Melampaui Batas Bahagiaku

Ilustrasi. (Istimewa)

Seperti ini yang mengartikan surga di bawah telapak kaki ibu. Berjalan saat matahari belum muncul di singsananya, sampai langit dihiasi rembulan. Ia tetap berjuang, sendirian. Terjangan ombak ia hantam dan jalan berduri ia tempuh, hanya untuk masa depan anak-anaknya. Tangis dan rintihan dalam sepertiga malam, memohon pada semesta agar sang anak hidup bahagia.

Banyak manusia menangis hingga tersedak saat mendengar kata ‘Ibu’. Perempuan berhati mulia ini banyak yang menyebutnya malaikat tanpa sayap. Hal-hal indah, dan haru melekat pada sosoknya. Tapi, kenapa hatiku keras seakan bahwa ibu hanya manusia seperti pada umumnya. Ada apa denganku?

Aku terlahir sebagai anak yang kurang beruntung, keluargaku tidak memiliki kasih sayang dari ayah. Ia pergi saat aku umur sebelas bulan, baru bisa menangis dan menangis. Bahkan saat pertama kali kubuka mata ini, dirinya tidak ada di samping ibu.

Ayahku pergi, untuk hidup bersama wanita lain. Sementara ibuku hidup sendirian, bekerja untuk menghidupi empat orang anaknya. Mungkin lebih baik, karena ibu tidak pantas disakiti.

Meski sayap-sayap hati ibuku telah patah, ia masih menghidangkan sejuta senyuman manis ke anak-anaknya untuk menutupi segala luka. Seakan ia mengatakan ‘aku baik-baik saja’. Sejak saat itu ibuku hidup di jalan, berlari dari perusahaan yang satu hingga ke lainnya.

Suatu ketika, waktu diriku masih kecil dan penuh emosional aku melukai hatinya. Mungkin ini hanya mengakibatkan kenangan buruk kembali terputar. “Nyesel gue lahirin lu,” ucapnya penuh marah. Aku mengingatnya, tatap itu ialah kebencian yang tidak pernah aku harapan dari sosok ibu yang lemah lembut. Mulai saat itu aku membencinya.

Tahun-tahun berikutnya aku masih saja berhati beku. Aku menganggap bahwa ibu adalah seseorang yang hanya bekerja untuk mencari uang, tidak lebih dari itu. Bahkan, aku tidak melihat sosok malaikat dalam diri ibu. Hatiku seperti terkunci dengan sendirinya, tak peduli seberapa lelah ia berjalan, yang kutahu ia pulang membawa makanan.

Kenangan itu terus melakat dalam otakku, terputar setiap harinya. Aku merasa untuk apa aku hidup di dunia ini, kalau orang yang melahirkanku saja menyesal. Benar-benar aku ini tidak beruntung. Ditambah lagi, rasa iri dan cemburu melihat teman-teman bercanda gurau dengan sang ibunda. Aku melihat lagi ke dalam diriku, hal itu seperti imajinasi dalam tidurku.

Ibuku memang manusia super sibuk, tak ada kata libur dalam kamus kehidupannya. Semua waktu dalam seminggu ia gunakan untuk terus bekerja. Ia bahkan tak punya waktu, untuk sekadar makan bersama anak-anaknya.

Sering kali aku berbohong kepada orang banyak, mengatakan bahwa ibuku adalah ibu yang hebat, ibu yang kubanggakan. Bohong. Aku berpikir, orang lain tidak perlu tahu bagaimana hubungan asliku dengan ibuku yang tidak punya waktu untuk bersantai di rumah. Seakan-akan aku telah membuat pagar tinggi sebagai pembatas, mengekalkan.

Hingga tahun demi tahun berganti, wajah ibuku semakin menua, kerutan-kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas, urat-urat di tangannya mulai timbul, pipinya mulai menirus, rambut hitam ibuku perlahan berubah menjadi putih, hanya satu yang tidak berubah, yaitu semangat hidupnya. Perjuangannya, terutama untukku. Ia berusaha setengah mati agar diriku bisa belajar hingga perguruan tinggi, tidak seperti ketiga kakaku yang hanya lulusan di SMA.

Ibuku selalu berbondong-bondong agar aku bisa mendapat beasiswa, karena ibuku sadar ia tak mampu. Dengan gaji 400 ribu per bulan, sampai mana? Ia pernah berkata padaku, perkataan yang membuatku sadar bahwa dirinya telah lelah berjuang, “Kalau gak dapet beasiswa, enggak usah kuliah ya, ibu gak punya duit”.

Saat itu aku ingin menangis dalam pelukannya, tapi aku tak mampu melakukan itu. Aku hanya membalas dengan senyuman. Akhirnya aku memilih merintih di hadapan Tuhan, ternyata yang seharusnya menyesal adalah diriku. Kenapa aku sangat mudah membenci ibuku yang melahirkanku, yang membesarkanku seorang diri, bahkan yang mati-matian ingin aku memiliki pendidikan tinggi. Tuhan, selama ini aku salah menilai malaikat pemberian darimu.

Sejak saat itu, sosok ibu kembali menerang dalam gulita di hidupku. Sifat tak acuhku perlahan menghilang, aku bahkan marah padanya jika terlalu sibuk bekerja. Walaupun sebagai ganjarannya, aku yang mengantikan ia bekerja. Tak apa-apa, bagiku itu bahkan belum ada apa-apanya dibanding dengan perjuangannya selama ini.

Kini saatnya aku untuk yang gantian membahagiakannya, yang berjuang untuknya di sisa umur yang tidak aku ketahui. Aku hanya ingin membahagiakan ibuku. Maaf Bu, aku lambat menyadari bahwa kau memang si malaikat tanpa sayap.

Ibu jika kau membaca ini, aku ingin memastikan satu hal padamu. Kalau aku akan terlahir kembali, aku tetap ingin mempunyai ibu sebagai ibuku. Meski tanpa ayah, bahagiaku sudah melampaui batas karenamu, dan aku manusia beruntung karena memilikimu. Bu, maaf aku sebenarnya menyayangimu. [Erfah Nanda Sentra Wijaya/PNJ]

Comments

comments