Abah Murdani, Semangat Muda di Usia Senja

Abah Murdani dikiosnya. (Foto: Risda)

Bekerja memang tidak memandang usia dan status sosial, apalagi di usia renta masih saja melakukannya untuk nafkah diri sendiri dan keluarga. Meski pendapatan yang diperoleh tidak bisa dikatakan cukup, namun jiwa pantang menyerah tertanam terus.

Itulah sosok Abah Murdani, pria Betawi yang usianya sudah tidak muda lagi dan kegiatannya sehari-hari berjualan pisang di Pasar Baru Depok Jaya. Kios berukuran 1,5 x 1,5 meter jadi tempat usahanya demi mencukupi kebutuhan hidup.

Puluhan tahun ia tetap setia bertahan di pasar ini sampai disulap menjadi lebih rapi dan nyaman. “Lah iyak lagi pasarnya gak sebagus ini, pas udah dibangun enak, bagus,” kata bapak beranak tujuh ini.

Pria tamatan sekolah rakyat (SR) atau lebih dikenal dengan SD ini juga puas makan manis pahit kehidupan, pelbagai profesi pun sudah pernah dilakoninya, seperti kuli bangunan, petugas Djawatan Kereta Api (DKA) atau penjaga palang pintu kereta pun ia sudah pernah rasakan. “Kerja di bank.. eh kuli bangunan, kalau di DKA gak mau lagi, ngatur rambu-rambunya capek ah,” katanya sambil tertawa.

Bosan dan tidak mau santai di rumah, begitu yang ia katakan bila menganggur. Meski giginya tinggal satu, tapi jiwanya muda dan ia harus membuka kios sejak pukul 07.00-16.30 WIB. Jarak dari rumahnya di Lenteng Agung ke tempatnya bekerja memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor, tapi semangatnya begitu berkobar.

Memang, keuntungan dari jualan pisang kadang tak menentu, tapi ia selalu bersyukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan. Pernah suatu hari ia dikerjai oleh calon pembelinya yang tega memainkan harga, walau begitu ia tetap ramah melayani pembeli. “Nah, suka ada emang kayak gitu, dia nawar abis. Eh, liat ke tempat lain, ujung-ujungnya ke kite dah yang murah harganya,” kenangnya.

Ketujuh anaknya telah menikah dan bekerja, namun ia tidak mau bermanja tinggal duduk manis. Bahkan menurutnya bekerja adalah kenyamanannya, bisa bersosialisasi antarpedagang, menikmati uang hasil keringatnya sendiri dan pasti jadi hiburannya menghabiskan masa senja.

Babeh, panggilan akrabnya yang dikenal pedagang lain sebagai sosok penuh canda dan menikmati hidup. Sumiati, salah satu “tetangga” pedagang sekitar mengaku ikut terbawa semangatnya untuk terus berjualan. “Dia (Babeh) suka bercanda, diajak serius malah ketawa ngakak,” ucapnya seraya kembali ke kios sayurannya.

Begitu pun dengan salah satu pelanggan tetapnya, Dewi Izwarda, mengaku setiap belanja di tokonya ada saja candaan kakek yang suka pakai peci hitam ini. Sejak diberi tahu oleh ayahnya, dia jadi tertarik karena tidak sembarang menawarkan harga.

“Itu mah langganan, emang unik. Dia gak main harga, orangnya beda dari yang lain,” tukasnya. (Risda Nadiva/ PNJ)

Comments

comments