Suara dari Sahabat

Ilustrasi (Istimewa)

Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri. Tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun sudah seperti saudara sendiri. Tak peduli dalam keadaan susah ataupun senang, seorang sahabat pasti akan selalu berada di sisi untuk menemani. Terkadang bisa menjadi seorang kakak, adik, bahkan motivator sekali pun.

Seiring berjalannya waktu, hubungan persahabatan pasti memiliki rintangannya masing-masing. Namun, justru itulah yang akan membuat persahabatan semakin kuat nantinya. Disaat aku harus memahami bahwa sahabatku juga harus mengejar cita-citanya, sibuk dengan rapat-rapat dan acaranya, aku harus mengalah untuk tidak bertemu dengannya.

Memahami bahwa kisah klasik putih-biru yang setiap hari berlalu dengan dirinya telah menjadi untaian masa lalu yang seringkali memanggil rindu. Angkutan umum itu pun sudah tak lagi sama. Tidak ada lagi gelak tawa bersamanya yang kerap mengundang tatapan kesal penumpang lain meminta aku untuk diam karena terlalu berisik.

Kebersamaan di hari-hari lalu tak lagi bisa terasa sama karena bentangan jarak dan rutinitas yang berbeda. Aku menapaki jalanku. Begitupun dengannya yang melangkah dengan pola yang telah ia pilih. Melangkah untuk satu titik yang pasti yang sama, masa depan.

Era digitalisasi sudah merambah dunia. Jangan takut kehilangan sahabat hanya karena pertemuan yang terbatas. Setidaknya kuhubungi sahabatku lewat aplikasi pesan singkat yang sudah terunduh di ponselku. Meski terkadang takut mengganggu, namun dengan begitu komunikasiku dengannya akan tetap ada.

Bertatap muka secara langsung dengan berhubungan lewat media sosial memang berbeda. Tetapi, setidaknya aku tahu bahwa sahabatku selalu baik-baik saja di sana. Sesekali, mari luangkan waktu bersama. Atur jadwal untuk dapat bertemu. Buat saja daftar pekerjaan yang harus masing-masing selesaikan lebih dulu agar tanpa beban ketika melepas rindu. Lalu jemput aku di teras rumahku. Akan aku dengarkan cerita tentang hari-hari barunya tanpa aku dan kutunggu hingga giliranku bercerita tiba. Lalu, tutuplah sua dengan sedikit nostalgia bersama. [Nurfina Fitri/PNJ]

Comments

comments