Aliran Silat Setia Hati, Bukan Hanya Sekadar Bela Diri

Pencak silat, seni bela diri asli Indonesia yang sudah mendunia. Sudah tidak diragukan lagi kehebatannya. Bukan hanya sebagai olahraga dan bela diri, tetapi juga sebagai seni dan warisan budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan. Pencak silat memiliki banyak aliran yang dengan itu menunjukkan kekayaan budaya masyarakat di Indonesia. Salah satu aliran silat terbesar di Indonesia adalah Persaudaraan Setia Hati Terate atau biasa disingkat PSHT. Salah satu perguruan silat yang paling diungguli di Indonesia karena rasa persaudaraannya dan lengkapnya ilmu yang dipelajari. Untuk lebih mengenal PSHT, Dion Adhi Sahputra selaku Wakil Ketua PSHT Ranting INKOPAD yang sudah lama menjadi pelatih di PSHT ini akan membeberkan beberapa fakta unik dari PSHT yang mungkin belum banyak orang ketahui.

Sebelumnya mari kita mengenal terlebih dahulu sekilas tentang sejarah berdirinya aliran silat PSHT ini. Seperti yang dikutip dari boombastis.com, pencak silat Setia Hati didirikan oleh Ki Ngabehi Soeromihardjo (Eyang Suro) pada tahun 1903 di Kampoeng Tambak Gringsing, Surabaya. Sebelumnya aliran pencak silat ini bernama aliran  Djojo Gendilo Tjipto Muljo. Kemudian Eyang Suro mendirikan perguruan silat bernama Persaudaraan Setia Hati di Desa Winongo, Madiun pada tahun 1917. Dion mengatakan bahwa saat ini kurang lebih sudah ada 258 cabang PSHT baik yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara luar seperti Inggris, Belanda, Malaysia, Taiwan, dan Korea.

Perguruan silat yang merupakan salah satu pendiri IPSI ini memiliki banyak keunikan dan keunggulan lain yang tidak dimiliki oleh perguruan silat lainnya. Salah satu yang membuat PSHT ini disegani adalah karena rasa persaudaraannya yang seperti melebihi saudara kandung. Tidak ada batasan khusus antara pelatih dengan yang dilatih. “Yang paling beda dari PSHT itu rasa persaudaraannya yang kuat. Gak dimiliki perguruan silat manapun. Panggilan kami bukan seperti guru ke siswa dengan sebutan ‘Pak’, tapi lebih seperti saudara yaitu ‘Mas’ dan ‘Dek’. Kalau dengan sesama pelatih manggilnya ‘Mas’ meskipun dulunya dia itu murid saya,” jelas Dion.

Bentuk persaudaraan lainnya adalah dengan saling bantu dan peduli sesama saudara Setia Hati. Rasa persaudaraan di PSHT ini menjadi pondasi awal yang harus dibangun sejak masih menjadi siswa sebelum disahkan. Didikan persaudaraan misalnya seperti ketika latihan ada satu orang yang salah gerakan maka yang dihukum itu semuanya. Menerapkan prinsip satu senang, senang semua dan apabila satu sakit, sakit semua. Selain menerapkan prinsip persaudaraan, Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate juga memiliki tujuan mulia yaitu mendidik untuk menjadi manusia yang berbudi luhur tahu benar dan salah serta ikut Memayu Hayuning Bawono juga mengajarkan bela diri pencak silat dimana didalamnya terkandung unsur-unsur olah raga, dan seni bela diri serta merupakan seni budaya bangsa Indonesia yang perlu di kembangkan dan dilestarikan serta tidak menyalahgunakan ilmu untuk perbuatan tercela. Menurut Dion yang juga merupakan pencetus cabang latihan PSHT di Malaysia ini, PSHT merupakan perguruan silat yang paling lengkap karena di dalamnya diterapkan lima panca dasar, yaitu kerohanian, bela diri, kesenian, olahraga, dan mental.

Dalam berlatih silat aliran Setia Hati ini sangat mengandalkan kekuatan murni dari badan sendiri dan tenaga dalam. Tidak menggunakan bantuan mahluk ghaib seperti kodam atau wapak. Hal itu menjadikan PSHT menerapkan sistem latihan seperti latihan militer demi menggembleng agar kuat fisik dan mental. Meski begitu, sempat beredar isu negatif yang menyatakan bahwa aliran silat PSHT menerapkan ajaran yang dianggap syirik oleh orang awam yang tidak paham dan belum mengenal tradisi PSHT ini. Selain bela diri, ajaran kerohanian dan spiritual dalam PSHT juga sangat kental. Setiap anggota diwajibkan untuk menyimpan sebuah kain kafan. Hal itu hanya merupakan simbolis sebagai pengingat kematian yang bisa datang kapan saja dan bekal apa yang sudah dipersiapkan untuk menyambut kematian tersebut. Tradisi lainnya yang juga dianggap syirik oleh orang yang belum paham adalah ritual membawa Ayam Jago sebagai syarat untuk mengikuti pengesahan keluarga PSHT. Padahal itu merupakan cara unik Perguruan Pencak Silat PSHT untuk melihat karakter pesilatnya, yakni dengan media ayam jago yang selama ini dipeliharanya.

Bicara tentang jurus, aliran silat ini memiliki sekitar 90 gerakan dasar yang diajarkan. Gerakan lainnya ini hanya ada di aliran Setia Hati seperti halnya Jurus Belati yang menggunakan pisau, Jurus Toya yaitu jurus bela diri dengan menggunakan tongkat. Jurus-jurus tersebut bukan sekadar sebagai jurus bela diri, melainkan juga seni yang bisa menjadi hiburan karena terdapat keindahan dalam gerakan-gerakan tersebut. Sering kali PSHT unjuk gigi dengan mengadakan atraksi gerakan di tengah-tengah masyarakat untuk lebih mengenalkan aliran silat Setia Hati kepada masyarakat.

Untuk menjadi saudara pada Persaudaraan Setia Hati “Terate” ini, sebelumnya seseorang itu terlebih dahulu harus mengikuti pencak silat dasar yang dimulai dari sabuk hitam, merah muda, hijau dan putih kecil. Pada tahap ini seseorang tersebut disebut sebagai siswa atau calon saudara. setiap enam bulannya setiap siswa mengikuti ujian kenaikan sabuk. Selama dalam proses latihan pencak silat, seorang pelatih/warga (saudara SH) juga memberikan pelajaran dasar ke-SH-an secara umum kepada para siswa. Setelah menamatkan pencak silat dasar tersebut, seseorang yang dianggap sebagai warga atau saudara SH adalah apabila ia telah melakukan pengesahan yang dikecer oleh Dewan Pengesahan. Dewan pengesahan ini termasuk saudara SH yang “terbaik dari yang terbaik” yang dipilih melalui musyawarah saudara-saudara SH. Proses kecer tersebut berlangsung pada bulan Syura. Adapun syarat yang harus disediakan dalam pengeceran antara lain ; Ayam jago, mori (kain kafan), pisang, sirih, dan lain sebagainya sarat-sarat yang telah ditentukan.

Untuk bisa berlatih di PSHT ini tidak perlu mengeluarkan biaya untuk latihan. Paling hanya biaya untuk membeli baju latihan, sabuk, dan piagam ketika pengesahan. Seorang pelatih/warga SH yang menarifkan biaya ketika melatih akan dikenakan sanksi dengan dicabut kewargaannya dari Organisasi PSHT. Jadi PSHT terbuka bagi siapapun yang serius ingin mempelajari seni bela diri silat. Syarat utamanya hanya satu, yaitu izin dari orang tua. Ranting PSHT INKOPAD memiliki jadwal latihan dua kali seminggu, yaitu pada malam Kamis dan malam Minggu.

Tidak hanya fokus sebagai organisasi persilatan, PSHT ini juga aktif dalam hal bakti sosial. Seperti mengadakan santunan kepada anak yatim setiap tahunnya dan juga sering mengadakan kegiatan acara donor darah yang diadakan oleh setiap cabangnya. Saudara SH juga dididik untuk peduli dengan lingkuang sekitar. Nilai tolong menolong ditanamkan agar saudara SH juga dapat bermanfaat di tengah masyarakat. contohnya seperti yang sempat diceritakan Dion, “di Blitar, seorang siswi SMA mendapat piagam karena berhasil mengagalkan aksi jambret. Kebetulan dia sudah menjadi warga/pendekar Setia Hati.”

Banyak manfaat yang bisa dirasakan dalam mengikuti latihan seni bela diri silat ini di Perguruan PSHT seperti yang dituturkan Hardi Setiawan, salah satu pendekar SH, “manfaat yang saya dapat jadi lebih merasa percaya diri, badan juga jadi lebih segar bugar, dan saya senang karena merasa dimana pun saya berpijak pasti ada saudara saya.” Menurut pandangan penulis, ternyata silat itu bukan hanya sekadar tentang bela diri namun juga budaya dan seni yang seharusnya dilestarikan. Keberagaman budaya yang tercermin dari banyaknya aliran silat di Indonesia ini mengenalkan kita dengan salah satu perguruan silat yang disegani, yaitu PSHT. Dengan mengetahui keunikan, keunggulan, serta manfaat dari silat yang dipelajari dalam Perguruan PSHT ini penulis berharap semakin tergeraknya semangat pemuda pemudi Indonesia untuk melestarikan budaya silat. (Nickie Almira/PNJ)

Comments

comments