Fenomena Digitalisasi dan Pemilihan Jurusan Kuliah

Ilustrasi/

Masa menanti SNMPTN dengan harap-harap cemas telah terlewatkan, begitu pun dengan SBMPTN yang begitu krusial. Meski begitu, hal tersebut bukanlah momok final bagi anak SMA yang baru saja lulus dan sedang berkelana mencari masa depannya. Kalau keterima SNMPTN maupun kembarannya si SBMPTN, ya syukur-syukur. Kalau tidak, masih ada kesempatan lain lewat jalur tes mandiri.

Semuanya dilalui penuh perjuangan. Perjuangan otak, perjuangan menjawab soal, dan perjuangan memilih. Sewaktu dulu ingin kuliah, saya ingat sekali, yang mencuatkan perdebatan antara saya dan orangtua adalah masalah pemilihan jurusan. Duh, masalah lulus atau tidak, sebenarnya hanya ibarat bumbu dalam masakan. Sedang hidangan utama yang membuat benak para calon mahasiswa terlipat adalah soal pilih-memilih jurusan tadi. Karna tanpa pilihan tersebut, sulit untuk memutuskan universitas mana yang dituju, sebab kalau mau mempersiapkan diri alias belajar, kita harus teliti terlebih dahulu apa yang mesti dipelajari, sesuai dengan jurusan pilihan kita.

Disini, saya yakin tiap individu telah memiliki pilihan masing-masing. Untuk anak SMA jaman sekarang, pilihan itu dipompa sejak kelas 2, ketika harus memutuskan untuk memilih jurusan IPA, IPS, Bahasa atau Agama. Namun, terkadang kebingungan itu masih juga ada, mengingat terbuka luasnya kesempatan sebelum memasuki jenjang kuliah yang tak melulu harus bergantung pada jurusan semasa SMA.

Perjuangan pilih-memilih jurusan ini tidak akan begitu rumit, kalau tidak ingat prospek profesi di masa depan. Ya, tujuan belajar selama berbelas tahun ini salah satunya, selain ingin membanggakan orangtua, ingin berkarya, tentu agar dapat mencari penghasilan. Dari sini, berbagai pertimbangan pun muncul, dan untuk para millenial, pertimbangan ini dikaitkan dengan perkembangan jaman.

Anak millenial, kaum yang tumbuh kembangnya tidak lagi hanya ditentukan oleh kesehatan dan gizi, namun juga teknologi. Kita hidup di jaman dimana untuk menyampaikan sesuatu, tak harus dengan mengirim merpati maupun bertelegram dengan mesin tik. Secara otomatis, pekerja mesin tik yang biasa kita lihat di film tentang PD II, tak lagi dibutuhkan di jaman penuh Facebook dan Whatsapp ini. Beraneka media teknologi kian menyatukan dunia, mempermudah interaksi dan aktivitas masyarakat. Hal ini dapat menjadi petunjuk dan rambu bagi para calon mahasiswa, agar dapat mengukur prospek kerja kedepannya.

Perkembangan teknologi ini semestinya menjadi sorotan tiap pelaku ekonomi, disamping saat ini masyarakat jua tengah mengalami perubahan perilaku konsumen. Di jaman modern, para pelaku ekonomi sejatinya sedang menghadapi persaingan yang tak terlihat. Para calon mahasiswa yang masih menanti-nanti kabar kelulusan, secara aktual adalah calon pelaku ekonomi di hari kemudian.

Menyambut revolusi industri 4.0, beberapa industri bahan ritel di dunia mengalami distabilitas akibat pergeseran industri dan pola konsumsi masyarakat yang sekarang bergantung pada teknologi digital. Contohnya, di negara sakura, sekarang ini sedang banyak-banyaknya vening machine alias mesin penjual otomatis, sebab dianggap dapat menggantikan kerja manusia yang berfungsi sebagai kasir.

Bahkan disebutkan, bahwa dalam 5 tahun kedepan, perubahan template industri sudah tidak dapat dihindari lagi. Di tahun 2018 ini saja, Paytren, sebuah lembaga transaksi syari’ah berbasis online yang baru didirikan 2 tahun lalu, sudah mencapai 1,6 juta nasabahnya, dibanding Bank Syari’ah Mandiri yang telah beroperasi dari tahun 1999 dan baru meraup sekitar 6,5 juta nasabah.

Lama kelamaan, digitalisasi akan menjadi sindrom masyarakat hingga bahkan sampai pada titik tergantikannya peran manusia oleh peran robotika. Kantor pos mengalami kemerosotan pelanggan sejak fasilitas email mulai merebak, yang pada awalnya dirajai oleh yahoo.com. Sekarang orang tidak perlu melulu ke bank sebab telah tergantikan dengan fasilitas m-banking, dan bagi yang suka naik kereta Commuter Line, pasti menyadari jumlah staff yang menjual tiket mulai surut, terwakilkan dengan mesin merah penjual tiket otomatis.

Digitalisasi ini agaknya melahirkan gagasan baru yang bisa menjadi referensi bagi calon mahasiswa, bahwa demi meninjau prospek masa depan yang cerah, sebaiknya dibekali dengan pemilihan jurusan berbasis teknologi. Sampai-sampai beberapa kalangan melancarkan strategi persuasi bahkan dominasi untuk meyakinkan calon mahasiswa agar memilih jurusan kuliah yang berhubungan dengan dunia digital. Entah itu Ilmu Komputer, Teknik Elektro, atau yang lain sebagainya. Menurut situs Bussiness Insider, beberapa jurusan perkuliahan yang akan musnah salah satunya adalah ilmu keperpustakaan, pertanian, dan lainnya, yang berhubungan dengan tenaga kemanusiaan.

Jaman berubah dengan cepat, dan dunia perkuliahan harus bersiap dengan menawarkan jurusan yang lebih inovatif, begitu pula mahasiswanya sebagai pemilih dan pengembang lingkup keilmuan.

Akan tetapi segala hal pasti memiliki dua sisi. Para pekerja yang berprofesi di dunia digital yang saya kenal, sebagai hasil dari prodi berbasis teknologi, mereka cenderung lebih cepat pensiun dikarnakan lelah harus berperan ganda: yaitu sebagai pekerja dan juga murid. Dunia digital yang erat dengan perubahan mewajibkan manusia untuk turut mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan jaman. Contohnya, seorang professor dari tahun 90-an mungkin akan kalah ilmunya dengan sarjana jaman sekarang bila ditanya soal 4G, sebab di tahun 90-an yang dikenal hanya jaringan GSM saja.

Tentu, tak semua kebutuhan manusia dapat tergantikan dengan teknologi. Begitu pula dengan fakta bahwa sindrom digitalisasi ini tak dapat mematahkan pentingnya ilmu dan jurusan diluar yang menghasilkan produk digital saja. Keilmuan yang sifatnya universal dihuni dengan ilmu-ilmu penting lainnya. Setiap jurusan memiliki peran tersendiri.

Walaupun, fenomena digitalisasi ini tetap tidak dapat ditampik. Dan dengan mengesampingkan fakta tersebut sama saja menolak untuk menghadang badai. Berbagai usaha pun terbuka bagi mahasiswa diluar prodi digital untuk tetap mengejar pembelajaran yang berkaitan dengan teknologi. Contohnya, dalam mengantisipasi sindrom digital ini, karna tidak termasuk mahasiswa jurusan berbasis teknologi, teman saya ada yang mempelajari ilmu tentang komputer yang dapat menunjang jurusannya, yaitu akuntansi. Pelbagai software akuntansi ia kuasai, financial technology turut ia pelajari.

Dunia perkuliahan adalah masa yang penuh tantangan dan tak akan terulang. Jangan sampai anak muda bangsa ini melaluinya dengan penyesalan di akhir. Pemilihan jurusan memang tak luput dari perdebatan antara calon mahasiswa dan orangtua, atau dengan siapa saja yang bersangkutan. Banyak anak yang memandang pemilihan jurusan merupakan momok membingungkan, penuh rasa takut dan bimbang. Sebenarnya, tak perlu lah dipandang begitu. Justru anggap tantangan ini sebagai langkah pendewasaan sekaligus ladang perancang masa depan. Selamat merancang masa depan! [Aiman Nabilah R]

Comments

comments