Saat Berniaga Menjadi Pilihan Ketimbang Bekerja

Fetmianti bersama dagangannya. (Foto: Nickie)

Mungkin bagi sebagian orang berdagang tidaklah mudah. Banyak tantangan yang akan dialami dalam berdagang. Khususnya berdagang di pasar tradisional. Mulai dari pasang-surutnya penghasilan, persaingan, sampai dalam menyikapi para pembeli. Tetapi semua itu bukan alasan untuk kapok dalam berdagang bagi Fetmianti, salah satu pedagang di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan. Semua tantangan itu dapat disikapinya dengan bijak. Menurutnya, berdagang di pasar tradisional itu menyenangkan. Dia bebas mengatur semuanya sendiri tanpa perlu diperintah atasan atau tergantung gaji.

Wanita paruh baya yang sudah berdagang sejak muda ini mempunyai tiga orang anak dan berdagang secara bergantian dengan suaminya. Pada pagi sampai siang hari suaminya yang berdagang menjajakan bumbu masakan dan rempah-rempah, lalu dilanjutkan olehnya dari siang sampai sore hari. Meskipun sibuk berdagang, ia masih sempat untuk mengurus ketiga anaknya dan beres-beres rumah ketika sang suami sedang bergantian berdagang dengannya. Penghasilan Fetmianti dalam berdagang bumbu masak pun tak kalah menguntungkan dengan bekerja sebagai karyawan yang penuh tekanan. Hanya dari berdagang bumbu masakan dan rempah-rempah di pasar tradisonal, Fetmianti dapat mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya dan menyekolahkan anaknya. Bahkan saat ini, ia sudah mempunyai tiga orang anak buah yang siap bergantian membantunya berdagang selama 24 jam.

Berbeda dengan semua saudaranya yang rata-rata bekerja sebagai karyawan. Ia memilih untuk menjadi pedagang di pasar tradisional. Terlihat dari senyum sumringah di wajahnya bahwa ia sangat menikmati profesinya sebagai pedagang. Ia memang hobi berjualan meskipun sebelumnya sempat menjadi karyawan. Ia sedikit bercerita tentang pengalamannya saat menjadi buruh di salah satu pabrik di Tanjung Priuk. “Saya dulu pernah kerja jadi buruh pabrik di Tanjung Priuk. Rasanya gak enak. disuruh-suruh, salah dikit dimarahin, gaji kecil. Saya gak betah disuruh-suruh,” keluhnya. Berawal dari rasa ketidaknyamanan menjadi karyawan itulah yang membawa Fetmianti kini menjadi pedagang bumbu masak di Pasar Ciputat.

Menurutnya, berdagang di pasar tradisional itu menyenangkan karena dapat membuatnya berinteraksi langsung dengan banyak orang, baik dari kalangan masyarakat bawah sampai kalangan menengah ke atas. Pengunjungnya pun ramai. Fetmianti juga sudah akrab dengan keramaian dan hiruk pikuk pasar tradisional. Profesinya sebagai pedagang tidak membuatnya terikat dengan waktu dan peraturan seperti saat bekerja kantoran. Jarak rumah dengan pasar yang dekat menjadi alasan mengapa ia memilih untuk membuka lapak dagangan di Pasar Ciputat.

Berdagang di pasar tradisional memang tidak selamanya dapat berjalan mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi jika mau terus berjalan sukses dan berkembang. Misalnya, berdagang pasti akan mengalami pasang-surut dalam memperoleh keuntungan. Hal itu harus disikapi dengan sabar. Kegigihan saat masa surut sangat diperlukan untuk bertahan. Menurut Fetmianti, pasang surut dalam berdagang itu hal biasa dan pedagang juga tidak boleh iri karena rezeki itu Tuhan yang mengatur. “Pasang-surut harus kita terima. Yang penting kita selalu berdoa saja agar pelanggan kita ramai,” tuturnya. Naik-turunnya harga dari pusat dan keramaian pelanggan juga membuat keuntungan dalam berdagang tidak bisa tetap.

Sikap dalam melayani para pembeli juga diperhatikan. Seperti Fetmianti yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum tulusnya sambil melayani pembeli dengan ramah. Jika ada pembeli yang rewel, dia akan tetap sabar menghadapinya. “Kalau ada pembeli yang ngeselin saya senyum aja. Kalau ngadepin pembeli gak boleh marah-marah. Ya memang itu kuncinya. Kalau orang pemarah, gak bisa jadi pedagang,” imbuhnya. Pembeli juga biasanya mau barang dengan harga yang murah. Dalam menyikapi hal itu, Fetmianti mengutamakan berkomunikasi dan jujur terhadap pembeli soal naik atau turunnya harga dagangan dari pusat. Jujur dalam menyesuaikan harga itu penting agar para pembeli percaya dengan harga yang ditawarkan. Keramahan Fetmianti dalam berdagang terlihat ketika ia melayani seorang pembeli yang uangnya kurang dalam membayar dagangannya, “Ibu kayanya kurang deh uangnya. Kurang lima ratus,” tuturnya pada seorang pembeli. Lalu setelah ditambahkan kurangnya, Fetmianti berkata, “ini ya bu kembaliannya. Terima kasih.”

Jika bicara soal persaingan, sebenarnya Fetmianti tidak mau bersaing. Dia punya prinsip kalau barang dagangannya banyak dan kualitasnya bagus pasti ada saja orang yang mau beli dan yang penting tidak mematok harga yang terlalu mencekik agar punya banyak langganan. Namun dia menghimbau untuk para pedagang lainnya, jika ingin bersaing maka bersainglah dengan sehat. Selain itu, juga harus banyak bersyukur jika keuntungan yang diperoleh banyak maupun sedikit. Selain itu, Fetmianti juga biasa menghadapi orang pasar yang suka meminta iuran yang alasannya untuk kebersihan. “Sering diminta uang untuk kebersihan, ya saya kasih. Saya anggep itu sedekah. Lagi pula mereka meminta karena memang mereka orang gak mampu,” katanya. Menurut Fetmianti, berdagang di pasar tradisional itu juga harus berlapang dada karena di pasar pasti banyak pelanggan yang menawar harga dan meminta tambahan ini dan itu. “Anggep saja itu kesempatan buat bersedekah,” katanya.

Selain berhubungan baik dengan para pelanggan, Fetmianti juga berhubungan baik dengan para pedagang lainnya. Dia suka berbincang bersama di waktu senggang dan makan siang bersama. Kehangatan di pasar tradisional jadi lebih terasa dibandingkan pasar swalayan. Selalu terlihat semangat dengan raut kebahagiaan dari wajahnya. Fetmianti selalu memberikan pelayanan terbaiknya kepada para pelanggan dan terlihat menikmati aktifitasnya sebagai seorang ibu dan pedagang. Dia pun menegaskan bahwa ia benar-benar tidak tertarik lagi untuk menjadi karyawan meskipun ditawarkan jabatan dan gaji yang tinggi. [Nickie Almira/PNJ]

Comments

comments