Keberhasilan si Tukang Kunci

Persimpangan yang menghubungkan jalan Anyelir I dan jalan Nusantara Raya, Depok tampak begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Siang itu teriknya mentari terasa cukup menyengat, angin berhembus membawa debu jalanan.

Beberapa pedagang kaki lima menjajakan dagangannya sepanjang trotoar. Sama halnya dengan Masril Ameh, yang juga berjualan di persimpangan jalan. Tetap setia menanti pelanggan sambil duduk di samping gerobak birunya yang berjarak 20 meter dari Pasar Depok Jaya.

Pria kelahiran Minangkabau itu berprofesi sebagai ahli kunci. Keterampilan yang di tekuni sejak sepuluh tahun silam membuatnya begitu lihai. Setiap kunci yang berhasil ia duplikasi di bandrol dengan kisaran harga dua belas ribu rupiah.

Berdagang di trotoar memang memang melanggar hukum dan berisiko bagi keselamatan serta kenyamanan semua orang. Sehingga Masril sempat berurusan dengan satuan polisi pamong praja (satpol PP). “Dulu pernah tapi sekarang udah enggak, aman aman aja” ujar Masril ambil mengukir kunci.

Bukti keberhasilan

Namun, siapa sangka dengan dua buah mesin, satu set alat ukur dan kerja kerasnya selama ini, Masril berhasil menguliahkan kedua anaknya. “Anak saya juga sudah semester enam, satunya lagi sudah lulus kuliahnya” katanya dengan wajah berseri.

Orang tua mana yang tidak bangga ketika melihat kesuksesan anak anaknya. Si bungsu kini semester enam jurusan ilmu komputer di universitas Gunadarma. Sedangkan si sulung sudah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di Padang.

Dengan penghasilannya yang tak menentu, pasti bukan hal yang mudah bagi Masril untuk menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan kedua anaknya. Mengingat untuk bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tapi pria yang lahir tahun 70an itu sudah membuktikan keberhasilannya. (Ihda Nadaroh/PNJ)

Comments

comments