Hijrah Itu Mudah, yang Sulit Istiqomah

Ilustrasi. (Istimewa)

Telah kita ketahui pada hakikatnya dalam hidup itu pasti Allah akan memberikan ujian keadaan hambanya baik dari cobaan yang selalu ada menempa diri kita. Kadang berat, sulit, dan tidak tahu harus berbuat apa. Sama halnya ketika kita memutuskan untuk hijrah; berat, tak mudah dan macam lika liku lainnya. Mengubah suatu keadaan menjadi kebiasaan yang baik perlu komitmen yang mesti dipupuk dengan kesungguhan serta senantiasa tersirami ketaatan.

Saat ini mungkin kita tengah berada di titik jenuh kehampaan sebagai seorang manusia, terlalu sering berbuat buruk hingga lupa beribadah kepadaNya ( Allah SWT ). Mulai sekarang lah kawan kita harus memulai hijrah, mengubah hal tidak baik yang biasa dilakukan menjadi perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada Allah swt.

Mungkin nanti ada perasaan takut, cemas, bagaimana nanti tanggapan orang lain tentang hijrah yang kita lakukan; tidak apa-apa hijrah saja dulu, umpatan seseorang terhadap hijrah yang diusahakan adalah bukti bahwa kita tengah berada dimuara kebaikan. Celaan mereka adalah lecutan bahwa kita harus lebih bersemangat dalam berhijrah.

Memang berat.. tapi cobalah, hijrah saja dulu. Toh, nanti jika sudah merasakan pasti ketagihan. Ketahuilah pada hakikatnya ada rasa cinta ketika kita mulai mendekatkan diri kepadanya.

Pada dasarnya “hijrah itu mudah, yang sulit ialah istiqomah”. Inilah hakikatnya kawan, bahwa untuk tetap berada di jalan kebaikan kita mesti senantiasa memperbanyak bekal, sahabat yang selalu mengingatkan, lingkungan yang mendukung, tekun beribadah, serta ikutilah kajian-kajian yang menambah keimanan dan kemantapan untuk terus di jalan hijrah. Ia adalah bekal dalam perjalanan untuk senantiasa istiqomah menapaki jalan hijrah.

Memang, jalan hijrah tak selamanya mudah, tapi jangan sampai membuat iman goyah. Faktanya, hijrah itu berlika-liku, tak jarang melipir pada cemoohan manusia. Tapi inilah ujiannya, atau mungkin serunya.

Sebagai contoh coba kita bayangkan, kalau novel itu alur ceritanya datar pasti nggak seru, alhasil ya jauh dari kata bestseller. Nah, begitulah hijrah, kawan. Alurnya kadang mendebarkan, ceritanya mengharukan, tapi insya Allah kita mengetahui ujung jalan hijrah ini adalah tempat terbaik yang tak sebanding dengan apapun. Yaitu surganya Allah SWT.
Ketahuilah kawan, setiap manusia bakal merasakan yang namanya kematian, di situlah semua amalan kita bakal di minta pertanggung jawabannya di hadapan sang Khaliq ( Allah SWT ), dan di situlah kita akan merasakan kehidupan yang kekal ( abadi ).

Kawan . .. hijrah dulu aja istiqomah kemudian tetapkan diri dijalan kebaikan, kita tidak pernah tahu sampai kapan Allah memberi kita kesempatan dan berapa lama lagi kita tinggal di dunia yang sementara ini. Namun yang harus di yakini adalah; maut yang senantiasa mengintai, membuntuti kita dengan liar, ia dapat menyergap kapan saja sesuai ketetapan. Maka hijrah saja dulu kawan, lalu istiqomah. [Kiki Ginanjar]

Comments

comments