Romantisme Puasa; Sahur Tempe Buka Ikan Asin

Ilustrasi. (Dok. Pribadi)

“Sebel deh, cowok gue gak romantis banget”’ begitu kata cewek ABG mengeluh.

Emang kalo romantis itu harusnya ngapain sih? Ngasih bunga gitu. Atau ngasih coklat sama cincin emas. Atau foto bareng biar kayak orang-orang. Ahh, itu mah romantisme yang sempit.

Emang sih, romantis itu artinya mesra; mengasyikkan. Dan biasanya ada hubungannya dengan cinta. Tapi romantis itu gak harus orang, gak harus manusianya. Suasana hati dan pikiran juga boleh kok romantis.

Seperti di bulan puasa yang penuh romantisme.

Sahur boleh menunya tempe. Dan buka puasa cuma pakai ikan asin. Tapi kalau cara-cara puasanya bersemangat, penuh gairah dan mengasyikkan seperti ulama. Itu sudah cukup jadi romantisme puasa.

Puasa itu romantis. Karena berpuasa dasarnya cinta. Cinta pada Illahi Rabbi, Sang Maha Pencipta. Hanya di bulan puasa, tiap manusia sering “tenggelam” dalam bujuk rayu Sang Ilahi. Dari subuh, hingga petang bahkan malam, selalu ingin bermesraan dengan-Nya. Suasana dan gairah yang sulit dilakukan pada bulan-bulan lain selain bulan puasa.

BACA JUGA:  Benarkah Bedong Dapat Meluruskan Kaki Bayi yang Bengkok?

Romantisme itu dianggap metode merayu yang memikat. Harus mampu menawan hati target-nya. Barat coklat dibikin sampe meleleh. Membuai hingga sang target terlena, bersandar di bahunya …

Begitu pula romantisme puasa.

Ini soal kemauan kita untuk bermesraan dengan-Nya. Keinginan manusia untuk selalu dekat dengan Sang Khalik yang mencipatkannya. Bersenggama tiada henti, untuk selalu menyebur asma-Nya. Begitu romantis, antara kita manusia dengan sang pencipta. Ada di bulan puasa.

Bukan sebaliknya, kita malah gagal menawan hati target-nya. Gagal mendekatkan diri kepada Sang Khalik di bulan puasa. Apalagi di bulan-bulan lainnya. Jika begitu, persis kita seperti “si raja gombal”. Mengaku mencintai-Nya, tapi di saat yang sama terlalu mudah melupakan-Nya.

Romantisme itu gak melulu soal rasa. Tapi juga harus punya sikap.

Sikap untuk tetap harmonis, menjaga keseimbangan. Karena gakk ada manusia yang sempurna. Jika ada kelebihan pasti ada kekuarangan. Jika ada suka pasti ada duka. Jika ada musim kering pasti ada musim subur. Saling mengisi, saling melengkapi. Itu baru romantisme.

BACA JUGA:  Indonesia Bebas TB, Mampukah Kita?

Persis, seperti di bulan puasa. Sebut saja “romantisme puasa”.

Pagi hingga sore kita menahan rasa lapar dan haus. Lalu tiba waktunya berbuka puasa. Di malam hari pun, khusyuk sholat tarawih dan tadarus Al Quran. Siang hari bekerja, malam hari ibadah. Sebelumnya tukang ngomong, kini menjadi tukang merenung. Tukang komen jadi tukang introspeksi diri. Itulah romantisme berpuasa. Mampu menahan diri, selalu ikhtiar menjaga keseimbangan.

Romantisme puasa.

Kemarin, mungkin kita punya catatan yang mengecewakan dan menyakitkan. Hidup penuh keluh kesah, kebencian hingga kemarahan. Biarkan itu semua ada di “kantong sebelah kiri yang berlubang”.

Sebaliknya, mungkin kita juga punya catatan indah dan menyenangkan. Menebar kebaikan, penuh toleransi, dan gemar berbuat baik. Maka biarkan pula semua itu ada di “kantong sebelah kanan yang tidak berlubang”.

Apa artinya romantisme puasa?

Sungguh tidak lain, Tentang pentingnya menyimpan semua yang baik dan indah dalam hidup kita di “saku yang tidak berlubang”. Agar tidak satupun yang baik hilang dari hidup kita. Romantisme puasa pun, menyuruh kita menaruh semua hal yang buruk dan menyakitkan di “saku yang berlubang”. Agar keburukan itu mudah jatuh dan hilang. Agar kita tidak perlu mengingatnya kembali.

BACA JUGA:  Pramuka Selangor Persembahkan Bintang Emas Bagi Andalan Pramuka Indonesia

Setiap manusia pasti punya romantika.

Maka bulan puasa pun pantas menjadi bulan romantika. Bulan suci untuk muhasabah diri; menghitung-hitung lebih banyak baiknya atau buruknya. Mulai dari pikiran, sikap, dan perilaku. Lebih sering baik atau buruk?

Romantisme puasa itu indah.

Bila kita mudah melupakan segala hal yang buruk dan menyakitkan. Bila kita gampang mengingat yang baik dan indah. Romantisme puasa itu hanya ada saat kita membuang jauh-jauh yang jelek dan mengingat sesering mungkin yang baik.

Karena romantisme puasa adalah bukti adanya ketenangan spiritual. Kesyahduan syahrul adzim, syahrul mubarak. Sungguh, sebuah jiwa yang tenang itu hanya datang dari kehidupan yang tenang. Marhaban Yaa Ramadhan, ciamikk !!

Ditulis oleh Syarifudin Yunus, Dosen Unindra

Comments

comments