Matinya Fungsi Akal dengan Meneguk Miras Oplosan

Ilustrasi. (Istimewa)

Fenomena miras oplosan bukanlah hal baru yang terjadi di Indonesia, banyak masyarakat awam yang masih tergiur oleh minuman “setan” ini. Beberapa kasus seperti di Bekasi yang menewaskan 2 orang, di Depok pada 3 April sejumlah 7 orang tewas, dan yang terbaru didaerah Cicalengka, Bandung yang menewaskan 21 orang pada tanggal 9 april 2018. Petaka ini dimulai saat beberapa orang yang sedang berkumpul meminum miras oplosan yang disebut “ginseng” yang diduga dicampur dengan obat nyamuk cair, dan alkohol murni.

Sangat disayangkan bagi para korban yang meminum miras oplosan ini, dilihat dari pembuatannya saja sudah ngeri membayangkannya dan apalagi sampai meminumnya. Jika boleh jujur, saya lebih memilih makanan yang mengandung sedikit lemak babi ketimbang meminum miras oplosan yang sudah jelas-jelas tahu bahannya adalah bahan yang tidak boleh dimakan. Ini mencerminkan matinya fungsi akal sebagai manusia yang salah satu fungsi akal adalah memilah dan merasionalisasikan apa yang baik bagi seorang manusia, dan sangat mencerminkan kedangkalan berfikir bagi mereka yang meneguk miras oplosan.

Ada dua perspektif mengenai hal ini yang harus diperhatikan, apa penyebab seseorang meminum miras oplosan dan penjual yang menjual miras oplosan. Menurut konsumen, miras oplosan dikonsumsi untuk sekedar menghilangkan stress akibat tekanan, menyegarkan pikiran, dan menghangatkan badan. Dikotomi ini adalah hal yang sangat keliru yang sudah beredar dimasyarakat (jika faktor ekonomi, hal ini tidak termasuk). Lalu dari sisi sang penjual, keuntungan yang ditawarkan dalam menjual miras oplosan ini terhitung menggiurkan karena seplastik miras yang sudah dicampur dengan berbagai bahan yang berbahaya dihargai Rp 10.000- Rp 15000 tergantung jenis minumannya.

Akal diberikan oleh tuhan untuk kita lebih bijaksana dalam melakukan setiap perbuatan baik secara individu maupun kolektif. Apabila kita tidak menggunakan akal sebaik mungkin, dalam perspektif teologis adalah sebuah dosa. Akal adalah alat penyaring bagi kehidupan eksternal yang mungkin belum dimengerti, tetapi akal memahami. Bahkan ada suatu budaya di suatu wilayah bahwasannya orang yg mati karena menenggak miras oplosan, jenazahnya haram disolatlkan. Ini tentu menjadi beban moral untuk keluarga yang bersangkutan dan pastinya menimbulkan kerugian material juga karena efek dari miras oplosan ini.

Dari fenomena ini juga menandai bagaimana lemahnya pengawasan miras yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah cenderung reaktif dalam menangani masalah miras oplosan ini, dan kurang bersikap antisipatif. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan lama sekali sudah menjadi kebiasaan buruk di masyarakat. Menurut saya pemerintah harus membuat UU yang masuk dalam Prolegnas mengenai peraturan miras ini khususnya bagi para penjual dan peracik miras oplosan untuk mencegah berjatuhan korban dikemudian hari. Selain pemerintah, saya berharap masyarakat juga lebih waspada terhadap perederan miras ini karena bisa berdampak domino apabila dibiarkan saja.

Sosialisasi tentang bahaya miras juga mesti gencar dilakukan agar masyarakat yang masih belum mengerti akan bahayanya miras oplosan sadar dan menjauhi barang haram tersebut. Selain pemerintah, Masyarakat dituntut lebih aktif dalam memberantas peredaran miras oplosan dengan melaporkan apabila ada indikasi penjualan miras didaerahnya guna melindungi generasi selanjutnya dari bahayanya miras oplosan.

Dimas Ramdan Nanto
Wasekjen Himpunan Mahasiswa Politik Fakultas.
FISIP UIN Syarief Hidayatullah Jakarta (Semester 6).

Comments

comments