Agar Terbebas dari Jeratan Utang

Islam adalah agama yang mulia dan juga Rahmatan lil ‘alamin. Islam mengatur berbagai aspek kehidupan dari yang terkecil sekalipun sampai hal yang terbesar. Islam membolehkan meminjamkan uang dan islam juga mengatur bagaimana cara berutang itu sendiri.

Utang-piutang di bolehkan dalam islam karena ia termasuk akad ta’awun (tolong menolong)

Di dalam Islam, utang-piutang dikenal dengan sebutan Al-Qardh, yang secara bahasa berasal dari kata Al-Qath’u yang artinya memotong. Sedangkan manurut istilah utang-piutang (Al-Qardh) bisa didefinisikan sebagai pemberian harta (bisa dalam bentuk uang atau lainnya)sebagai suatu bentuk kasih sayang kepada mereka yang nantinya akan memanfaatkan harta tersebut, dimana suatu saat si peminjam akan mengembalikan harta tersebut sesuai dengan apa yang telah dipinjam. Dengan , utang adalah pemberian sesuatu (harta) yang menjadi hak milik seseorang kepada orang lain (peminjam) atas dasar menolong dengan perjanjian yang sudah disepakati bahwa harta tersebut akan dikembalikan di suatu waktu dengan jumlah yang sama.

Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam pelaksanaanya harus memperhatikan aspek-aspek yang telah diatur oleh islam. Karena di satu sisi utang dapat juga membuat kita masuk surga namun di sisi lain hutang juga dapat menjerumuskan kita ke neraka.

Nabi Muhammad Saw. Bersabda:

“Pada waktu peristiwa isra’, aku melihat pada pintu surga tertulis ‘Sedekah dibalas dengan sepuluh kali lipat, dan memberi utang dibalas dengan delapan belas kali lipat’. Maka aku (Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam) bertanya ‘Wahai Jibril, mengapa memberi utang lebih afdhol ketimbang sedekah?’ Jibril menjawab ‘Karena seorang peminta-minta dia meminta sedekah padahal dia sudah mempunyai sesuatu, sedangkan orang yang berutang tidaklah ia berutang kacuali karena ia memang sangat membutuhkan.” (HR. Ibnu Majah)

Namun utang juga dapat menjerumskan kita ke neraka jika dalam pelaksanaannya terdapat unsur-unsur yang tidak benar. Seperti dalam hadits Nabi Muhammad Saw. Bersabda:

“Diampunkan semua dosa bagi orang yang terkorban Syahid kecuali jika ia mempunyai utang (kepada manusia).” (HR. Muslim)

Bahkan ketika Rasulullah hendak menyolati orang yang meninggal, maka beliau bertanya apakah si fulan masih memiliki utang dan ketika orang yang meninggal tersebut masih memiliki utang yang belum dilunasi, maka beliau Rasulullah tidak menyelolatinya sampai utangnya terbayarkan.

Agar utang-piutang sesuai dengan syari’ah, mendatangkan pahala dan tidak menjerumuskan terhadap sesuatu yang dilarang, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksaan utang-piutang;

Hendaknya pemberi utang dan peminjam tidak diperkenakan mengambil keuntungan duniawi dari orang yang berutang.

Sebab keuntungan yang diambil jatuhnya riba. Dan riba dilarang dalam Islam. Diriwayatkan oleh imam Muslim dari Jabir bin Abdillah radiyallahu ‘anhu bahwa ia meneceritakan “Rasululah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semua sama saja.”

Terkecuali jika keuntungan tersebut tidak disyaratkan diawal akad, maka diperbolehkan bagi pembeli pinjaman untuk menerimanya sebagai hibah dari peminjam. Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Nabi Shalallahu’Alaihi Wassallam:

“Aku menemui Nabi saat Beliau berada di masjid, lalu Beliau membayar utangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku.” (HR.Bukhari)

Dalam Islam ada dua macam akad, yaitu akad tabarru’ (akad sosial) dan akad mu’awadlah (akad komersial). Utang-piutang adalah akad tabarru yang dimana di dalamnya terdapat unsur tolong menolong (sosial).

Utang-piutang sebainya dipersaksikan dan ditulis.

Allah Swt. Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS.Al-Baqarah:282)

Ayat Al-Qur’an di atas menyebutkan bahwa transaksi utang-piutang dan perdagangan non tunai pun dilakukan dengan cara yang baik agar tidak menimbulkan fitnah, yait dengan mencatatnya dan disertai dengan pihak ketiga (saksi).

Hendaknya yang meminjam meniatkan untuk segera melunasinya saat memiliki kemampuan untuk membayarnya. Rasulullah menjelaskan terkait orang yang berutang dan memiliki niat yang buruk sebagai pencuri saat menghadap Allah kelak.

“Orang mana saja yang berutang dan berniat tidak membayarnya, maka ia akan datang dengan menghadap Allah sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

Hendaknya orang yang berutang melunasi utangnya dengan cara yang baik.
Keadaan realitanya terkadang orang yang berutang lebih galak ketika ditagih dari pada si peminjam, serta tidak akan membayar jika tidak ditagih oleh peminjam. Hal tersebut dilarang seperti yang dijelaskan di atas bahwa hendaknya si pengutang berniat untuk segera membayarkannya dengan cara yang baik pula. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, yaitu:

Dari Abu Hurairah Radiyallahi ‘Anhuma berkata:

“Nabi mempunyai utang kepada seseorang, yaitu seeokor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. Maka baliaupun berkata, ‘Berikan kepadanya’ kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukannya kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi pun berkata: ‘Berilah kepadanya’, Dia pun menjawab ,’Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah membalas dengan setimpal.’ Maka Nabi bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang).” (HR. Bukhari)

Tidak diperbolehkan adanya utang piutang dalam unsur jual beli.

Artinya adalah seseorang tidak diperbolehkan dalam pinjaman atau utang dengan memberikan persyaratan agar nantinya pihak yang meminjam atau berutang mau menjual atau menyewakan sesuatu kepada pihak pemberi utang. Atau pihak peghutang disyaratkan untuk membeli ataupun menyewa sesuatu dari pihak pemberi utang.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda:

“Tidaklah dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Memberikan penangguhan waktu apabila si pengutang tidak dapat membayar pada waktu yang telah disepakati.

Allah SWT berfirman:

“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:280)

Oleh karena itu penting sekali memperhatikan pelaksanaan hutang sesuai dengan aturan Islam. Bahkan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an sendiri adalah terkait utang, dari sini kita tau bahwa betapa peting dan bahayanya hutang jika kita tidak cermat dalam menanggapinya, Allah mengaturnya sampai mendetail dan terperinci agar hambaNya tidak terjerumus akan keburukan utang jika tidak dimaknai dengan sikap yang bijak. [Nur Elina/STEI SEBI]

Comments

comments