Pentingnya Zakat Untuk Kebaikan Bersama

Dari segi bahasa, kata Zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari Zakaa yag berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zakaa berarti sesuatu itu tumbuh dan berkembang. kata zakaa, menjadi kata “zakat”, yakni sesuatu yang dikeluarkan oleh manusia dari sebagian hak Alloh SWT, untuk disalurkan kepada fakir miskin. Karena didalam zakat ada harapan mendapat berkah atau membersihkan jiwa atau menumbuhkannya.

Zakat menurut syara’ adalah memberikan (menyerahkan) sebagian harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan syara’ dengan niat karena Alloh.

Hukum zakat itu sendiri adalah wajib. Zakat adalah sebuah kewajiban individu (fardhu ‘ain) yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim yang memiliki harta tertentu.

Namun dalam pengelolaannya Zakat ini tidak bisa dilakukan oleh individu ke individu tetapi perlu adanya sekelompok orang yang bertugas, yang memiliki sifat jujur, amanah, terbuka, dan profesional untuk mengelolanya biasanya disebut Amil zakat. Para ulama fiqih memasukkan ibadah zakat sebagai qadla’iy (ibadah yang jika tidak dilaksanakan, ada hak orang lain yang terambil), bukan ibadah dayyaniy (ibadah yang jika tidak dilaksanakan tidak ada hak orang lain yang terambil), seperti sholat, puasa dan haji. Oleh karenanya pelaksanaan zakat tidak bisa dilakukan secara individual agar dalam penggunaanya lebih efisiensi, efektif dan tepat sasaran menurut skala prioritas yang ada di suatu tempat selain itu juga agar menjaga perasaan rendah diri para mustahiq apabila berhadapan langsung untuk menerima haknya dari para muzakki (pemberi zakat). Sebagaimana pada zaman Rosululloh dan khulafaurraasyidin, pengelolaan zakat menjadi tugas dan tanggung jawab penguasa, bukan masyarakat secara perseorangan. Sebagaimana firmanNya

” Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka.Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah SWT Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” {QS. At-Taubah :103}

Dalam konteks zakat disini dapat dilihat dari dua sisi, yakni dari sisi sebagai muzakki dan mustahiq, dimana seorang muzakki sendiri tidak perlu merasa takut kekurangan harta ketika mengeluarkan sebagian hartanya, karena sejatinya hal tersebut adalah untuk membersihkan dan mensucikan hartanya maupun dirinya, sehingga terhindar dari sifat kikir dan sifat tercela lainnya. Allah SWT pun menjanjikan bagi siapa saja yang mengeluarkan hartanya dalam bentuk zakat, infaq, maupun shodaqoh, akan diberi ganjaran yang berlipat, tidak hanya di akhirat melainkan juga di dunia.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh Ayat 261)

Dan Rosululloh SAW bersabda: “Tidak akan berkurang harta karena bersedekah, dan tidak akan dizholimi seseorang dengan kezholiman lalu ia bersabar atasnya, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seorang hamba membuka jalan keluar untuk suatu permasalahan kecuali Allah akan membebaskannya dari pintu kemiskinan atau semisalnya. (H.R. Tirmidzi).

Adapun orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya maka Allah mengancamnya dengan siksaan yang pedih, sebagaimana firman Allah SWT didalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 34-35 yang artinya:

“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Alloh, peringatkanlah mereka tentang adzab yang pedih. Pada hari emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu dibakar dengannya dahi-dahi mereka, rusuk-rusuk, dan punggung, dan dikatakan kepada mereka, “Inilah kekayaan yang kalian timbun dahulu, rasakanlah oleh kalian kekayaan yang kalian simpan itu.” (Q.S. At-Taubah ayat 34-35).

Kemudian jika dilihat dari sisi mustahiq, zakat yang diberikan secara terprogram kepada mustahiq, akan bisa mengembangkan harta yang dimilikinya, bahkan akan mampu mengubah kondisi seseorang yang asalnya mustahiq menjadi muzakki. Dan orang-orang yang berhak menerima zakat pun sudah Allah SWT tetapkan didalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 yang artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus zakat (amilin), para mu’allaf yang dilunakan hatinya, untuk (memerdekakan) hamba sahaya, Orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S At-Taubah: 60)

Dari ayat tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa mustahiq zakat itu ada 8 ashnaf (bagian). Yaitu sebagai berikut:

1. Fakir

Fakir ialah orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan primer (kebutuhan sehari-hari) karena tidak bisa usaha (tidak punya penghasilan).

2. Miskin

Miskin ialah orang yang bisa usaha tapi tidak mencukupi kebutuhan primer (kebutuhan sehari-hari).

3. Amilin

Amilin ialah orang yang diangkat oleh pemimpin untuk menggarap tugas-tugas pemungutan, pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran harta zakat. Adapun pengelolaan zakat menurut UU No.38 tahun 1999, adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pensistribusian serta pendayagunaan zakat”. Sedangkan orang yang berwenang untuk mengelola zakat adalah Badan Amil Zakat (BZA) yang dibentuk oleh pemerintah dah lembaga amil zakat (LAZ) bentukan masyarakat. Pihak amil zakat harus orang yang:

a) muslim,
b) laki-laki,
c) jujur, dan
d) mengetahui hukum zakat.

4. Muallaf

Muallaf ialah orang yang dilunakkan hatinya untuk kepentingan islam dan kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang yang lemah niatnya untuk memeluk islam. Mereka diberi bagian zakat agar kuat niatnya dalam memeluk islam.

5. Riqob

Riqob adalah membebaskan/memerdekakan hamba sahaya dari perhambaannya sehingga ia lepas dari ikatan dengan tuannya.

6. Ghorimin

Ghorimin adalah orang-orang yang tenggelam dalam utang dan tidak mampu membayar. Utang tersebut bukan untuk maksiat, penghamburan, atau karena kebodohan, belum dewasa, dll. Jika utang itu dilakukannya untuk kepentingannya sendiri, dia tidak berhak mendapatkan bagian dari zakat kecuali dia adalah orang yang diangggap fakir. Tetapi jika utang itu untuk kepentingan orang banyak yang berada dibawah tanggung jawabnya, untuk menebus denda pembunuhan atau menghilangkan barang orang lain, dia boleh diberi bagian zakat, meskipun sebenarnya dia itu kaya.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa “orang yang berutang adalah orang yang betul-betul memiliki utang dan tidak memiliki apa-apa selain utangnya itu”. Dan mazhab maliki mengatakan “orang yang berutang adalah orang yang benar-benar dililit utang sehingga dia tidak bisa melunasi utangnya”. Dan utang itu tidak dipakai untuk melakukan maksiat, seperti minum khamar dan judi.

7. Fii Sabiilillah

Fii sabiilillah adalah kemaslahatan umum kaum muslimin yang dengan zakat itu berdiri islam dan daulahnya dan bukan untuk kepentingan pribadi. Namun menurut para ulama modern mengartikannya mereka yang mengangkat pena, menuntut ilmu untuk mengibarkan panji agama di muka bumi ini sebagai bentuk jihad.

8. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang yang kehabisan ongkos di perjalanan dan tidak bisa mempergunakan hartanya.

Dalam kategorinya zakat dibagi menjadi 2, yakni zakat fitrah dan zakat maal

1. Zakat Fitrah adalah zakat al-nufus (zakat jiwa). Dimana setiap muslim mukallaf (orang yang dibebani kewajiban oleh Alloh) wajib mengeluarkan sebagian dari makanan pokok menurut ukuran yang ditentukan oleh agama, yang akan didistribusikan sebelum sholat iedul fitri, baik untuk untuk dirinya sendiri dan juga untuk setiap jiwa yang menjadi tanggungannya. Besar jumlah yang harus dikeluarkan ialah 1 sha’ atau sekira 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan. Selain makanan pokok, zakat fitrah pun dapat diberikan dalam bentuk uang yang setara dengan harga bahan pokok tersebut.

Dijelaskan oleh Abi Said Al-Khudri: “Kami mengeluarkan (zakat fitrah) di zaman Rasulullah saw pada yaum al-fithr satu sha (2,5 kilogram atau 3,5 liter) dari makanan.” (Hadits Riwayat Bukhari).

2. Zakat maal atau zakat harta terdiri dari beberapa macam, yaitu:

• Zakat Emas, Perak, dan Uang

Zakat ini hukum nya wajib seperti firman Allah dalam qur’an surat At-Taubah ayat 34-35
“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Alloh, peringatkanlah mereka tentang adzab yang pedih. Pada hari emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu dibakar dengannya dahi-dahi mereka, rusuk-rusuk, dan punggung, dan dikatakan kepada mereka, “Inilah kekayaan yang kalian timbun dahulu, rasakanlah oleh kalian kekayaan yang kalian simpan itu.” (Q.S. At-Taubah ayat 34-35) . Orang yang mempunyai emas wajib mengeluarkan zakat ketika sudah sampai pada nishabnya, Nishab emas sebesar 20 dinar (90 gram), nishab perak sebesar 200 dirham (600 gram), dan kadar zakatnya sebanyak 2,5%. Dan zakat ini dikeluarkan ketika sudah mencapai haul (setahun sekali), maksudnya ketika seseorang mempunyai emas yang sudah mencapai nashab (90 gram) dan disimpan atau dipunyai selama satu tahun, maka wajib mengeluarkan zakat.

• Zakat Ziro’ah (pertanian/segala macam hasil bumi)

Yaitu zakat dari pertanian seperti beras, jagung, gandum, buah-buahan, dan sebagainya. Zakat ini wajib seperti yang dijelaskan Alloh SWT dalam quran surat Al-An’am ayat 141 yang artinya:

“Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” {QS. Al An’am : 141}

• Zakat Rikaz (harta temuan/harta karun)

Yang dimaksud rikaz adalah harta (barang temuan) yang sering dikenal dengan istilah harta karun. Tidak ada nishab dan haul, besar zakatnya 20%.

• Zakat Binatang Ternak

Orang yang memelihara hewan ternak wajib mengeluarkan zakatnya. Seperti unta, sapi, kerbau, domba, dan kambing.

• Zakat Tizaroh (perdagangan)

Ketentuan zakat ini adalah tidak ada nishab, diambil dari modal (harga beli), dihitung dari harga barang yang terjual sebesar 2,5%.

Dari uraian dan penjelasan diatas mengenai zakat maka dapat kita pahami bahwa zakat adalah suatu ketetapan Allah yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam. Tentunya dibalik setiap ketetapanNya pasti ada maksud dan tujuan yang Allah berikan untuk kemashlahatan umat. Dalam zakat sendiri terdapat tujuan yang bisa kita ambil hikmahnya yang membuat hal tersebut menjadi sangat penting dan wajib bagi kaum muslim, yakni :

1. Wujud keimanan dan kecintaan terhadap Allah Swt
Zakat bukan membuat kita untuk merasa diri dermawan tetapi zakat merupakan wujud keimanan dan kecintaan seorang muslim terhadap Allah SWT. Islam telah mengajarkan umatnya untuk menunaikan zakat dan menjauhi riba. Seperti tersebut dalam ayat Al-Quran. Melaksanakan yang diperintahkan dalam Al-Quran berarti sebuah wujud keimanan dan kecintaan umatnya terhadap Allah Swt.

2. Wujud rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah Swt
Sudah tentu Allah Swt niscaya memberikan rezeki bagi umatnya. Sebagai tanda rasa syukur dengan memberikan zakatnya bagi orang-orang nan membutuhkan.

3. Menjauhkan diri dari sifat kikir dan pelit
Dengan mengeluarkan zakat, sama halnya dengan kita menjauhi sifat kikir atau pelit, dan membuat kita tidak sombong atas penghasilan yang di dapat, karena semuanya adalah titipan dari Allah SWT. Sehingga adanya zakat bisa menjadi pembiasaan untuk diri kita agar senantiasa memberi dan bersedekah.

4. Dilipatgandakan
Ini sudah menjadi janji Allah Swt didalam Al-Quran. Sudah seharusnya kita yakin dan percaya, karena setiap harta yang kita keluarkan tidaklah membuat diri menjadi miskin tetapi justru Allah berikan kembali balasan yang berlipat ganda, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

5. Memakmurkan masyarakat
Dengan zakat berarti kita turut serta dalam memakmurkan masyarakat. Sekarang ini, banyak sekali hasil dari aktivitas berzakat yang digunakan secara maksimal oleh forum zakat. Misalnya untuk biaya pendidikan orang-orang tak mampu,usaha kerja, atau melalui proyek-proyek pemberdayaan masyarakat seperti kursus-kursus singkat.

Dengan demikian, masyarakat dapat mengenyam pendidikan cukup dan juga punya keahlian sehingga dapat berjuang dalam kehidupan keseharian mereka. Menuju kehidupan yang lebih baik serta makmur sehingga dapat mengatasi kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Demikianlah penjelasan mengenai urgensi zakat, semoga kita semakin semangat dalam berzakat sebagai wujud kecintaan kepadaNya dan demi kemashlahatan bersama. Aamiin.
[Mariam Ulfa Puspita]

Comments

comments