1200 Siswa SMP Ikuti Kawah Kepemimpinan Pelajar

(Dok. Kwarnas Pramuka)

Sebanyak 1200 siswa-siswi SMP se-Jabodetabek mengikuti Kawah Kepemimpinan Pelajar di Hotel Kinasih Bogor pada tanggal 7 – 10 Mei 2018. Kegiatan ini digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI bekerjasama dengan Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka.

Kegiatan ini dibuka oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud RI, Hamin Muhammad di aula Hotel Kinasih, Bogor pada Selasa (8/5/2018), ditandai dengan pemukulan gong oleh Hamin.

“Kalian adalah generasi baru. Nanti sebagian dan mungkin semuanya adalah pemimpin bangsa ini. Kalian sekarang adalah siswa, pelajar, tapi kalian adalah pemimpin masa depan. Dan adik-adik harus siap menghadapi tantangan yang lebih kompleks,” ujar Hamin Muhammad dalam sambutannya.

Menurut dia, generasi muda hari ini dihadapkan dengan tantangan era yang penuh konektifitas. Semuanya sekarang mempunyai handphone yang terkoneksi dengan internet. Berbeda dengan eranya, kata Hamin, yang dulunya hanya menggunakan radio.

Ia berpesan empat hal kepada peserta. Pertama, jauhi tindakan kekerasan, baik antar-siswa, dengan guru, dan sebagainya, di lingkungan sekolah. Pihaknya tidak mentolerir adanya kekerasan di ruang pendidikan. Sebab, kekerasan bukanlah perilaku seorang pemimpin.

Kedua, jangan coba-coba mendekati narkoba. Orang yang sudah pernah mengonsumsi narkoba, badannya nanti akan meminta narkoba lagi. “Pintu masuk pertama adalah rokok. Jadi, tolong hindari barang haram itu,” tegasnya.

“Ketiga, jauhi pornografi dan pornoaksi, karena itu akan menghambat masa depan. Tidak ada yang bisa mencegahnya, kecuali kita sendiri. Dan keempat, jauhi paham radikalisme. Orang yang terkena radikalisme, dia merasa paling benar sendiri. Tolong cegah empat hal ini,” papar Hamin.

Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka urusan Pembinaan Anggota Muda, Anang Suparman mengungkapkan, melalui Kawah Kepemimpinan Karakter ini pihaknya ingin menyiapkan kader. Siswa-siswi SMP peserta kegiatan ini disiapkan sejak dini untuk menjadi pemimpin bangsa.

“Kita menyiapkan mereka menjadi disiplin, disiplin waktu, disiplin kegiatan. Dengan membiasakan disiplin, maka akan tercipta jiwa kepemimpinan. Dengan dibentuk regu-regu kecil, mereka akan belajar memimpin dan dipimpin. Mereka juga belajar mencintai temannya, cinta kelompoknya, dan cinta kepada bangsanya. Diharapkan nanti tertanam bahwa saya mencintai negara Indonesia,” ucapnya.

“Pertama, kita menggunakan metode learning by doing. Kedua, dengan sistem beregu, sistem berkelompok, itu dasarnya untuk kepemimpinan. Ketiga, belajar dengan brainstorming, bisa menghargai pendapat orang dan bisa berpendapat. Seorang pemimpin harus berani berbicara, berani mengeluarkan pendapat. Dengan permainan, learning by doing peserta memperoleh pengalaman praktis. Tidak hanya belajar teori, tapi juga mempraktikkan kepemimpinannya,” pungkasnya.

Comments

comments