Mempersiapkan Diri Meraih Berkah Ramadhan

Hanya menunggu selang waktu kurang lebih satu bulan lagi, umat islam akan dihantarkan kembali menuju Ramadhan. Tentu kaum muslimin di seantero dunia sangat menanti kedatangan bulan yang penuh rahmat ini. Di mana umat muslim diberi kesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya yang telah diobral secara besar-besaran.

Ramadhan datang dengan sejuta keistimewaan dan pesonanya yang tidak dapat umat muslim jumpai di bulan-bulan lainnya. Pernahkah kita berpikir mengapa Allah SWT mewajibkan umat-Nya untuk melaksanakan shaum (menahan diri) selama sebulan penuh dari terbit fajar hingga tenggelam matahari serta qiyam (beribadah) di malam harinya?

Hal ini dikarenakan Allah SWT setiap tahun mendatangkan Ramadhan sebagai salah satu wujud kasih sayang-Nya kepada kita. Tanpa diundang ia datang membawa sejuta pesona dan keistimewaan serta memberikan berbagai manfaat dalam hidup dan kehidupan kita. Yakni melatih diri kita untuk senantiasa menahan hawa nafsu atau syahwat secara berulang-ulang. Hal tersebut disebabkan karena syahwat merupakan ancaman permanen terbesar dalam diri orang-orang beriman.

Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. {QS. Al-Baqarah : 183}

Dengan melaksanakan shaum dapat melatih kita untuk meraih derajat taqwa yang merupakan derajat tertinggi di sisi Allah SWT {QS. Al-Hujurat : 13} dan untuk meraih ketaqwaan itu sangat erat kaitannya dengan kemampuan memenej syahwat.

BACA JUGA:  Kota Depok Boyong 61 Medali di Porda Jabar 2018

Sebagai umat muslim, tentu kita tidak mau Ramadhan yang penuh kemuliaan ini terlewatkan begitu saja hanya karena kita tidak mampu menahan syahwat bukan? Maka dari itu terdapat empat situasi yang perlu kita renungkan dan perhatikan agar kita senantiasa mampu meraih kemuliaan Ramadhan.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan

Saat ini kita sudah memasuki pada tahap yang satu ini. Lantas hal yang dapat kita lakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan adalah dengan berdoa kepada Allah SWT agar diberi kesempatan menemui Ramadhan. Doa yang biasa dipanjatkan oleh para Sahabat Rasul, ialah : Yaa Allah sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, sampaikan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.

Kedua, saat memasuki Ramadhan

Contoh nyata dari Rasulullah SAW dan para Sahabat ketika menyambut Ramadhan adalah menyambutnya dengan suka cita sembari membacakan doa : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikan hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, dan taufik kepada yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabb kami dan Rabbmu (hilal) adalah Allah. {HR. Addaromi}

Berbeda halnya dengan kebiasaan yang sering kita lihat saat ini, ketika hilal dinyatakan muncul pertanda telah memasuki Ramadhan, banyak dari masyarakat yang masih melakukan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Kirim 30 Ton Paket Superqurban dan 15 Truk Bantuan Logistik untuk Palu - Donggala

Ketiga, setelah memasuki Ramadhan

Hal yang perlu diperhatikan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari atau pada saat kita shaum adalah dengan meningkatkan kemampuan menahan syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan kita dari mengingat dan mencintai Allah SWT dan akhirat.

Setelah sepanjang hari melakukan shaum serta menahan diri dari segala syahwat, hal yang dilakukan pada malam harinya adalah dengan memantapkan ibadah, seperti qiyam atau shalat tarawih, berdzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan ibadah yang lainnya. Tentunya selama Ramadhan, kita difokuskan untuk bertaqorrub kepada Allah SWT saat siang maupun malam.

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

Menurut persepsi dan perilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung. Kemudian yang terjadi adalah munculnya syahwat cinta dunia yang tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan.

Padahal kita mengetahui bahwa janji Allah yang bernama Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari 1.000 bulan. Lalu mengapa kita masih terlena dengan syahwat duniawi yang bersifat fana ini. Alhasil ibadah Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan penuh akan berujung pada kesia-siaan. Apakah kita tidak tertarik dengan janji Allah yang amat agung tersebut? Jika kita tertarik tentunya kita akan memanfaatkan betul momen pada 10 terakhir Ramadhan ini dengan cara memperbanyak amal shalih serta melakukan i’tikaf seperti yang Rasulullah SAW ajarkan. Sebab, 10 hari itulah umur kita yang paling mahal nilainya.

BACA JUGA:  Demi Kemajuan Indonesia Harus Lakukan Revolusi Pendidikan 4.0

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW I’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. (HR. Imam Bukhari)

Mukjizat atau kemuliaan ibadah Ramadhan akan kita raih apabila kita mampu segala bentuk ibadah diperuntukkan hanya kepada Allah SWT. Sejatinya, amanah dan kewajiban yang dibebankan Allah kepada kita adalah sebuah kemulian dan perdagangan yang selalu untung dan tidak pernah rugi.

Dengan memperhatikan keempat situasi di atas diharap dapat menambah kesiapan dan kesadaran kita yang datang dari lubuk hati untuk melakukan ibadah Ramadhan ikhlas karena Allah SWT dan menjadi habit (kebiasaan) yang berlanjut setelah Ramadhan usai, sampai bertemu Ramadhan berikutnya.

Oleh: Iqlima Fairuz Syifa
(Mahasiswa STEI SEBI, Depok)

Comments

comments