Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri

Setinggi apapun jabatan kita di perusahaan, kita tetap karyawan. Tapi sekecil apapun usaha kita, kita adalah bosnya, meskipun saat ini masih dalam proses. Begitulah yang diyakini sosok pedagang muda bernama Antry Sipayung.

Antry yang pernah berkuliah di salah satu universitas Amik Multicom di Medan, membiayai sendiri kebutuhan kuliahnya, ia memilih untuk kuliah sambil bekerja, berjualan tidak pernah difikirkan olehnya, namun karena ingin menambah uang jajan saat kuliah maka ia harus bekerja dengan cara berjualan.

Setelah ia lulus mendapatkan gelar Sarjana ia bekerja di sebuah bank, tetapi karena prinsip hidupnya bahwa ia tidak mau menjadi bawahan tetapi ia ingin memimpin suatu usaha sekecil apapun usaha tersebut.

Setiap orang yang baru memulai sebuah bisnis pasti pernah mengalami masa-masa buruk. Mental yang menurun, keinginan untuk berhenti tinggi, merasa gagal terus dan sebagainya.  Apalagi dizaman sekarang jualan sudah banyak secara online sehingga pembeli konvensional lebih sedikit. Walaupun sudah memiliki pengalaman, awal-awal usaha tidak langsung menuai hasil.

Antry pernah suatu waktu mengalami kegagalan dua kali, karena berambisius dan akhirnya menjadi tertitpu dan mengakibatkan kerugian, masalah tersebut tidak membuat ia menjadi tidak ingin bekerja lagi, hal tersebut ia jadikan pelajaran dan  usaha untuk maju untuk memperoleh yang lebih baik lagi.

Walau sempat mengalami masalah ditahun 2016 tetapi ia tetap berjuang dan tahun 2017 ia memilih merantau ke Ibu Kota untuk memulai hidup baru dan memutuskan untuk berjualan.

Pagi hari, Antry sudah berada di pasar lenteng, sebelum berjualan ia mencari tempat halaman kios yang kosong, Ia berjualan sampai siang tiap harinya, dengan sabar ia menunggu pembeli sembari memanggil pembeli agar datang ke tempat jualannya ” baju, tas, celananya Buk”

Disore harinya ia lanjut berjualan di depan museum Bank Indonesia, Jakarta Kota. Tanpa kenal lelah ia membawa barang dagangannya sambil menggendong anaknya yang saat itu berumur 4 tahun menaiki kereta menuju Jakarta.

Antry mengatakan pendapatan dari hasil jualannya sangat untung ketika diawal bulan karena pembeli diawal bulan sangat ramai sehingga barang jualan yang ia bawa cepat habis sehingga lebih cepat pulang kerumah, tetapi jika di pertengahan bulan hanya sedikit saja pembeli yang membeli barang dagangannya sehingga untungnya lebih sedikit.

Dengan menggunakan topi dan tas kecil itulah ciri khas Antry sambil menjual barang dagangannya.

Usaha berjualan sudah ia jiwai dari sejak orangtuanya bekerja berdagang dan sejak tamat kuliah, Ia berjualan pakaian, dompet, tas dan aksesoris perempuan, Antry mengatakan apa yang dapat ia jual maka akan ia jual, seperti dulu ia pernah berjualan pop ice dan gorengan tapi ia lebih menyukai jualan fashion wanita.

Meskipun suaminya bekerja gaji suaminya pas-pasan apalagi tinggal di Jakarta, cicilan kredit rumah juga masih berjalan, terkadang jika suaminya sedang libur dan masuk siang suaminya ikut berjualan bersama untuk membantu istrinya.

Berkat usaha dan kerja kerasnya, Antry telah mengontrak kios berukuran 2 X 2.5 meter di jalan delima Yonzikon 13, ia berjualan dikios tersebut dari jam 12 siang hingga jam 9 malam, sedangkan jam 6 pagi ia masih tetap berjualan di pasar lenteng.

Antry mengatakan Apa yang dicontohkan orang tua mengenai kedispilinan dan kerja keras sangat bermanfaat dalam membentuk jiwa wirausaha dan hasilnya dapat antry rasakan. Ia memang tidak sendiri, tetapi seluruh anggota keluarga juga turut membantunya. [Debora Yunita Silaban/PNJ]

Comments

comments