Semua Kalangan Berhak Mendapatkan Pendidikan

Ilustrasi. (Istimewa)

Persoalan pendidikan menjadi kompleks sejak sahabatku berkali-kali gagal menembus perguruan tinggi negeri (PTN). Hal itu dialami oleh sahabatku, Wiwit Nur Vina. Orang tua Wiwit selalu meyakinkan sahabatku itu, bahwa “Banyak Jalan Menuju Roma”. Benarkah pepatah terpopuler ini masih berlaku untuk semua kalangan, termasuk sahabatku?

Mungkin bagi mereka si kalangan berada, memang nyata adanya. Mereka dengan mudahnya akan merealisasikan pepatah tersebut dengan berbagai cara. Baik dengan cara halal maupun dengan cara yang menuju ke arah kurang halal.

Sahabatku begitu muak. Si kalangan berada hampir menghalalkan segala cara tanpa berpikir panjang. Hal yang mereka lakukan hanyalah gengsi belaka. Apa mereka juga berusaha keras seperti sahabatku? Mungkin ada, namun hanya beberapa, aku benar-benar tahu akan hal itu.

Berbeda dengan Wiwit yang meyakini bahwa PTN bukan hanya menaikan pamor dan gengsi belaka. Bagi Wiwit berkuliah di PTN adalah akses untuk menembus langit impian.

Saat itu Wiwit bercerita padaku, ia pernah menjadi manusia di persimpangan, bingung entah jalan mana yang akan ditempuh untuk menuju Roma. “Aku tidak mampu ikut bimbingan belajar yang harganya selangit, memanggil pengajar privat yang harganya sangat mencekik, atau mencoba peruntungan seleksi PTN dengan biaya yang mampu membuat orang tuaku terbelalak,” tutur Wiwit dengan gayanya yang selalu kulihat setiap harinya, pasrah. Bahkan, dengan menggunakan peranan penting keluarga untuk mencari-cari relasi sahabatku itu mengatakan tidak mampu, Wiwit terlalu muak dengan cara seperti itu. Sahabatku itu hanya bisa mengandalkan kemampuan belaka.

Si Sulung, Berusaha Menaikkan Derajat Orang Tua

Hidup menurutku memang sangat sulit, namun aku jauh lebih bersyukur saat Wiwit mengatakan bahwa keluarga sahabatku itu pernah mengalami masa tersulit dalam berbisnis antarkeluarga. Orang tua Wiwit tetap tegar, lapang dada dan saling menguatkan satu sama lain. “Aku juga pernah melihat di sela-sela waktu, orang tuaku menitihkan air mata, berusaha menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara kesedihan. Ketika kedua adikku memergoki, kedua orang tuaku kembali tersenyum dan berkata, kami tidak apa-apa, hanya kelilipan saja,” ujar Wiwit kepadaku saat aku pernah mengeluh kepadanya, cerita Wiwit lagi-lagi menyadarkanku. Kini, aku mengerti, betapa beratnya cobaan hidup, bukan hanya diriku saja yang mengalaminya setelah gagal diterima PTN. Sahabatku itu memiliki persoalaan yang jauh lebih rumit dibanding diriku, apalagi soal perselisihan keluarga yang berdampak pada bisnis ayah Wiwit yang kian menurun pada saat itu, aku begitu sedih turut merasakan apa yang dirasakan sahabatku itu.

Ayah Wiwit adalah seorang wirausaha yang meneruskan usaha turun-temurun dari kakek Wiwit, yaitu bisnis kuliner. Ibu Wiwit merupakan seorang ibu rumah tangga yang multitasking, dapat menjadi teman, kakak, dan guru untuk sahabatku itu. Wiwit juga memiliki dua adik perempuan manis. Sahabatku itu adalah anak sulung. Wiwit adalah anak yang sedang berusaha menaikkan derajat keluarga melalui pendidikan.

Dalam meraih impian masuk PTN menurut Wiwit, sahabatku itu selalu percaya pada pepatah populer ‘Banyak Jalan Menuju Roma’. Walau jalan yang dilalui berliku dan berduri, dan sekalipun Wiwit harus jatuh terhempas dari langit asa, Wiwit akan terus bangkit dan percaya.

Masa Penuh Rasa dan Asa

Masa Remaja adalah masa yang paling indah dalam hidup, terutama saat di bangku SMA. Saat aku hangout bersama temanku lainnya di kafe menonton bioskop dan konser musik hingga larut malam. Atau seperti temanku yang lainnya pergi ke pesta sweet seventeen dengan gaun yang berkilauan, menghadiri prom night, hingga jatuh dan cinta. Namun Wiwit sahabatku itu tidak melakukan hal-hal tersebut.

Wiwit lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Wiwit adalah anggota aktif pramuka pada saat itu. Wiwit juga diamanahkan untuk menjadi pemimpin putri dari organisasi itu. Semua hal yang bersangkutan dengan pramuka Wiwit-lah yang turut bertanggung jawab.

Hidup memang tidak selalu berjalan mulus, mengingat kenangan pahit sahabatku itu, Wiwit pernah menjadi korban bullying. Seakan sempurna, dirinya manusia yang menganggap dewa pernah mem-bully sahabatku itu dengan mengolok-olok Wiwit si anak tukang soto. Setelah itu, efeknya begitu dahsyat. Wiwit merasa minder berkepanjangan. Wiwit bercerita padaku, di setiap harinya saat di sekolah Wiwit selalu membendung air mata. Aku dapat merasakan kepedihan Wiwit, kenangan pahit sahabatku itu.

Dahulu sahabatku itu pernah merasa trauma. Tetapi, menurut Wiwit kini sahabatku itu akan jauh lebih siap mendengar ucapan tak bertanggung jawab seperti yang terdahulu. Nasib baik, teman-teman SMAku tidak melakukan hal yang sama pada Wiwit. Sehingga, sejauh Wiwit duduk di SMA sahabatku itu tidak pernah menerima celotehan-celotehan konyol tak bernilai lagi.

Hal yang berbeda pada sahabatku itu, di setiap hari setiba di rumah setelah bersekolah. Wiwit tak seperti anak lainnya yang akan hangout ke mall bercanda gurau bersama teman sepermainan. Wiwit memilih untuk membantu orang tua menjaga kedai soto. Melayani pembeli, memotong daging, membuat minuman dan menjaga adik bungsu sahabatku itu yang pada saat itu masih kecil.

Saat kutanyakan, apakah sahabatku pernah jenuh dengan rutinitas itu. Lalu dengan wajah tak berekspresi, sahabatku itu hanya mengatakan lelah. Keseharian Wiwit belakangan itu hanya dihabiskan di sekolah, sekretariat pramuka, dan kedai soto. Tetapi, Wiwit tidak ingin membuat orang tuanya itu kecewa karena ketidakdewasaan Wiwit yang tak mau menerima keadaan.

Siap Jatuh dan Kembali Bangkit

Menjelang ujian nasional, Wiwit juga tidak henti belajar. Baik di sekolah, sekretariat pramuka, maupun di sela-sela waktu menjaga kedai soto. Setelah pulang dari kedai pun, Wiwit selalu menyempatkan belajar. Hal ini juga akan menjadi amunisi perang sahabatku itu saat mengikuti tes PTN.

Hal yang paling menyentuh bagiku saat Wiwit berbagi cerita bahwa Ayah dan ibu sahabatku itu ingin anaknya masuk PTN. Supaya dapat banyak keringanan soal biaya. Hal itu disampaikan orang tua sahabatku di suatu malam ditemani gemericik air khas kota hujan.

Bagaimana bila Wiwit gagal masuk PTN dan mengecewakan orang tua? sekemelut pertanyaan beradu dan menumpuk dalam kepala sahabatku itu. Menurut Wiwit, sahabatku itu hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi keinginan orang tua agar anaknya berkuliah di PTN.

Saat Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) menggunakan nilai rapot Wiiwt gagal. Sahabatku itu masih bisa menerima penolakan pertama. Tetapi saat Wiwit dinyatakan lulus dari SMA, sahabatku bingung entah akan berkuliah dimana. Beberapa teman juga banyak yang telah diterima di PTN melalui jalur undangan disejumlah PTN. Sedangkan Wiwit masih masih melayang dan tak tau arah tujuan.

Prom night yang biasanya dalam film-film remaja akan mendatangkan cinta masa SMA yang sangat manis nan indah itu juga Wiwit lewatkan begitu saja. Sahabatku itu memilih untuk terus belajar memaksimalkan pengetahuan untuk amunisi perang selanjutnya, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Saat tiba waktunya untuk berperang. Wiwit memulai tes itu dengan penuh rasa percaya diri. Tetapi kali ini Wiwit begitu kecewa dan bersedih “Mengapa aku harus kembali gagal?” ujar Wiwit sambil menahan isak tangis saat itu.

Wiwit begitu terpukul dengan harapan dan ekspektasi yang terbentuk sedari awal. Teman-teman pun segera memposting kebahagiannya di media sosial, bahwa mereka telah diterima di PTN yang mereka inginkan. Hal itu semakin membuat sahabatku itu merasa jatuh terhempas ke lembah keputusasaan. “Aku kecewa Tuhan” satu kalimat yang keluar dari mulut sahabatku itu untuk meluapkan rasa kekecewannya.

Wiwit merasa seolah-olah menjadi sosok yang gagal di mata orang tuanya, begitu pula di kalangan teman-teman. Berkuliah bukan di PTN bukan masalah, namun itu akan mendatangkan masalah untuk kedua orang tua Wiwit yang bukan dari kalangan orang berada. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Wiwit juga tahu betapa susahnya mereka berjuang.

Setelah gagal mendapatkan PTN, pada tahun itu Wiwit memutuskan untuk tidak berkuliah. Hal tersulit bagi sahabatku itu adalah saat melihat teman-teman termasuk diriku yang tenagh sibuk meniti masa depan dengan berkuliah, bagaimanapun juga Wiwit sempat merasa iri. Tetapi hal itu menyadarkan sahabatku itu untuk bercermin dan kembali merenung diri.

Banyak Jalan Menuju Roma, Benar Nyata

Wiwit mengisi satu tahun itu dengan mengajar, hobi sahabatku itu adalah suka membagikan ilmu. Sahabatku itu mengajar anak-anak di sekitar tempat tinggalnya, SD hingga SMP. Kemudian kabar baik untuk Wiwit saat itu, salah satu relasi sahabatku itu memberitahu soal lowongan pekerjaan untuk suatu bimbingan belajar. Wiwit juga segera mengikuti interviewnya dan alhamdulillah sahabatku itu diterima bekerja sebagai pengajar di salah satu bimbingan belajar di Kota Bogor itu. Tetapi di sisi lain, Wiwit tetap bersikeras untuk masuk PTN, karena sahabatku itu percaya akan pepatah ‘Banyak Jalan Menuju Roma’.

Wiwit kembali mengikuti tes salah satu sekolah tinggi ternama di Indonesia saat itu, namun sahabatku itu kembali gagal. Lalu, Wiwit mengikuti tes mandiri di salah satu PTN di Depok atas rekomendasiku. Lagi-lagi kegagalan menjadi teman Wiwit saat itu. Menurut Wiwit, bila masuk PTN melalui jalur mandiri itu tidak mahal, mungkin sejak tahun sebelumnya sahabatku itu akan mengikuti berbagai tes itu di beberapa PTN. Tetapi apa daya semua butuh uang.

Saat itu tes SBMPTN kembali dibuka, ini adalah kesempatan kedua untuk Wiwit. Sahabatku memilih untuk mendaftar program bidikmisi, yaitu program bantuan pemerintah untuk calon mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di PTN hingga lulus tepat waktu. Ini adalah kesempatan meningkatkan pendidikan di Indonesia untuk anak-anak yang bukan dari kalangan berada. Usaha keras selama ini terbayar sudah, dengan sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa Wiwit diterima di salah satu PTN di Bandung.

Betapa bahagianya sahabatku pada saat itu. Wiwit bersyukur karena Tuhan memang selalu punya caranya sendiri membahagiakan manusia. Kedua orang tua Wiwit kembali berseri-seri melihat anak sulungnya kelak akan menembus langit impian melalui duduk di bangku kuliah PTN di kota kembang.

Melalui program bidikmisi ini juga Wiwit sangat bersyukur, karena pemerintah setidaknya telah memerhatikan faktor yang berpengaruh besar terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ini. Dari dari pepatah, kini sahabatku yakin niatnya untuk menaikan derajat orang tua akan terwujud melalui pendidikan. Kini Wiwit percaya, bahwa pepatah itu bukan hanya pelipur lara untuk yang sedang bersedih, tetapi penyemangat yang benar nyata bahwa masih banyak jalan menuju Roma, tentunya dengan tekad dan kemauan diri sendiri yang akan menemukan banyak jalan tersebut. [Kireina Suci Cahyani/PNJ]

Comments

comments