Strategi Pegadaian di Zaman Milenial

Ilustrasi. (Istimewa)

DEPOK- Pada saat ini, pegadaian syariah sudah terbentuk sebagai sebuah lembaga. Pembentukan pegadaian syariah selain karena tuntutan idealisme juga dikarenakan keberhasilan lembaga bank dan asuransi syariah. Setelah terbentuknya bank, BMT, BPR dan asuransi syariah maka pegadaian syariah mendapat perhatian oleh beberapa praktisi dan akademis untuk di bentuk dan di bawa ke dalam suatu lembaga sendiri.

Keberadaan pegadaian syariah atau gadai syariah atau Rahn lebih dikenal sebagai produk yang ditawarkan oleh bank syariah, dimana bank menawarkan kepada masyarakat bentuk penjaminan barang guna mendapatkan pembiayaan.

Bentuk usaha pegadaian di Indonesia berawal dari Bank van Leaning pada masa VOC yang mempunyai tugas memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan jaminan gadai. Sejak itu bentuk usaha pegadaian telah mengalami beberapa kali perubahan sejalan dengan perubahan peraturan-peraturan yang mengaturnya. Pada konsep pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern yang azas rasionalitas, efesiensi dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai islam.

Fungsi operasi pegadaian syariah itu sendiri dijalankan oleh kantor-kantor Cabang Pegadaian Syariah / Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai satu unit organisasi dibawah binaan Divisi usaha lalin perum pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional.

Pegadaian menjadi salah satu industri keuangan yang dibutuhkan oleh masyarakat di Indonesia. Dengan tagline “ Mengatasi Masalah Tanpa Masalah “ pegadaian di kalim mampu mendorong produktifitas masyarakat. Namun di era digital, bagaimana pegadaian menghadapi serbuan financial technology (fintech) atau perbankan yang layanannya makin merangsek ke masyarakat. Pandangan tentang era digital dan menggeser layanan konvensional pegadaian ke ‘zaman now’.

Adapun mekanisme operasional pegadaian syariah, sebagai penerima gadai atau disebut murtahin, anda akan mendapatkan Surat Bukti Rahn (gadai) berikut dengan akad pinjam meminjam yang disebut Akad Gadai Syariah dan Akad Sewa Tempat (Ijarah). Sedangkan akad sewa tempat (ijaroh) merupakan kesepakatan antara penggadai dengan penerima gadai untuk menyewa tempat untuk penyimpanan dan penerima gadai akan mengenakan jasa simpan. Melalui akad rahn, nasabah menyerahkan barang bergerak dan kemudian pegadaian menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh pegadaian.

Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan proses kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pegadaian syariah akan memperoleh keuntungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang pinjaman.

Tantangan yang akan dihadapi pegadaian tahun ini yaitu kita perlu berbicara dari sisi makronya terlebih dulu, yang harus diwaspadai salah satunya risiko kebijakan di Amerika Serikat. Itu akan berdampak ke nilai tukar dan pengetatan likuiditas. Kemudian, ke suku bunga dana di Indonesia dan naiknya cos of fund (biaya dana) sehingga harapannya juga akan lebih baik. Strategi perusahaan gadai pun diperlukan nya target pada tahun ini untuk mencapai targes berbisnis nya, yang dilakukan itu adalah melakukan transformasi. Transformasinya ada dua, yang pertama adalah area digital kedua area kultural .

Dapat diterjemahkan, bahwa strategi jangka pendek kami akan digitalisasi business process, mobile apps langsung ke nasabah, dan pengembangan layanan berbasis digital. Kemudian untuk kultural, akan dilakukan standarisasi outlet, revitalisasi gudang dan logistik, penguatan kapabilitas SDM dan budaya perusahaan, external distribution channel via agen. Saat ini kondisi keuangan juga sangat sehat, dari ekuitas Rp.18 triliun, baru di leverage 1,68 kali.

Padahal perusahaan pembiayaan bisa maksimal 10 kali. Kesimpulannya, pegadaian sangat kuat dan kondusif sebenarnya untuk tumbuh agresif. Maka, pegadaian akna menerappkan strategi memperluas jangkauan layanan, banyaknya produk yang bisa diberikan pada masyarakat, dan mempercepat proses layanan. Mempercepat proses layanan dan perbaanyak produk itu harus menggunakan digital. Kemudian digital-digital itu membutuhkan perubahan perilaku, baik nasabah maupun perusahaan atau internal.

Direktur Utama PT. Pegadaian (Persero), Sunarso mengatakan dukungan dan keterlibatan mahasiswa dan akademisi sangat diperlukan untuk industri keuangan syariah dapat tumbuh lebih cepat, berkelanjutan dan berdaya saing diera digital ekonomi sehingga dapat berperan dan berkontribusi lebih optimal dalam perekonomian nasional. Menurut Sunarso, seminar ini penting untuk mengakselerasi pengembangan industri keuangan syariah, dan tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan yang bersifat organik saja, tetapi membutuhkan peran masyarakat, khususnya anak muda/mahasiswa, pemerintah dan dunia usaha yang lebih besar lagi.

“ Industri keuangan syariah nasional memiliki potensi yang begitu besar untuk terus tumbuh hingga perannya semakin dirasakan dalam mendukung perekonomian di Indonesia khususnya dalam meninngkatkan kesejahteraan masyarakat luas,“ ungkapnya di Depok, Jawa Barat selasa, (15/5).

Lebih menjauh Mantan Waditur BRI ini pun menjelaskan bahwa rasio inklusi keuangan di Indonesia masih cukup rendah, hanya sebesar 48,9% hingga april 2018. Untuk meningkatkan jumlah rasio tersebut, perseroannya aktif melakukan literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai produk dan saluran distribusi kepada generasi milenial yang selama ini masih relatif kecil menjadi nasabah dan pegadaian.

Saat ini omzet pinjaman dan rekening syariah di pegadaian rata-rata baru sekitar 12% jauh lebih rendah dibandingkan OSL konvensional yang mencapai 88%. Pegadaian juga telah meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS) yang merupakan jawaban dari kebutuhan milenial yang sudah sangat akrab dengan layanan keuangan berbasiskan digital. Sebab, trend nasabah pegadaian didominasi oleh usia produksi dan mahasiswa yang mencapai 68%.

“Ini merupakan salah satu strategi pegadaian untuk bisamelebarkan pangsa pasarnya terutama kepada generasimuda yang menginginkan layanan keuangan serba cepat,” tambahnya.

Selain fokus pada layanan konvensional, pegadaian juga berkomitmen untuk menumbuhkan bisnis syariah, antara lain, murabaha yakni akad atau transaksi jual beli dan rahn yaitu akad yang digunakan dalam proses gadai barang.

“Bahkan kami baru saja meluncurkan produk baru untuk menjawab tuntunan pasar dan zaman , yaitu produk rahn hasan berupa pinjaman hingga Rp. 500 ribu tanpa biaya titipan. Rhan Hasan adalah produk pegadaian yang bisa menjangkau mahasiswa da masyarakat menengah kebawah yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan, jadi kami harapkan layanan ini bisa membantu mereka dan juga meningkatkan rasio inklusi keuangan di Indonesia,“ tutup Sunarso. [Indah Sri Wahyuningsih]

Comments

comments