Fase Perkembangan Audit

Ilustrasi.

Kata audit tidak asing lagi bagi pelaku praktisi, akademisi dan masyarakat umum. Yang mana kata Audit berasal dari bahasa audere Latin, dimana mempunyai arti “mendengarkan”

Audit mempunyai fungsi sebagai alat kontrol, memantau perilaku kinerja, mengamankan dan juga menegakkan akuntabilitas. Sehingga fungsi audit mempunyai peran penting dalam menjaga kesejahteraan dan stabilitas masyarakat.

Selama empat tahun tujuan dan teknik audit telah berubah keberadaannya, dimana audit yang sesuai dengan perubahan kebutuhan dan harapan masyarakat. Hal ini dapat diamati bahwa perubahan kebutuhan dan harapan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kontekstual dengan ligkunagan ekonomi, politik, dan sosiologis pada titik waktu tertentu.

Ada lima fase yang dilewati dari perkembangan audit, diantaranya adalah:

Sebelum fase 1840;
Dimana perkembangan awal audit tidak terdokumntasi dengan baik (Lee, 1994). Dalam fase audit pertama kali muncul dalam bentuk kegiatan pengecekan Kuno dari Cina, Mesir dan Yunani. Audit dibatasi untuk melakukan vertifikasi rinci dari setiap transaksi. Konsep pengujian atau pengambilan sampel bukan bagian dari prosedur audit. Pengendalian internal juga belum di ketahui.

Fase 1840-an-1920-an:
Di Inggris selama fase ini praktik audit tidak menjadi mapan sampai munculnya revolusi indutri. Revolusi industri menghasilkan operasi skala yang besar. Sehingga pabrik-pabrik besar yang berbasis mesin produksi didirkan. Akibatnya, membutuhkan modal besar untuk memfasilitasi. Pada fase ini pasar saham tidak diatur dan sangat spekulatif.

Hal ini mengakibatkan tingkat kegagalan keuangan tinggi dan kewajibat tidak terbatas, investor yang tidak bersalah bertanggung jawab atas hutang bisnis. pada fase ini, tujuan audit beralih menjadi mendeteksi penipuan dan keselahan melalui pemeriksaan transaksi lengkap dan laporan keuangan yang benar.

Fase 1920-1960:
Dimana pada fase ini pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat telah menyababkan pergeseran audit dari Inggris ke Amerika serikat. Investasi dalam entitas tumbuh semakin pesat, kemajuan pasar sekuritas dan lembaga kredit-pembiayan juga telah memfasilitasi pengembangan pasar modal.

Ukuran perusahan semakin tumbuh, maka pemisahan kepemilikian dan fungsi manajemen menjadi sangat jelas. Mengingat kondisi ekonomi yang tumbuh melesat, maka fungsi audit menambahkan kredibilitas atas laporan bukan pada deteksi penipuan dan kesalahan.

Kondisi ekonomi-sosial pada fase ini mempengaruhi perkembangan audit. Sehingga karakteristik utama dari pendekatan audit antara lain; ketergantungan pada pengendalian internal dan teknik pengambilan sampel yang digunaan, bukti audit dikumpulkan melalui internal dan eksternal, penekanan pada kebenaran dan kewajaran laporan keuangan, secara bertahap geser ke audit perhitungan laba rugi namun necara tetap penting, dan pengamatan fisik eksternal serta bukti lainnya (buku rekening).

Fase 1960-1998
Pada fase ini ekonomi dunia terus tumbuh, dengan menandai perkembangan dalam kemajuan teknologi dan kompleksitas perusahan. Pertengahan 1980, mengadopsi audit berbasis risiko. Namun untuk mengadopsi penggunaan audit berbasis risiko, seorang auditor diperlukan untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang klien audit mereka dalam hal organisasi, personil kunci, kebijakan, dan industri mereka.

Fase 1990-Sekarang
Sejak awal 1990-an, profesi audit mulai mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk mendeteksi dan melaporkan penipuan dan untuk menilai, serta melaporkan secara lebih eksplisit, keraguan tentang kemampuan auditee untuk terus menyesuaikan dengan perhatian publik dan regulator terhadap masalah tata kelola perusahaan.

Jadi, perkembangan audit telah menunjukkan bahwa tujuan audit dan peran auditor terus berubah, karena sangat di pengaruhi oleh faktor-faktor konteksual. Setiap perubahan besar dalam faktor konteksual cenderung menyebabkan perubahan fungsi audit da peran auditor. Sehingga mengakibatkan, bahwa audit akan berkembang setiap saat.[Darsini]

Comments

comments