Industri Asuransi Syariah Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia?

Ilustrasi. (Istimewa)

Sebagai negara yang populasi muslimnya terbesar dan pertumbuhan yang agresif Indonesia memiliki peluang besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah, namun pada kenyataanya dalam pertumbuhan dan pengenbangan ekonomi syariah Indonesia masih kalah dengan Malaysia. Baik dalam perkembangan produk – produknya ataupun dalam bidang sosial. Malaysia yang terlebih dahulu menerapkan system asuransi syariah, yakni pada tahun 1984 dan ini menjadi panutan bagi Indonesia dalam mengembangkan produk – produk syariah yang diantaranya asuransi syariah.

Asuransi syariah di Indonesia sendiri telah diterapkan pada tahun 1994. Namun sampai saat ini apakah dikalangan masyarakat sudah memahami apa itu asuransi syariah? Berapa anggota asuransi syariah saat ini? Kebanyakan dari masyarakat Indonesia hanyalah memahani asuransi konvensional yang memang dalam penawaran produk – produknya mudah di temui di media ataupun alternative – alternative lain ketimbang asuransi syariah terutama di daerah – daerah pelosok.

Ketua umum Asosiasi Asuransi Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni menjelaskan ada tiga factor utama mengapa asuransi syariah belum menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Pertama, secara umum asuransi syariah belum menjadi kebutuhan utama masyarakat, khususnya di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Kedua, tingkat literasi yang kurang masif mengenai asuransi syariah dan perbedaanya dengan asuransi konvensional. Mengenai upaya edukasi tersebut, Sya’roni mengakui hal itu menjadi pekerjaan rumah besar bagi industry asuransi syariah. Ketiga, hampir semua produk syariah dikembangkan oleh perusahaan yang awalnya memasarkan asuransi konvensional. Pada akhirnya produk asuransi syariah akan kalah pamor disbanding asuransi konvensional yang lebih dahulu ada.

Dalam tiga factor yang di jelaskan oleh ketua umum AASI tersebut Negara Malaysia dapat mengatasinya dengan dukungn untamanya dari pemerintah itu sendiri, memang tidak dapat dipungkiri bahwa peran pemerintah sangatlah berpengaruh bagi masyarakat. Kita ketahui bersama bahwa pemerintahan Malaysia ikut berperan dalam setiap produk syariah dengan kebijakanya. Hal tersebut menjadika Malaysia selalu lebih unggul dalam produk syariahnya, bahkan sampai saat ini kontribusi tertinggi asuransi syariah di kawasan Asia Tenggara masih di pegang oleh Malaysia.

Adapun saran dari penulis untuk mengatasi masalah yang ada di Indonesia terkait asuransi syariah, yang paing utama dilakukan adalah keikutsertaan campur tangan pemerintah atas setiap produk yang diterbitkan oleh lembaga dan perusahaan syariah, dan untuk perusahaan asuransi syariah sebaiknya lebih memasifkan literasi asuransi syariah lagi, mulai dari kerjasama dengan lembaga keuangan syariah lain ataupun bank – bank syariah yang ada. Hal tersebut dapat meningkatlan informasi yang akan diterima oleh masyarakat mislim maupun non muslim mengenai asuransi syariah. Perusahaan asuransi syariah juga bisa membuat produk lebih berfariasi untuk kalangan ekonomi menengah dab menengah ke bawah, karena kebanyakan dari mereka mengungungkan niatnya menjadi anggota asuransi syariah karena premi yang cukup tinggi.

Sosialisasi asuransi syariah dapat di maksimalkan dengan cara mengiklankan di televise, di stasiun – stasiun, iklan di smartfone atau alternative lain. Karena melihat masyarakat yang saat ini mengikuti tren maka hal ini bisa efektif membarikan informasi kepada masyarakat, atau bisa juga perusahaan mengadakan sisialisasi tersetruktur kepada masyarakat dengan terjun langsung ke lapangan untuk melihat secara langsung kebutuhan masyarakat terhadap asuransi syariah, dan dapat menanyakan seberapa besar ketertarikan terhadap asuransi syariah. Bukankah ini akan lebih baik untuk menilai dan memplening perusahaan kedepannya. Dan jika hal ini dapat dilakukan mala kemungkinan besar asuransi syariah Indonesia dapat berkembang pesat. [Fenti Fera/STEI SEBI]

Comments

comments