Perasaan Terdalam Seorang Kakak

Ilustrasi. (Istimewa)

Naluri setiap kakak pasti ingin melindungi adiknya dan bagi sang adik, kakak adalah anutannya. Walaupun, salah satu hal yang paling sulit diungkapkan yaitu perasaan sayang kakak terhadap adik pun sebaliknya. Ada kalanya mereka saling menyakiti dengan ucapan atau perbuatan, tanpa serius dengan itu.

Memiliki saudara merupakan karunia yang telah Allah SWT berikan. Perasaan seorang kakak untuk pertama kali bertemu dengan adiknya di dunia amat sulit diungkapkan oleh kata-kata. Sama halnya denganku saat pertama kali menjadi seorang kakak, pertanyaan “Bu, benar dia adikku?” selalu terucap dari mulut kala melihat sosok bayi laki-laki yang sedang digendong ibu. Takjub dengan perubahan panggilan “kakak” yang orang tuaku berikan, membuatku sadar “mulai saat ini aku memang seorang kakak”.

Bagi mereka yang mempunyai saudara, kakak ataupun adik. Pastinya pernah mengalami pertengkaran, biasanya karena masalah sepele yang dibuat menjadi masalah besar. Bohong, jika ada yang bilang antara kakak beradik tak pernah bertengkar sepanjang hidupnya. Bahkan, sering terlintas dipikiran mereka, “kenapa Adikku harus lahir ke dunia ini?” atau “mengapa dia harus jadi Kakak yang sangat menyebalkan?”. Pertanyaan mengapa dan kenapa muncul saat melihat tingkah saudaranya.

Masing-masing kakak dan adik memilik sudut pandang pemikiran berbeda terhadap satu sama lain. Melihat dari sisi adik tentunya setiap adik berpikir sang kakak selalu bertingkah layaknya bos, menugasi ini dan itu. Dari sisi kakak, para kakak berpikir bahwa mereka akan selalu disalahkan orang tua saat terjadi masalah walau penyebab masalah bukan darinya. Namun, jika melihat dari sisi positif, si kakak ingin adiknya mandiri dan berani, sedangkan orang tuanya ingin si kakak lebih punya rasa taggung jawab dan melindungi.

Bagiku yang memiliki seorang adik, memang tak ada namanya ketenangan di rumah jika kami sudah bertemu. Itu yang membuat orang tua terkadang mengelus dada melihat tingkah kami yang masih kekanak-kanak jika sedang bertengkar. Orang tua mana yang ingin anak-anaknya bertengkar? Pastilah setiap orang tua ingin mereka akur. Jika sudah begitu, salah satu dari kami yang harus membuang ego agar pertengkaran cepat mereda, mengalah demi kebaikan.

Biarpun begitu, aku dan adik memiliki ikatan batin yang cukup kuat, ada saat di mana kami dapat mengetahui kondisi satu sama lain tanpa harus mengucap sepatah kata.Tiba-tiba adikku bisa tahu jika kakaknya sedang menginginkan sesuatu atau sedang memikirkan sesuatu. Itulah perasaan seseorang yang memiliki saudara, kita tidak benar-benar sendiri karena ada seseorang yang bisa mengerti.

Banyak suka duka yang telah kami lalui bersama-sama karena kami tumbuh dan dibesarkan bersama. Tak heran, meski ada kakak adik yang sifatnya berbeda 180 derajat, tapi pasti ada kesaamaan yang mereka miliki. Aku dan adik pun punya kesamaan, yaitu selera humor, beberapa genre buku dan makanan favorit. Biasanya, jika sedang akur, kami biasa menghabiskan waktu untuk menonton acara komedi di televisi atau makan bersama.

Di beberapa momen, kakak beradik akan menyadari kehadiran satu sama lain ketika salah satu dari mereka tidak berada di rumah, sadar terasa ada yang berbeda jika tak melihat kehadirannya. Terkadang timbul perasaan rindu namun canggung untuk diungkapkan. Biasanya mereka akan mencari dan membuat alasan sampai mendapat kabar dari saudaranya.

Di hubungan kakak beradik, pertengkaran menjadi bumbu pelengkap dalam ikatan persaudaraan. Sebenci-bencinya dengan saudara, tidak ada yang namanya mantan saudara. Harapan dan doa setiap kakak sama, ingin adiknya selalu sehat, dilancarkan dalam setiap urusan di hidupnya, dan terhindar dari hal-hal negatif. Harapanku pada adikku, semoga kami bisa bersama-sama membahagiakan orang tua, membalas jasa mereka yang telah merawat kami. [Almira Putri Kirana/PNJ]

Comments

comments