Pengabdian Guru, Sang Pahlawan Bangsa

Ilustrasi. (Istimewa)

Berkatnya, aku tahu dunia
Berkatnya, aku tahu aksara
Berkatnya, aku paham logika
Dan berkatnya, aku mengerti bahasa
Semua berkatmu, Guru..

Guru merupakan pahlawan pembangunan yang memiliki jiwa juang, semangat untuk berkorban, dan menjadi pionir bagi kemajuan masyarakat. Guru juga harus dapat memotivasi anak didiknya untuk dapat menyongsong perubahan di hari esok. Tanpa disadari, tidak sedikit guru yang sudah menanamkan hal tersebut dalam dirinya. Salah satunya Budiani Rahayu, seorang guru di SMK Cipta Insani Mandiri, Depok, Jawa Barat.

Banyak orang bilang bahwa guru adalah orangtua kedua anak di sekolah. Itulah yang ditanamkan oleh guruku yang satu ini. Tidak hanya sekedar mengenal nama siswanya, tetapi juga dekat dan peduli layaknya seorang ibu. Ia memahami sifat dan sikap siswa-siswinya satu per satu, sungguh teliti bukan?

Senyum dan tawanya membuat masa-masa sekolah terasa lebih hangat. Saat itu pelajaran matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang menegangkan, walaupun memang tetap banyak yang sulit memahaminya. Namun dengan penuh tanggung jawab, ia mencoba berbagai cara agar siswa-siswinya bisa mengerti dan paham dengan apa yang ia sampaikan.

Tidak hanya di sekolah, Ia juga mengajakku belajar di luar sekolah dengan teman-teman yang lain, seperti bimbingan belajar atau private class. Tujuannya sama sekali bukan karena uang, karena ia tidak pernah sekali pun memintaku membayar jasanya di luar sekolah. Ini lah yang membuat hatiku terketuk, mengapa masih ada rasa malas di diriku untuk belajar, padahal guruku sendiri berjuang keras demi masa depanku dan yang lain.

Selain di bidang akademik, ia juga mendidik sikap dan perilaku siswa-siswinya dengan cara yang baik. Tidak dengan emosi, tetapi seperti seorang sahabat yang menasihati sahabatnya sendiri. Rasa nyaman merupakan salah satu alasanku untuk tetap semangat belajar dan berperilaku baik. Ketika aku melakukan kesalahan, ia menegurku dan membuat diriku tersadar akan kesahalan yang seharusnya tidak diperbuat. Aku juga seperti memiliki sahabat yang mau mendengar keluh kesahku, juga memberi saran atas semua masalah yang kuceritakan.

Namun, lagi-lagi ada sebuah pepatah yang mengatakan “Sebaik-baiknya orang pasti ada yang mencela, dan seburuk-buruknya orang pasti ada yang membela”. Perjuangannya dalam membimbing siswa tidak sepenuhnya mulus. Ada beberapa siswa yang tidak suka dengannya, bahkan dibelakangnya terkadang sedikit mencela.

Mungkin pribadi kami memang berbeda-beda. Akupun tidak tahu guru sesempurna apa yang mereka inginkan. Tapi sosok Budiani Rahayu sudah cukup untukku. Sosoknya yang tulus, semangat, juga sabar menghadapi pribadi siswa yang berbeda-beda. Walaupun pendapatan guru non-PNS tidak sebanding dengan perjuangannya.

Dedikasinya tinggi terhadap dunia pendidikan, juga tak pernah kenal lelah dalam membimbing siswa. Inilah yang dinamakan pahlawan tanpa tanda jasa. Jasa akan keikhlasannya dalam mengabdikan diri untuk mengamalkan ilmunya pada generasi pahlawan masa kini yang masih perlu ditata moralnya. Sehingga tidak ada lagi kasus asusila pada pelajar, bullying, tawuran, anarki pelajar dan masih banyak lagi yang tidak seharusnya menghiasi media massa.

Terimakasih guru, atas warna yang telah engkau isi dalam hidupku, terimakasih telah menerangi duniaku dengan ilmu yang kau berikan. [Mulyani/PNJ]

Comments

comments