Layakkah Memajang Status Masalah Rumah Tangga di Media Sosial?

Ilustrasi.

Allah menciptakan segala sesuatu di bumi ini berpasang-pasangan ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada hitam ada putih, begitupula manusia Allah ciptakan berpasang-pasangan dengan tujuan bisa saling menetramkan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan teknologi pun semakin berkembang banyaklah bermunculan media sosial sepeti facebook, whatsapp, twitter, instagram dan media yang lainya. Dengan adanya media sosial tersebut semakin mudah untuk mengekspresikan banyak hal dimedia sosial.

Termasuk menceritakan masalah yang sedang dialami dalam rumah tangganya jika seseorang tersebut telah menikah baik itu suami atau istrinya tapi tahukah anda bagaimana Al-Qur’an memandang fonomena tersebut?

Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi :

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. [QS. Al-Baqarah (2): 187.]

Allah menyebutkan dalam ayat tersebut pasangan kita dalah pakaian kita dan kita adalah pakaian untuk pasangan kita. Sebagaimana fungsi pakaian adalah menutup aurat maka suami atau istri harus bisa saling menutupi aibnya. Karena tidak dapat dipungkiri setelah menikah yang paling tahu bagaimana kita dan karakter kita bukanlah orang tua akan tetapi pasangan kita. Karena makna pakaian pun adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita, kita tidak pernah lepas dari yang namanya pakaian.

Memajang status apa pun yang menyebabkan aib pasangan kita tersebar tentulah bukan hal yang baik karena hal ini akan tambah memperburuk masalah yang dialami dan akan banyak orang yang ikut campur dalam hal masalah tersebut, dan ini pun akan berakibat pada susahnya diselesaikannya masalah tersebut.

Kerugian yang dialami sebenernya banyak sekali dengan memajang status masalah rumah tangga salah satunya banyak khalayak umum yang akan mengetahui masalah yang sedang dialami mungkin jika yang baik akan medukung mendoakan tapi bisa jadi yang tidak menyukai kita akan sangat senang mengetahui perihal masalah yang sedang dialami, juga dengan memajang status akan ada banyak komentar yang bermunculan dimulai dukungan dan yang lainnya yang paling dikhawatirkan ketika yang berkomentar memberikan masukan yang keliru kepada kita bukannya masalah selesai malah bertambah parah.

Memajang status masalah rumah tangga sebaiknya dihindari karena sejatinya mereka yang membaca hanyalah penonton yang mungkin ada yang sedih juga senang melihat apa yang menimpa kita karena sejatinya kitalah pemainnya kitalah sendiri yang harus menyelesaikannya.

Dalam islam memakai perantara dalam menyelesaikan masalah rumah tangga sebenernya tidak dilarang apabila kita tidak dapat menyelesaikannya dengan pasangan kita, hal ini diperbolehkan sebagaimana di zaman Rasulullah ketika ada sahabat nabi yang menyebutkan istrinya bagaikan punggung ibunya aka istrinya mengadukan hal ini pada Rasululah dan turunlah surat Al-Mujadillah hal ini mengisyaratkan bahwa dibolehkannya memakai orang ketiga untuk meyelesaikan masalah rumah tangga yang dialami dengan syarat orang yag terpercaya.

Dari ulasan diatas maka Al-Qur’an pun melarang meyebar luaskan aib pasangan kita termasuk memajang status masalah rumah tangga yang sedang dialami karena hal itupun salah satu betuk menyebar luaskan aib pasangan kita. Dengan memajang status akan ada jutaan mata yang melihat dan mengetahui kondisi yang sedang kita alami.

Dan Al-Qur’an menganjurkan kita menjadi pakaian untuk pasangan kita sebagimana fungsinya untuk menutupi, melindungi, memberikan kenyamanan, perhiasan untuk pasangan kita.

Jika perintah Allah yang satu ini dijalankan dalam berumah tangga insya Allah rumah tangga yang dibangun adalah rumah tangga yang sakinah yang penuh keberkahan karena masalah adalah hal yang wajar yang akan dialami dalam berumah tangga bahakan yang belum berumah tangga pun pasti mempunyai masalah dan setiap pribadi pun pasti punya masalah dalam hidunya.

Karena masalah adalah bagian ujian yang Allah turunkan kepada kita dengan tujuan untuk menaikkan derajat kita jika kita bisa melewatinya dengan baik dan penuh kesabaran. [Ummu Qonita]

Comments

comments