Rahasia Dibalik Ibadah Setiap Waktu

Ilustrasi.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat adzaariyat ayat 56 yang artinya: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku.” Dari ayat tersebut kita dapat belajar bahwa Allah tidak menciptakan kita dengan asal-asalan. Ada maksud dan tujuanyang harus kita fahami yaitu bahwa kita hidup di dunia ini bukan utuk bersenang-senang atau bahkan bersantai saja, melainkan kita hidup di dunia ini untuk mencari bekal di kehidupan akhirat kelak. Sebagaimana yang dikatakan “dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat” dan diakhirat lah kita akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya, kekal selama-lamanya.

Ibadah secara bahasa dijelaskan oleh ibnu mandzur di dalam kitab mu’jamnya (lisanul ‘arabi) “ibadah secara bahasa bermakna ketaatan yang diiringi dengan ketundukan”. Adapun secara istilah para ulama menjelaskan makna ibadah dengan membaginya menjadi dua makna, ibadah secara umum dan ibadah secara khusus. Adapun makna ibadah secara umum sebagaimana disebutkan oleh syaikh muhammad bin shalih al- utsaimin adalah “tunduk dengan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala yang diiringi dengan perasaan cinta serta pengagungan terhadap Allah SWT., dengan cara melaksanakan setiap apa yang telah Allah SWT perintahkan. Antara lain, menjalankan rukun islam dengan penuh kesadaran dan konsisten disertai keimanan yang kuat dalam jiwa guna membangun kedekatan dengan Allah SWT., sehingga menjadi pribadi yang tangguh.

Rukun islam yang dijalankan dengan benar akan menjadi pondasi yang kokoh dalam dirinya sebagai seorang muslim. Yang kedua adalah niat yang ikhlas, hal ini penting karena syarat diterimanya ibadah yang kita kerjakan adalah keikhlasan. Ikhlas berarti menyerahkan diri kepada Allah dan hanya mengharapkan ridho-Nya. Segala sesuatu akan menjadi mudah jika kita melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Insan ayat 8-9 yang memiliki arti “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (sambil berkata) sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya karena mengharap ridho Allah, kami tidak berharap balasan dan terimakasih dari kamu.”

Perintah Allah yang ketiga adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW., yang keempat adalah membaca dan menghayati Al-Qur’an serta yang terakhir adalah menuntut ilmu.

Selain melaksanakan perintah Allah kita juga diharuskan untuk menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya, yang ( hal tersebut dilaksanakan) berdasarkan syariat yang telah Allah SWT. turunkan, dan perlu ditegaskan disini bahwa tujuan Allah melarang kita adalah lantaran Allah menyayangi hamba-Nya, karena pasti ada kemudhartan yang tidak kita ketahui jika kita melanggar perintahnya.

Dan diantara hal-hal yang dilarang oleh Allah antara lain melakukan kemusyrikan. Musyrik berasal dari kata Syirk yang berarti perbuatan menyekutukan Allah SWT. Dalam konteks ibadah ada dua jenis kemusyrikan, yaitu syirik kecil dan syirik besar. Syirik kecil adalah setiap perbuatan yang bisa mengarah pada syirik besar, seperti bersumpah pada selain Allah, berbuat baik dengan disertai perasaan riya atau ingin dipuji.

Sementara yang dimaksud dengan syirik besar adalah beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa waspada karena tanpa disadari ada hal-hal yang dapat mendekatkan kita kepada perbuatan kemusyrikan. Dan harus senantiasa mengingat bahwa syirik merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT., sebagaimana yang terdapat dalam Qur’an surat An-nisa ayat 48 yang artinya “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaku-N.ya…” .

Sedangkan makna ibadah secara khusus syaikh muhammad menukilkannya dari ungkapan syaikhhul islam ibnu Taimiyah, yakni “ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup seluruh apa-apa yang dicintai serta di ridhoi oleh Allah Ta’ala, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan yang terlihat ataupun yang ada didalam hati seperti rasa takut, tawakal, shalat, zakat, puasa dan hal-hal lain yang termasuk kedalam syariat agama islam.

Oleh : Elmira Putri, STEI SEBI

Comments

comments