Perasaan yang Memudar

Ilustrasi. (Istimewa)

Sorot matanya tegas namun penuh kasih sayang. Dibalik suaranya yang lantang tersembunyi kelembutan yang dalam. Sosok pemimpin yang selalu dapat diandalkan, dipercaya, dan dibanggakan.

Ayah adalah sosok yang keras, taat pada ajaran agama, kepribadiannya kuat dan teguh selayaknya akar pohon yang kekar pada bumi tempatnya berpijak. Kehadirannya di antara lima anak gadisnya, membuat segalanya terasa lengkap. Pikirlah kami tak perlu saudara lelaki karena memiliki ayah. Begitu salut dan bangganya pada beliau.

Dahulu aku akan marah, teriak, bahkan memaki apabila temanku mengolok ayah. Dahulu aku akan menarik kerah bajunya sembari memberi pukulan kecil apabila ia meremehkan ayah. Aku memang bukan anak yang patuh, belum cukup untuk dianggap anak baik, tapi aku akan berdiri di barisan depan saat seseorang menghina ayah.

Lalu keyakinan itu luruh saat takdir pahit datang menyambut keluarga kami. Sosok wanita asing hadir dalam kehidupan kami. Dalam kehidupan anak remaja 16 tahun yang tengah lelah dengan masa pubertasnya. Takdir yang nyatanya masih berat untuk diterima. Ayahku menikah lagi.

Duniaku seakan runtuh. Rasa kecewa, amarah, dan benci meliputi hatiku. Aku tersakiti. Walaupun aku tahu ibuku lebih tersakiti. Sekalipun ia menikah dengan cara yang dianggap baik, rasanya tetap saja sulit. Ia menghancurkan kebanggaanku menjadi kepingan kecil hanya dalam semalam. Dan dimulailah kehidupan dengan perasaan yang berubah antara aku dan ayah.

Hubungan kami semakin renggang. Kepatuhanku padanya semakin menurun. Aku lebih memilih pergi keluar rumah atau mengunci diri di kamar daripada bertemu dengannya saat ia pulang. Memilih berbicara padanya hanya saat situasi penting atau meminta uang untuk kebutuhan sekolah. Aku menganggapnya sebagai mesin uang, ia pun menyadarinya.

Aku berpikir ia tidak menyayangiku lagi terlebih saat seorang bayi laki-laki tampan terlahir ke dunia. Dan ternyata ia juga berpikir bahwa aku tidak sayang lagi padanya. Kami memang memiliki kepribadian yang mirip. Keras kepala, kuat, dan tidak mau kalah. Sering kali kami bertengkar karena beberapa hal sepele. Hilang sudah rasa empatiku terhadapnya.

Namun, proses adaptasiku yang lama itu berakhir seiring berjalannya waktu. Aku menyadari bahwa karena diriku lah awal mula renggangnya hubungan kami. Aku menolak ingat usahanya untuk menjadi suami dan ayah yang adil. Aku tahu ia telah berusaha semampunya. Ayah pasti kadang merasa lelah dan membutuhkan sandaran, tapi hanya punggung yang ia dapatkan. Karena aku berbalik untuk menghiraukannya. Maafkan aku ayah.

Kini aku menganggap semua kepahitan yang kulalui adalah suatu proses pendewasaan diri. Takdir yang dahulu aku kutuk dan tangisi setiap malam adalah garis ketentuan tuhan. Karena tidak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Aku akan lebih membuka diri pada ayah. Berusaha mencintainya dengan seluruh hidup yang kupunya. Rasa sayangku tak akan pudar seperti sedia kala. Aku mencintaimu, Ayah. [Suroyya Rufaidah/PNJ]

Comments

comments