Memendam Rindu di Kota Petir

Pagi ini tak secerah pagi kemarin
Aku yakin pagi ini sedang pilu
Ia tahu kerinduanku tentang ibu
Walau tugas kuliahku tak mau tahu
Aku yakin semua ini pasti berlalu

Ku tetap tegar dan ikhlas jalani
Semua ini karena sebuah mimpi
Agar aku dapat menjadi anak yang berbakti
Membahagiakan kedua orangtuaku nanti
Memberangkatkannya ke tanah suci

Rasanya gas motorku tak ingin ku tarik pelan-pelan, jika kutarik aku akan menjauhi ibu dari pandanganku di depan. Aku tak ingin melambaikannya dengan sebuah tangan, karena aku yakin ini pertanda sebuah perpisahan, “Ibu aku pergi, doakan aku sukses nanti.” teriakku kepada ibu sambil menengok ke arah belakang. Aku melihat ada sebuah senyuman, senyuman itulah yang akan membuatku kuat dan tegar dari kejauhan.

Senyuman di wajah ibu memberi tanda, bahwa aku sudah tak lagi remaja, aku harus kuat dan tak boleh manja. Namun apa daya di jalan hujan datang menerpa, Tuhan tahu aku ingin menangis dan menerka, Ia tahu dimana kapan aku harus bahagia, menangis dan berdoa. Dalam tangis nan berlinangan air mata, bibirku terbuka dan berkata, “Aku tak ingin pulang, aku ingin tetap bersama ibu, aku tak ingin jauh darinya, ya Allah mengapa rindu ini menyiksaku.”

Pagi inipun aku pergi dengan rasa kasihan, terlalu banyak tangisan yang aku pendam dalam kesendirian. Ayah terjatuh dari shalat subuhnya, ayah sakit, ayah tak kuat menahan dinginnya malam, aku yakin itu semua sebabku, sebab aku pulang ayah jadi tertidur di lantai. Kapan semua ini akan berlalu, kuliah selesai, lalu kerja, dan aku akan bisa membelikan ayah kasur baru yang empuk dan nyaman. Aku tak ingin masa muda ayah terulang kembali, tertidur di tanah tanpa alas dan kedinginan. Berkali-kali ku lihat rengitan diwajah ayah, aku berjanji suatu saat aku akan membawa toga pulang kerumah. Tetapi entahlah, sampai kapan aku tega membuat ayah dan ibuku menunggu lebih lama.

Rengitan ayah saat itu sama, sama seperti saat aku melihat mata ayah yang memerah dan bernyenyehkan air mata, kantuknya tak tertahankan hingga ayah ditegur oleh majikannya. Aku hanya bisa diam, melihat, lalu menunduk dengan iba. Sudah 20 tahun lamanya ayah menjadi supir pribadi, ayah dulu juga punya mimpi, namun masa mudanya telah lama terlampaui tanpa arti, ayah berjanji akan menyekolahkanku tinggi-tinggi, agar aku bisa hidup enak dikemudian hari.

Ibu ayah doakan aku, aku berjanji akan membawa pulang segudang prestasi dan mimpi yang akan membanggakanmu nanti, aku akan mengabulkan segala harapanmu yang telah kau titipkan dalam doa untuk anakmu ini.

Maafkan aku, namun terkadang tubuh dan kemampuanku tak dapat membantu, tugas kuliahku menunggu, dan aku tetap termangu dalam rindu. Aku yakin semua ini pasti berlalu, perlahan kutuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf, hingga akhirnya menjadi sebuah karya tulisan. Aku hanya ingin menulis, dan terus menulis, semua ini kulakukan hanya untuk segera mengakhiri rinduku kepada ibu.

Ibu ayah kota petir memang indah, namun tetap saja rumahlah tempatku untuk berkeluh kesah. Disini terlalu banyak petir dan hujan yang membuatku basah dalam berpikir, “Aku tak ingin lebih lama lagi menunggu, akankah angan dan harapan berhenti berseteru”.

Pagi ini kuteguk kembali kepahitan hidup di bawah redupnya cahaya lampu kamar kos nomor 7, aku merasa sangat sepi dengan rintikan hujan yang membasahi kerinduanku kepada ibu. Aku rindu, dan pagi ini tak mau tahu. Aku harus tetap bergegas ke kampus untuk menuntut ilmu, dan membawa pulang mimpi ayah yang telah lama berlalu.

Ku hampiri balkon utama dan kutarik napas dalam-dalam, lalu kuhembuskan kembali rinduku lewat mulut yang berbaur dengan embun pagi yang begitu sejuk. Aku berharap, aku dapat bisa membuka tanganku selebar sayap pesawat, agar aku bisa memeluk ibu dari kejauhan. Kutatap atap langit begitu sendu, warnanya terlihat sangat abu-abu, hingga akhirnya mengubah suasana rinduku menjadi debu, aku terbius dan terlupakan oleh waktu.

Hujan telah berhenti. Hingga akhirnya aku teringat, bahwa aku harus segera bangkit dari pikiranku dan bergegas pergi ke kampus, karena dosen mata kuliah penulisan featureku akan mengumpulkan tugas yang telah diberikan kepadaku minggu lalu. Kuseret langkahku dengan penuh kelemahan dan kuyakinkan rinduku pasti akan bermuara pada sebuah harapan. [Athallah Muti]

Comments

comments