Surat Cinta untuk Ayah

Ilustrasi (Istimewa)

Ketika mulut tak mampu berbicara, maka kutulis surat ini untukmu, Ayahku.
Hidupku terasa indah dan selalu berjalan sesuai kemauanku, tanpa pernah kau batasi apa yang kumau. Memberikan semua yang kubutuhkan dan terus menyemangatiku tanpa lelah.

Tetapi siang itu, waktu Ibu meneleponku sambil menangis, agar aku segera datang ke rumah sakit, membuat hatiku hancur. Langsung aku bergegas menuju rumah sakit, selama diperjalanan aku tak kuasa menahan tangis, maka tumpahlah air mata ini. Aku juga tak henti berdoa kepada Allah SWT untuk memberikan aku waktu lebih banyak lagi bersamamu dan Ibu.

Di rumah sakit aku melihatmu terbaring lemah dengan wajah pucat. Bahkan tak ada senyum yang biasa kulihat diwajahmu. Melihatmu dalam kondisi seperti ini membuat aku tersadar kalau selama ini kau terus menua, sementara aku belum bisa membuatmu bangga. Sesak penuh dalam dadaku. Aku terus berharap kalau ini hanyalah sebuah mimpi, nyatanya, bukan.

Sekarang rutinitasku telah berubah, pagi kuliah, lalu siang pulang ke rumah untuk ambil beberapa baju ganti, kemudian berangkat lagi untuk menginap di rumah sakit menemani Ibu untuk menjagamu. Aku tak masalah dengan banyaknya waktuku yang ku lewati untuk bermain bersama temanku dan aku juga tak masalah mengerjakan pekerjaan kelompok seorang diri karena tak ikut kerja kelompok bersama. Tak masalah juga jika seluruh dunia meninggalkan ku sekalipun, masalah bagiku adalah kehilangan pahlawanku – Ayah dan Ibu – karena kebahagiaanku, senyumku, dan duniaku adalah kau dan Ibu.

Ternyata Allah SWT mengabulkan permohonanku, kesehatanmu makin membaik dan malam itu saat dokter memberitahu kalau besok Ayah sudah boleh pulang, aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku dan aku juga bisa lihat senyum yang biasa kulihat dari wajahmu. Dan perlahan hidupku kembali cerah seperti dulu. Semakin ku sadari betapa indah akhir dari ujian yang Kau beri.

Walau badan yang dulu gemuk kini telah kurus, walau kumis yang menghiasi wajahmu kini telah tiada, walau rambut hitammu kini memutih, walau keriput di wajahmu kini semakin banyak, tapi senyum dan tawamu tak pernah berubah. Kasih yang kau beri juga tak berubah sedikit pun. Kau tetap pahlawanku yang dulu.

Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, kami di rumah seperti kebingungan dan hilang arah. Padahal kalau ada pun kami tak melakukan hal-hal khusus. Tetapi kini rumah kembali hangat, penuh cinta dan kasih yang kemarin tak bisa kutemukan.

Ayah, terima kasih sudah memberikan segalanya bagiku, terima kasih telah mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan, terima kasih selalu ada di samping ku, dan terima kasih untuk selalu mencintai dan memaafkan kesalahanku.

Ayah, tetaplah di sini bersamaku dan Ibu, jangan pernah pergi lagi seperti kemarin, jangan lagi buat kami khawatir. Maaf bila aku pernah membuatmu menangis, maaf belum bisa membanggakan mu, maaf belum bisa jadi anak yang baik, maaf belum bisa memberi kebahagiaan untukmu. [Mentari Kasih/PNJ]

Comments

comments