Kisah Kakek Penjual Aksesoris

Usianya sudah tidak lagi muda, ia selalu ramah kepada pembeli yang menghampirinya, walaupun hasil dari dagangan aksesorisnya pas-pasan, ia tetap bersyukur dari hasil yang ia dapat.

Pagi yang akan menjelang siang saat itu, masih terjadi interaksi antara penjual dan pembeli di Pasar Bojonggede yang berada dekat dengan Stasiun KRL Bojonggede walaupun tidak seramai saat pagi hari, masih banyak para pedagang yang bertahan walau cuacanya sangat panas saat itu.

Salah satu dari pedagang yang tetap bertahan adalah seorang lansia yang duduk berjualan disana. Ia menjual berbagai aksesoris, mainan dan beberapa perabotan rumah tangga. Sejak pagi hingga siang tengah hari ia tetap duduk disitu. Kakek itu ramah menyapa para pembeli yang menghampirinya meskipun akhirnya ada diantara mereka yang tidak jadi membeli barang dagangannya, ia tidak merasa kesal sama sekali dan tetap tersenyum.

Namanya Aji Abdilah biasa dipanggil Pak Aji, jauh-jauh ia datang dari Cilebut ke Pasar Bojonggede untuk mencukupi keberlangsungan hidupnya. Pak Aji mengakui bahwa ia tinggal sendiri dirumahnya. Istrinya sudah meninggal sejak tahun 2013, ia memiliki lima anak akan tetapi semua anaknya sudah berumah tangga dan tidak tinggal bersamanya lagi, “Saya punya anak lima tapi sudah berumah tangga semua, mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Kalau dibilang kangen sih ya saya kangen sama mereka,” ujarnya.

Bukan hanya menjual berbagai aksesoris saja kegiatannya, tetapi ia juga aktif dalam mengajar sebagai guru agama di Majelis Taklim Ass Saffat yang berada di tempat ia tinggal. “Saya ngajar di Majelis Taklim di kampung saya. Saya ngajar anak-anak itu agama,” ujar Pak Aji.

Penghasilan yang ia dapat dari menjual aksesorisnya pun tak menentu, jika ia merasa beruntung terkadang dagangannya ramai dan terkadang juga dagangannya sepi walaupun penghasilannya yang pas-pasan ia tetap mensyukuri rezeki yang ia dapat dari berdagang aksesoris tersebut, ia mengakui bahwa itu semua cukup untuk kebutuhannya hidupnya sendiri. “Kalo untuk sendiri mah cukup, buat makan buat bayar listrik Insya Allah cukup, Syukuri sajalah yang kita dapat.” [Atiyyah Rahma/PNJ]

Comments

comments