Industri Perbankan di Era Globalisasi

Di era globalisasi ini, teknologi digital menjadi tren dan perhatian dalam industri perbankan dan layanan keuangan. Muncul inovasi teknologi baru berupa platform berbasis Cloud (mobile-based electronic wallet) dan Blockchain (teknologi basis data terdistribusi) yang diadopsi oleh perusahaan dengan lini bisnis teknologi keuangan (fintech) dan perusahaan telekomunikasi dalam rangka memberikan layanan keuangan yang lebih mudah bagi masyarakat. Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh PWC pada tahun 2017 terhadap industri perbankan dan layanan keuangan di 46 negara, mayoritas dari perusahaan tersebut mengakui pentingnya penggunaan teknologi baru ini. Hal tersebut dikarenakan manfaat dan kemudahan yang ditawarkan melalui teknogi keuangan (fintech).

Penguasaan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi terkini menjadi modal bersaing dalam industri perbankan. Secara internal, penguasaan teknologi mendukung kegiatan operasional perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien, karena dapat menyederhanakan, mempermudah, dan mengontrol proses dengan sumber daya manusia yang terbatas. Dengan teknologi, sebuah bank mampu mempersingkat proses pengajuan aplikasi kredit, sehingga kredit dan fasilitas yang telah dijanjikan juga segera dapat dinikmati oleh nasabah. Selain itu, kualitas layanan yang diberikan kepada konsumen dapat lebih baik, mulai dari memindahkan data dari formulir aplikasi ke dalam sistem (data entry), analisis data calon nasabah (credit analysis), hingga card delivery.

Penurunan biaya operasional dapat tercapai sampai dengan 60% per aplikasi. Teknologi dalam sistem manajemen informasi juga akan mempermudah bank dalam menyimpan, merekam, dan menganalisa data nasabah, sehingga membantu bank dalam menjaga hubungan konsumen, mengatasi keluhan konsumen dengan lebih baik, dan mengembangkan produk/layanan yang lebih sesuai bagi konsumen. Oleh karena itu, saat ini muncul beragam jenis kredit dengan fitur dan fasilitas yang berbeda yang mewakili interest dan gaya hidup dari segmen pasarnya.

Perkembangan teknologi telah terbukti melibas banyak sektor terutama bagi mereka yang tak berinovasi mengikuti perkembangan. Di sektor jasa keuangan seperti perbankan, pergeseran dari generasi X ke generasi Y (milenial) bahkan generasi Z menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Ada yang perlu diperhatikan perbankan hari ini,” kata Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo dalam acara peluncuran Indonesia Banking Expo 2017 di Griya Perbanas (24/8). “Sekarang tengah ada dua generasi yang membutuhkan pendekatan berbeda. Satunya generasi kita-kita ini (generasi X), dan generasi Milenial (Y) yang lebih muda. Kalau kita kan terbiasa dengan cara-cara bank konvensional, sementara generasi mereka bahkan enggak pernah pegang buku tabungan, karena terbiasa dengan e-money,” tambahnya,

Perbedaan tabiat antar-generasi ini jadi tantangan penting yang harus dijawab perbankan Indonesia. Jika perbankan Indonesia tidak meningkatkan kualitas dan kuantitas nya, maka beberapa tahun kemudian tidak mustahil perbankan indonesia akan tertinggal jauh oleh teknologi keuangan ini. Laba bersih perbankan Indonesia sepanjang semester I-2017 memang membaik dari periode sama tahun lalu. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut angkanya mencapai Rp65,7 triliun, atau tumbuh 20,28 persen. Pada semester I-2016, labanya memang hanya tumbuh 7,43 persen.

Akan tetapi, sekarang fintech terus berkembang. Terutama di luar Indonesia. Bank di luar juga sudah mulai mengimbangi. Di Indonesia sendiri harus diakui fintech belum terlalu berkembang, hal ini disebabkan masih banyak bank yang belum bisa menghadapi perubahan teknologi ini. Pertumbuhan fintech tak main-main. OJK mencatat, ada 135 fintech telah beroperasi hingga Desember tahun lalu. Jumlahnya meningkat pesat dari hanya 51 fintech pada kuartal I-2016.

Salah satu faktor penyebab fintech tumbuh subur adalah kemudahan akses yang mereka berikan. Go-Jek misalnya, mengeluarkan fitur dompet virtual bernama Go-Pay, yang bisa membuat seseorang memesan beragam jasa hanya sejauh satu klik saja. Penggunanya meroket hingga 25 juta orang pada tahun lalu, dan didominasi kalangan muda. Kemudahan-kemudahan itu akhirnya membuat generasi milenial yang kini berumur 23-36 tahun, lebih akrab dengan fintech ketimbang bank. Karakteristik mereka yang terbiasa dan akrab dengan teknologi membuat adaptasi dengan fintech lebih cepat dan akrab. Fitur-fitur perbankan konvensional mulai banyak ditinggalkan.

Saat ini, hanya 36 persen orang dewasa di Indonesia yang punya akun di institusi keuangan yang formal. Sementara pertumbuhan pengguna internet lewat ponsel pintar meningkat hingga 70 persen. Data yang sama juga menyebutkan besarnya jumlah kredit baru terhadap GDP masih 34,77 persen. Angka ini merefleksikan betapa besarnya pasar fintech yang terbuka. Apalagi ada 49 juta UMKM yang belum layak mendapat kucuran kredit perbankan.

Saat ini UMKM di Indonesia kebanyakan telah beralih lapak ke akun-akun online shop yang telah tersedia seperti buka lapak, toko pedia, dan masih banyak lagi. Mereka tidak harus mengeluarkan biaya yang besar, tetapi bisa mendapatkan keuntungan yang sama bahkan lebih besar. Selain itu, akses yang ditawarkan lebih mudah dan terjangkau.

Kini, bank sudah tak bisa mengelak dari tuntutan zaman. Mau tak mau, bank harus ikut berevolusi ke arah digital. Bahkan bank harus bersatu dengan fintech, sama-sama membantu revolusi keuangan di era digital ini. Bank harus terus berusaha menyeimbangkan, menyediakan produk-produk baru yang dekat dengan generasi milenial.

Keberadaan fintech bisa saja menjadi ancaman bagi bisnis perbankan, tetapi bisa juga menjadi rekanan. Dengan adanya kecepatan pertumbuhan teknologi, kini dapat diprediksi tren pada industri perbankan dalam 10 tahun mendatang. Regulasi lokal dan internasional diperkirakan akan semakin ketat dalam mengatur keseluruhan aspek dari industri ini. Selain itu, terjadi pergeseran ekspektasi pelanggan dan teknologi digital diperkirakan akan menyebabkan perubahan besar serta memberikan profil konsumen industri perbankan yang berbeda.

Big data, machine learning, dan crowdsourcing harus menjadi kekuatan utama dalam manajemen resiko suatu perusahaan terutama dalam membantu mengidentifikasi dan mengurangi munculnya risiko baru, seperti risiko akibat efek simultan dari pengaruh global dan cycberattack. Selain itu, fungsi manajemen risiko perusahaan akan diperlukan untuk memperbaiki mekanisme perusahaan dalam melakukan keputusan bisnis dalam semua aspek, termasuk mewujudkan target cost saving dalam sistem operasi sebagai kekuatan bersaing.

Oleh karena itu, fungsi manajemen resiko dalam bank tidak hanya dalam mengidentifikasi dan mengurangi risiko, tetapi keputusan yang dihasilkan harus lebih stratejik dan turut berkontribusi dalam mendukung bisnis dan organisasi, serta menjadikan perbankan lebih siap dan adaptif dalam menghadapi peraturan baik lokal maupun internasional. Dan perkembangan fintech dalam dunia perbankan harus terus ditingkatkan agar dapat mengimbangi perkembangan yang terjadi di era globalisasi. [Khansa Amalia/STEI SEBI]

Comments

comments