Kebijakan Moneter dalam Permintaan Agregat

Ilustrasi. (Istimewa)

Pada dasarnya titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran tidak melulu bicara tentang ekuilibrium. Karena bisa saja efek yang diterima malah kebalikannya. Dimana titik permintaan lebih tinggi ketimbang penawaran atau sebaliknya itu tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Dalam buku Principle of Macroeconomics third edition karangan N. Gregory Mankiw dikatakan bahwa yang memengaruhi permintaan agregat ada tiga macam, yakni:

  • Efek kekayaan : dimana tingkat konsumsi masyarakat akan bersinggungan langsung dengan penghasilan masyarakat itu sendiri. Semakin tercukupinya kebutuhan masyarkat dengan kemampuan daya beli yang semakin tinggi, maka akan meningkatkan pula permintaan di pasar.
  • Efek tingkat bunga : ini berhubungan dengan simpan pinjam dan obligasi. Bagaimana caranya seseorang mampu mengembangkan aset yang ia miliki dengan cara paling mudah. Pilihannya jika ia tidak berinvestasi maka dia menggunakan uangnya untuk berbisnis. Tindakan lama yang masih sering dipakai orang kebanyakan saat ini adalah dengan menaikkan suku bunga. Maka dengan senang hati masyarakat akan berbondong-bondong menyimpan uang mereka ke bank atau bahkan membeli obligasi dengan harapan uang mereka akan berkembang jumlahnya.
  • Efek nilai tukar : ini berlaku untuk semua negara yang berpacu pada mata uang central. Masih berkaitan dengan suku bunga. Jika dalam suatu negara suku bunga nya diturunkan, maka para investor akan lebih memilih berinvestasi di luar negeri. Itu dianggap akan lebih menguntungkan mereka. Dan dampaknya bagi negara yang biasanya pemasukan dari investasi tersebut ketika secara signifikan pemasukan itu hilang. Dan membuat mata uang terdepresiasi relatif oleh mata uang asing. Sehingga, barang-barang domestik akan lebih murah ketimbang barang pesaingnya. Ini akan menimbulkan masalah baru, yakni akan meningkatkan impor barang secara masif yang berimbas pada matinya barang domestik jika pemerintah salah kaprah dalam mengambil kebijakan.

Karena buku karangan N. Gregory Mankiw berlatarbelakang AS maka yang ia pandang adalah masalah seputar AS. Ia berpandangan bahwa dari ketiga faktor diatas yang amat memengaruhi permintaan agregat adalah efek tingkat bunga. Jelas, sangat relevan. Seperti yang sudah kita ketahui Ibu-Ibu disana lebih tertarik bermain saham ketimbang bermain dengan arisan. Saham yang berbasis bukan syariah sangat bersahabat dengan suku bunga itu sendiri. Tak heran, ketika dollar anjlok pada waktu itu membuat para wanita wanita seakan gila bahkan gila sungguhan pada waktu itu. Bagaimana tidak, uang yang selama ini mereka upayakan itu dimaksimalkan untuk investasi ke saham dengan iming iming suku bunga itu sendiri. Bisa dikatakan kebahagiaan mereka bisa digadaikan dengan nilai suku bunga yang ada.

Ini bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua, melihat kondisi kita yang berada di Indonesia juga masih condong ke tingkat suku bunga yang ada. Namun jika kita lihat dari ketiga faktor diatas yang lebih memengaruhi permintaan agregat akibat kebijakan moneter adalah terletak pada nilai tukar.

Namun jika kita hubungkan dengan teori maka tidak jauh pula antara faktor yang memengaruhi di Indonesia ataupun AS.

Dalam kurva permintaan agregat yang bergeser akibat kebijakan moneter dilihat dari tingkat suku bunga yang dikaji dengan teori preferensi likuidasi memperluas pemahaman kita dengan fluktuasi ekonomi jangka pendek.

Tingkat bunga nominal adalah tingkat suku bunga seperti biasanya dilaporkan, dan tingkat bunga riil adalah tingkat bunga yang dikoreksi untuk efek inflasi. Tingkat manakah yang sekarang ingin kita jelaskan? Jawabannya keduanya. Dalam analisis berikut, kami mempertahankan laju inflasi yang diharapkan. (Asumsi ini adalah wajar untuk mempelajari ekonomi dalam jangka pendek, seperti yang kita lakukan sekarang). Jadi, ketika tingkat bunga nominal naik atau turun, tingkat bunga riil yang diharapkan orang untuk naik atau turun juga.

Ada tiga fokus kita yakni penawaran uang, permintaan uang, dan ekuilibrium harga pasar.

“Sejauh ini kami telah menggunakan teori preferensi likuiditas untuk menjelaskan secara lebih lengkap bagaimana jumlah total barang dan jasa yang diminta dalam ekonomi berubah ketika tingkat harga berubah. Artinya, kami telah memeriksa pergerakan sepanjang kurva permintaan-agregat ke bawah. Teori ini juga menyoroti beberapa peristiwa lain yang mengubah jumlah barang dan jasa yang diminta. Ketika kuantitas barang dan jasa menuntut perubahan untuk tingkat harga tertentu, kurva permintaan agregat bergeser.

Bagaimana pengaruh Federal Reserve terhadap ekonomi? Diskusi kami di sini dan yang lebih awal dalam buku ini telah memperlakukan persediaan uang sebagai instrumen kebijakan Fed. Ketika Fed membeli obligasi pemerintah dalam operasi pasar terbuka, Fed meningkatkan jumlah uang beredar dan memperluas permintaan agregat. Ketika Fed menjual obligasi pemerintah dalam operasi pasar terbuka, Fed mengurangi jumlah uang beredar dan memenuhi permintaan agregat. Seringkali diskusi tentang kebijakan Fed memperlakukan tingkat bunga, daripada jumlah uang beredar, sebagai instrumen kebijakan Fed.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir, Federal Reserve telah melakukan kebijakan dengan menetapkan target untuk tingkat dana federal — suku bunga yang dibebankan bank satu sama lain untuk pinjaman jangka pendek. Target ini dievaluasi kembali setiap enam minggu pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). FOMC telah memilih untuk menetapkan target untuk tingkat dana federal (bukan untuk jumlah uang beredar, seperti yang telah dilakukan pada waktu di masa lalu) sebagian karena uangnya sulit diukur dengan ketepatan yang cukup.

Keputusan Fed untuk menargetkan tingkat bunga tidak mengubah analisis kebijakan moneter kami secara fundamental. Teori preferensi likuiditas mengilustrasikan prinsip penting: Kebijakan moneter dapat dijelaskan baik dalam hal uang yang tersedia atau dalam hal tingkat bunga.” Dikutip dalam PDF Pinciples of macroeconomics third edition karangan N. Gregory Mankiw. Dimana persediaan uang dalam perekonomian AS dikendalikan oleh Federal Reserve atau di sebut The Fed. [Putri Meilani/STEI SEBI]

Comments

comments