Cara Jitu Mendapat Beasiswa Perguruan Tinggi

Ilustrasi. (Istimewa)

Pendidikan berperan penting dalam kehidupan. Pendidikan tinggi dapat mencetak generasi muda yang cerdas dan kreatif. Namun, patut disadari bahwa pendidikan itu tidak murah.

Kuliah pada perguruan tinggi negeri pun masih harus merogoh kocek yang tidak sedikit, walaupun perguruan tinggi negeri tidak semahal perguruan tinggi swasta. Belum lagi, kalau berniat kuliah ke luar negeri yang biayanya jauh lebih mahal. Untuk mereka yang memiliki orangtua yang mampu membiayai mungkin bangku perguruan tinggi bukanlah masalah yang besar, tapi bagaimana dengan yang tidak mampu?

Sebenarnya masalah kekurangan biaya bisa diatasi dengan mencari beasiswa. Beasiswa yang tersedia cukup banyak mulai yang dari pemerintah, perusahaan swasta, sampai bantuan dana dari luar negeri.

Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa memang gampang-gampang susah. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak, tapi bukan berarti mustahil alias tidak mungkin kan? Nah, masalahnya terkadang para pencari beasiswa bingung harus memulai dari mana.

Berikut ada beberapa cara jitu untuk para pencari beasiswa:

Mencari Informasi Sebanyak Mungkin

Hal pertama yang harus dilakukan ialah mencari informasi sebanyak mungkin, mulai dari rajin membaca madding kampus, mencari informasi lewat internet seperti website pendidikan sampai media sosial yang berkonten pendidikan.

Menurut Annisya Pramesti, salah satu mahasiswi PTN di Jakarta yang berhasil menerima beasiswa bidikmisi, jika ingin mencari beasiswa memang harus rajin mencari informasi, bisa juga langsung ke bagian kemahasiswaan atau bertanya ke senior yang berpengalaman akan beasiswa.

Teliti Membaca Syarat & Ketentuan

Tahap selanjutnya ialah memilih beasiswa yang paling diminati dengan membaca syarat dan ketentuan. Dipilih karena hampir setiap beasiswa memiliki syarat tidak boleh terikat dengan beasiswa lain jika ingin mendaftar.

Teliti merupakan kunci dalam memilih beasiswa. Pilihlah beasiswa yang paling mendukung situasi. Kenapa begitu? Karena setiap beasiswa jenisnya berbeda-beda, ada yang lebih melihat ke sisi nilai akademik seperti beasiswa PPA yang merupakan singkatan dari Peningkatan Prestasi Akademik. Tidak hanya nilai akademik per semester, beasiswa ini juga mengambil data nilai SMA.

Selain itu ada juga beasiswa yang tidak hanya melihat nilai akademik, tapi juga melihat keaktifan mahasiswa/i pada suatu organisasi atau beasiswa yang benar-benar melihat ketidakmampuan mahasiswa/i seperti beasiswa bidikmisi. Beasiswa lain ada yang mewajibkan pendaftarnya membuat essay, menghadiri interview bahkan harus memposting essaynya ke suatu blog.

Maka dari itu pencari beasiswa harus memilih beasiswa yang paling mendukung situasinya sendiri. Mahasiswa/i yang aktif organisasi dengan nilai akademik yang tidak terlalu mendukung pastinya akan lebih memilih beasiswa yang lebih menekankan keaktifan dalam suatu organisasi di kampus. Tapi, keduanya sama-sama penting, aktif di kampus dan memiliki nilai akademik yang tak kalah aktif ke atas.

Begitu juga untuk beasiswa di luar negeri, harus teliti apa dana yang diberikan full atau hanya beberapa persen dari biaya per semester. Selain itu, masalah persyaratan bahasa misalnya untuk bahasa Inggris harus memenuhi score IELTS atau TOEFL yang ditentukan oleh perguruan tinggi yang dituju.

Ferdiansyah Dolot, penerima beasiswa BDMA Erasmus Mundus (Uni Eropa), program mahasiswa postgraduate, punya alasan tersendiri memilih beasiswa tersebut. “Pilih Beasiswa Erasmus karena beasiswa unggulan dari Uni Eropa, full dan tidak ada ikatan dinas, diberi kebebasan untuk bekerja di luar negeri maupun dalam negeri setelah lulus sehingga jika ingin cari pengalaman bekerja di luar negeri bisa, kalau ada ikatan dinas biasanya tidak boleh bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Teliti dalam Melengkapi Dokumen

Sikap teliti harus dicerminkan saat pencari beasiswa mengisi formulir, data dan melengkapi persyaratan yang harus dikirim. Apabila satu dokumen yang wajib dalam persyaratan beasiswa tertinggal karena kurang teliti, otomatis gagal mendapat beasiswa.

Percaya Diri

Percaya diri merupakan salah satu sikap penting yang harus ada dalam diri pencari beasiswa. Beasiswa memiliki nilai kompetensi maka dari itu bila memiliki sikap percaya diri, nilai-nilai positif yang ada pasti akan keluar dengan sendirinya. Misalnya untuk menjawab pertanyaan interview, pencari beasiswa menjadi semakin yakin dengan jawabannya sendiri.

Tetap Optimis

Gagal bukan berarti akhir dari perjuangan. Tidak banyak dari pencari beasiswa yang gagal lalu mengakhiri perjuangannya disitu saja. Ada pula yang terus berjuang sampai dapat. Beasiswa yang tersedia masih banyak, jika gagal disatu beasiswa, coba lagi beasiswa yang lain. Yang terpenting adalah tetap optimis dalam melakukan segala usaha.

Berusaha Untuk Menjadi Lebih Baik

Berusaha untuk menjadi lebih baik dalam segala hal, baik meningkatkan prestasi akademik, aktif organisasi, kepanitiaan, UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) tertentu, atau aktif di luar kampus pada bidang yang disukai. Apalagi untuk beasiswa ke luar negeri, lebih dari sekadar nilai dan keaktifan. Kemampuan berbahasa bahasa resmi yang akan dipakai pada perguruan tinggi yang dituju, menyiapkan motivation letter, curriculum vitae (CV), dan surat rekomendasi harus diasah dengan baik.

Dilansir dalam “Buku Pintar Beasiswa” oleh Erny Muniarsih, beasiswa diberikan kepada individu yang memiliki keunggulan tertentu. Keunggulan tersebut dapat dilihat dari atribut pribadi (intelektualitas dan personalitas), organisasi, dan network atau jejaring. Pintar saja tidak cukup untuk mendapat beasiswa. Kombinasi dari keunggulan pribadi dan lingkungan pendukung merupakan faktor penentu keberhasilan mendapatkan beasiswa. Tidak lupa diiringi dengan usaha dan kerja keras.

Manajer Pengembangan Asia Tenggara Universitas Southampton, Lizzie Eyres mengatakan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri baik untuk transfer student, undergraduate student ataupun postgraduate student pada Universitas Southampton sendiri melihat dari nilai sebelumnya untuk mendapat beasiswa. Semakin tinggi nilai yang dihasilkan semakin besar beasiswa yang akan diberikan oleh universitas walaupun tidak ada beasiswa full dari Universitas Southampton.

Adanya peningkatan dan motivasi untuk menjadi lebih baik bisa membawa manfaat untuk diri sendiri. Siapa tahu akan diterima pada pendaftaran beasiswa berikutnya karena pencari beasiswa kini memiliki nilai-nilai lebih dalam dirinya.

Manajemen Waktu yang Baik

Manajemen waktu yang baik juga harus diperhatikan. Manajemen waktu mencerminkan kesungguhan usaha untuk mendapat beasiswa. Usahakan untuk mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan dari jauh-jauh hari sebelum deadline pengumpulan.

Tunjukkan Kontribusi Positif

Mungkin hal ini jarang ditanyakan pada beasiswa dalam negeri tapi untuk berkuliah ke luar negeri, pendaftar beasiswa harus meyakinkan pihak pemberi beasiswa untuk dapat membawa kontribusi positif, dapat memberikan hal bermanfaat untuk masyarakat kedepannya, tujuan yang dapat membangun bangsa dan negara serta seluruh masyarakat dunia entah dalam bidang lingkungan atau aspek lainnya.

Sedikit cerita dari Ferdiansyah Dolot, penerima beasiswa BDMA Erasmus Mundus (Uni Eropa), program mahasiswa postgraduate, mengatakan dengan beasiswa yang ia dapat, para pelajar Indonesia dapat mempelajari keberagaman di Eropa, mempelajari budaya dan nilai-nilai lain dari suatu tempat dengan tetap menjadi diri sendiri dan membawa nilai-nilai bermanfaat yang terbentuk ke tanah air. (Indi Safitri/PNJ)

Comments

comments