Lima Bahaya Utang yang Patut Diwaspadai

Ilustrasi.

Utang bukan lagi menjadi hal asing untuk diperbincangkan. Bahkan berutang telah menjadi kebiasaan beberapa orang. Dalam kondisi ekonomi yang mendesak misalnya, berutang menjadi salah satu solusi yang sering digunakan.

Tidak sampai disitu, berutang acapkali masyarakat lakukan hanya demi terpenuhinya hawa nafsu dalam bergaya hidup. Seperti membeli mobil baru, tas baru, baju baru dan lain sebagainya tanpa menimbang resiko yang akan didapatkan.

Didalam islam, berutang tidak lah menjadi sebuah larangan. Bahkan telah diatur bagaimana adab-adab dalam berutang. Rasulullah SAW pun pernah berutang kepada seorang Yahudi dan utang tersebut dibayar dengan baju besi yang beliau miliki. Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata: “Nabi SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya.” (HR. Al-Bukhari)

Meskipun dalam Islam berutang tidak dilarang. Namun, alangkah baiknya bagi seorang muslim untuk menghindari berutang. Karna berutang sendiri dapat mendatangkan 5 kemudharat (keburukan) yang sangat merugikan. Pertama, utang akan membuat seseorang tertahan masuk surga. Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, ghuluul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi)

Kedua, utang akan membuat dosa-dosa tak terampuni. Sampai utangnya tersebut terselesaikan. Hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadist dari Abu Qatadah RA dari Rasulullah SAW bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?” Beliau pun menjawab: “Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali utang. Sesungguhnya Jibril AS baru memberitahuku hal tersebut.” (HR Muslim)

Ketiga, pada zaman dahulu, Rasulullah SAW enggan menyolati jenazah yang masih memiliki utang. Dalam sebuah hadis diceritakan, “…Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Salatilah dia!’ Beliau bertanya, ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun mensalatinya. Kemudian didatangkan jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya berkata, ‘Salatilah dia!’ Beliau bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Salatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah berkata, ‘Salatilah dia! Ya Rasulullah! utangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Bukhari)

Keempat, utang akan membuat seseorang menjadi cenderung tidak jujur. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (HR. Bukhari)

Kelima, utang akan membuat seseorang menjadi lebih dekat kepada kekufuran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan utang ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ya!” (HR. Nasa’i dan Hakim)

Demikianlah lima bahaya utang yang patut diwaspadai oleh umat Islam. Lebih baik untuk tidak berutang jika tidak berada dalam kondisi mendesak sekalipun, karena kemudharatan yang ditimbulkan jauh lebih besar. [Oschadiva]

Comments

comments