Peluncuran Kemitraan Filantropi Untuk Korban Travel Umroh

JAKARTA – Sejak bulan Mei 2017 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima pengaduan lebih dari 22.000 konsumen yang gagal berangkat umroh dari berbagai travel umroh. Diperkirakan ada ribuan orang konsumen yang gagal berangkat, tapi enggan mengadu atau melapor. Sebagian dari mereka juga adalah kaum dhuafa yang berusaha untuk menunaikan ibadah umroh dengan menabung selama puluhan tahun dan menjual asetnya. Kegagalan mereka berangkat umroh ternyata berdampak pada kondisi psikologis, ekonomi dan kesehatan mereka.

Menyikapi kondisi memperihatinkan ribuan calon jamaah umroh tersebut, YLKI dan Filantropi Indonesia berkolaborasi dengan Rumah Zakat, Dompet Dhuafa dan FOZ (Forum Zakat, yang beranggotakan lebih dari 253 LAZ di seluruh Indonesia) meluncurkan “Kemitraan Filantropi Konsumen Umroh”. Kemitraan ini bertujuan untuk menggalang dukungan bagi calon jamaah travel umroh yang gagal berangkat ke tanah suci.

BACA JUGA:  Kota Depok Boyong 61 Medali di Porda Jabar 2018

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, kemitraan tersebut terbangun untuk menyikapi kondisi memperihatinkan ribuan calon jamaah umroh yang gagal berangkat ke mekkah. YLKI, mencatat, sudah menerima 22.600 pengaduan dan laporan korban travel umrah yang batal ke tanah suci.

“Kolaborasi ini bukan untuk menggantikan peran negara. Tapi untuk memberikan pembelajaran pada konsumen agar tidak terjebak masalah yang sama di tengah orang-orang yang tidak paham akan proses perdataan korban ini,” ujar Tulus.

Sabeth Abilawa, Direktur Program Dompet Dhuafa mengatakan, melalui kemitraan ini diharapkan kegiatan filantropi yang tengah berkembang di Indonesia bisa diarahkan. Guna mendukung program-program strategis dan mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Kirim 30 Ton Paket Superqurban dan 15 Truk Bantuan Logistik untuk Palu - Donggala

“Seperti tragedy kemanusiaan yang dihadapi ribuan konsumen korban travel umroh ini, diharapkan jadi contoh model kerja sama antar lembaga filantropi dan organisasi masyarakat sipil terhadap masalah yang terjadi,” ujar Sabeth. (Hana)

Comments

comments