Menghadapi Global Lifestyle

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Aminur Rohman

Bukan yang sulit untuk memindahkan atau menukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan. Berkomunikasi dengan manusia di belahan bumi lain bisa dilakukan secara langsung. Apa yang menjadi tren dibelahan bumi utara bisa saja dalam sekejap langsung diikuti orang-orang dibelahan bumi selatan. Gawatnya,pertukaran tren itu di serap mentah-mentah, tanpa saringan oleh pihak penerima.

Dalam pandangan futolog (pakar ahli tentanng masa depan) terkemuka asal Amerika Serikat, John Naisbitt, era global yang serba teknologi seperti sekarang ini disebut sebagai “Global Lifestyle” menurutnya, sebuah peradaban dibelahan bumi manapun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa pada apa yang disebut The Boundless Of The World (dunia tanpa batas). Akselerasi dampaknya merabah begitu cepat dihampir kesemua aspek kehidupan, tak terkecuali di Negara-negara muslim sekalipun.
Budaya global yang mengalami perkembangan amat dahsyat adalah; food, fashion, dan fun (makanan, pakaian, dan hiburan). Khusus pada budaya makan dan minum telah menjadi varian yang cukup menonjol dilingkungan masyarakat kita, khusunya umat islalm. Budaya makan dan minum sudah mulai tercabut dari nilai asasi yang seharusnya, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis dalam rangka menjalani kehidupan didunia.

Namun apa yang kita lihat dan rasakan sekarang, makan dan minum telah memasuki wilayah glogal lifestyle yang menjadi bagian dalam kehidupan modern. Apa yang dibeli, dimakan dan diminum hanya menjadi ilusi. Makanan yang dimakan dan minuman yang diminum bukan lagi menjadi kebutuhan mendasar manusia, akan tetapi telah merambah pada jaringan-jaringan persepsi budaya yang tidak jelas pijakannya.

Budaya itu telah menggambarkan kepada kita, bahwa ketika manusia haus dan lapar bukan kembali kepada pijakan yang bersifat alami dan mutlak diperlukan oleh semua makhluk hidup. Akan tetapi manusia haus dan lapar lebih pada “konsumtifisme”. Tindakan membeli dan menkonsumsi telah menjadi tujuan irasional dan kompulsif, karna tujuan terletak pada membeli dan sandaran tren itu sendiri tanpa adanya hubungan sedikitpun dengan manfaat atau kesenangan dalam membeli dan mengkonsumsi barang-barang itu.

Pizza, hamburger, lasagna, steak, roku-roku, es cream, fruit punch, dan masih banyak lagi adalah makanan dan minuman yang mewakili gaya hidup modern, bukan kebutuhan hidup secara asasi, sebab untuk kebutuhan vitamin dan hal-hal yang dibutuhkan dalam kesehatan dapat saja diwakili oleh singkong, ubi, dan buah-buahan alami. Bisa dikatakan bahwa makanan dan minuman diatas adalah wakil dari setan dalam menebarkan dakwah tabdzir-nya bila dikonsumsi hanya mengikuti tren bukan atas dasar kebutuhan.

Tak kalah gilanya tren budaya pakaian. Pakaian bukan lagi sarana untuk menjaga tubuh manusia dari panas dan dingin, tetapi berubah menjadi pelengkap keindahan tubuh yang dapat dipamerkan. Pakaian dalam tren masa kini adalah pembalut yang berfungsi menampilkan bagian eksotis tubuh manusia. Tentu saja pandangan seperti ini merusak tatanan moral, budaya dan agama. Yang paling celaka adalah ketika tren seperti ini dinilai Sebagai bagian dari seni yang perlu dapat perhatian untuk dikembangkan. Lebih serius lagi, saat ini tran kotor ini sudah merambah dan menyatu dalam kehidupan muda-mudi yang merupakan tunas-tunas harapan bangsa.

Sepakat dengan dua budaya di atas adalah dunia hiburan yang semakin merajalela dan membius mata. Keindahan dan kesenangan dunia hiburan telah hadir menghipnotis manusia sehingga mereka mengkhayal seakan disurga. Kesenangan inilah yang mampu melunturkan keimanan akan alam akhirat yang kekal.

Tren budaya diatas merupakan fenomena yang sebenarnya tidak selalu berbanding lurus dengan tatanan nilai budaya lokal dan norma agama yang kita anut. Maka, kita sebagai manusia yang beragama yang mempunyai pijakan-pijakan yang didasarkan pada nilai-nilai wahyu, hendaknya kita selalu waspada akan semua rangkaian tipu daya kehidupan dunia.

Kenakalan remaja, kelezatan makanan, dan keindahan hiburan merupakan kelengkapan terompet penyongsong kiamat dan kunci pembuka pintu neraka yang dipersiapkan oleh setan. Hal yang paling rasional dan realistis yang perlu dilakukan saat ini adalah menyelamatkan anak-anak kita dari budaya-budaya ini dengan memulai penanaman karakter hati-hati dan menjauhkan dari perilaku tercela dimulai dari pendidikan keluarga. Sebab pendidikan dari lingkungan keluarga adalah masa-masa emas dalam menanamkan karakter yang positif.

Comments

comments