Tetap Semangat Menggeluti Profesi di Usia Senja

(Foto: Ashfia)

Usia nyatanya bukan alasan untuk berpasrah. Hidup tak lagi muda namun semangatnya sekeras baja. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari ialah alasan terbesar untuk tetap menggeluti profesinya meski dengan kondisi tubuh yang sudah renta dan mulai sakit-sakitan. Ini dialami oleh Dahlan, seorang pria berusia senja kelahiran 1948 yang menggeluti profesi sebagai ahli reparasi jam di Pasar Agung, Depok.

Pria tua ini sudah menggeluti profesi sebagai ahli reparasi jam sejak tahun 1990. Hanya bermodalkan coba-coba dan tidak memiliki dasar ilmu mengenai reparasi jam sama sekali , nyatanya tidak menghalangi niat Dahlan untuk berhenti menggeluti profesi sebagai ahli reparasi jam yang tengah ditekuninya saat itu.

Sehari-hari Dahlan mulai membuka kios reparasi jam miliknya pada pukul 10.00-16.00 WIB. Untuk berangkat menuju pasar yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya, Ia biasa menaiki angkutan umum atau sesekali diantarkan anaknya.

Di usia nya yang tak muda lagi dan latar belakang pendidikan yang hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), membuat Dahlan tidak memiliki pilihan profesi lain untuk digelutinya. Penghasilan yang tak menentu bahkan terkadang kurang mencukupi, ingin rasanya Dahlan meninggalkan profesinya sebagai ahli reparasi jam. “Namanya juga orang jualan ya mbak. Kalau ramai ya ramai kalau sepi ya sepi banget. Tapi mau diapakan lagi, daripada saya tidak ada pekerjaan,” katanya sambil tersenyum.

Menggeluti profesi sebagai ahli reparasi jam di usia senjanya diakui Dahlan tidak mudah. Tak jarang kini dirinya merasa mudah lelah atau secara tiba-tiba merasa pusing kepala yang mengharuskan dirinya pulang ke rumah dan terpaksa menutup kiosnya. Namun, karena semangatnya, sakit itu ia tidak rasakan lama-lama sehingga keesokan harinya seperti biasa ia menjalani aktivitasnya kembali.

Dalam sehari, Dahlan bisa mereparasi paling banyak 10 jam dan paling sedikit hanya 1 atau 2 jam saja, dengan kisaran biaya reparasi sekitar Rp 30.000. Kemudian dari hasil jeri payahnya selama seharian itu ia simpan untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya dan menyicil biaya sewa kios miliknya. Sisanya ia berikan kepada istrinya untuk kebutuhan rumah sehari-hari.

Sebagai ahli reparasi jam tentu dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam proses mereparasi jam tiap pelanggannya. Tidak sedikit pelanggan yang masih tega menawar biaya jasa reparasi jamnya tersebut, padahal ia sudah mematok biaya yang terbilang murah jika dibandingkan dengan kesabaran dan ketelitian yang harus ia lalui. Kesulitan penglihatan juga ia rasakan, sebab matanya kini kian rabun mengingat usia Dahlan yang tak muda lagi.

Dahlan selalu bersikap manis terhadap pelanggannya, baginya baik atau tidaknya pelanggan yang ia hadapi harus tetap ia hargai karena bagaimanapun seorang pembeli adalah raja. “Pernah ada pelanggan yang menuduh saya merusak jamnya usai saya reparasi, katanya setelah direparasi malah semakin rusak,” ujarnya. Namun, Dahlan tak ambil pusing. Ia menyelesaikan masalah tersebut dengan menjelaskan secara baik-baik terhadap pelanggannya saat itu.

Tenaga yang semakin berkurang, kondisi tubuh yang kian menurun juga rambut putih yang semakin jelas terlihat menandakan kini Dahlan sudah semakin senja. Namun tak peduli akan usianya, baginya selama ia masih diberi sehat ia akan terus semangat menggeluti profesinya sebagai ahli reparasi jam demi mencari nafkah untuk keluarganya. Menggeluti profesi sebagai ahli reparasi jam akan terus dilakoninya sampai dirinya tak berdaya lagi. [Ashfia Fuada Ersterina]

Comments

comments