaq setiap kali memiliki penghasilan. Sebab, hal itu menurutnya, merupakan suatu amal shalih yang sangat dahsyat aspek-aspek positifnya dalam membangun karakter umat.

“Bagi saya zakat itu bukan semata-mata berkaitan dengan mengeluarkan harta atau uang tetapi juga pembentukan karakter bangsa dan umat. Kalau suka berzakat, berinfaq dan bersedekah maka, umat Islam ini akan memiliki etos kerja yang tinggi, tidak mungkin umat akan malas,” papar Didin.

Selain itu, kata Didin, ummat juga akan memiliki etika kerja yang tinggi (akhlak yang baik dalam bekerja). Artinya, orang yang berzakat, berinfaq dan bersedekah itu akan berusaha mencari rezeki yang halal.

“Mereka tidak akan berbuat curang seperti korupsi dan sebagainya. Nah, salah satu langkah pemberantasan korupsi itu bisa diatasi dengan terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar senang untuk berzakat, berinfaq dan bersedekah,” tandas Didin.

Kemudian salah satu tujuan mulia zakat lain sendiri berdasarkan buku Fiqih Zakat (Yusuf Al-Qardhawi) disampaikan bahwa zakat bukan sekedar bantuan sewaktu-waktu kepada orang miskin untuk meringankan penderitaannya.

Namun untuk menganggulangi kemiskinan, agar orang miskin menjadi berkecukupan selama-lamanya, mencari pangkal penyebab kemiskinan itu dan mengusahakan agar orang miskin itu mampu memperbaiki sendiri kehidupan mereka. (Sansan Hasan Basri – STEI SEBI)

Comments

comments