Kekuatan dari Ayah

Ilustrasi ayah dan putrinya. (Istimewa)

Setiap Ayah sejatinya adalah pria yang menjadi cinta pertama bagi putrinya. Kekuatan sekaligus kesabaran dalam diri seorang Ayah menjadi inspirasi bagiku, anaknya. Setiap aku melewati suatu rintangan dalam roda kehidupan aku selalu mengingat bagaimana kuatnya Ayah agar aku pun kembali semangat dan bangkit. Ayah merupakan satu sosok nyata untuk meyakinkan bahwa seberat apapun dunia pasti dapat diselesaikan dengan usaha dan doa.

Ayah pria kelahiran 1962, asal Purwokerto, Jawa Tengah ini sudah hidup sederhana sejak muda. “Saat sekolah dulu Ayah hampir tak pernah jajan, biasanya ia mengolah sendiri kue yang berbahan dari kelapa parut dan gula merah. Itulah yang biasanya Ayah makan saat istirahat sekolah,” ujar Ayah sembari mengenang masa-masa mudanya. “Jika Ayah ingin jajan atau membeli sesuatu, Ayah harus bekerja dulu memungut shuttlecock di lapangan badminton. Upah dari situ baru bisa untuk jajan.”

Ayah bercerita ia terbiasa selalu bersusah payah dahulu sebelum mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Hal itulah yang menumbuhkan sifat pekerja keras dan tekun dalam diri Ayah. Sifat itu pula yang Ayah tanamkan kepada anak-anaknya bahwa semua hal harus dicapai dengan usaha, bahkan ada usaha yang harus membuat kita tertatih terlebih dahulu. Namun, dengan kesungguhan dan kesabaran semuanya pasti bisa dicapai.

Kesabaran pun masih harus ia hadapi saat dirinya mulai dewasa. Ia terpaksa tak dapat mengenyam bangku kuliah karena kondisi ekonomi keluarga yang tak mencukupi. Ia pun harus puas dengan predikat lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM). Ayah sempat merasa ragu. Pekerjaan apa yang bisa didapatkan dengan hanya lulus STM? Tak terbayangkan. Mendapat gaji untuk sekadar dapat membiayai makan sehari-hari menjadi alasan utamanya memulai perjuangan besarnya. Merantau menjadi pilihan. Keluar dari zona nyaman merupakan suatu keharusan. Berbekal info seadanya dari seorang temannya berangkatlah ia ke kota yang menjadi tujuan perantauan.. Dengan jarak 400 km dari Purwokerto menuju Bogor, ia tempuh seorang diri. Bermodalkan tiket bus di tangan dan sedikit tambahan uang saku untuk biaya makan. Tidak adanya sanak sodara atau teman yang berada di kota tujuan tak membuat Ayah takut untuk memulai petualangannya. Akhirnya ia sampai di sebuah perusahaan swasta PT Indocement Tunggal Prakasa yang berlokasi di Citereup, Bogor, Jawa Barat.

Ayah berani mengikuti ujian dan wawancara, walaupun pada umumnya pelamar lain bergelar D-3 atau bahkan sudah sarjana. Namun, ia yang lulusan STM mantab mengikuti test tersebut. Usai menjalani test bagi pelamar, Ayah kembali dilanda kebingungan karena pengumuman lolosnya pelamar akan diberitahukan esok harinya. Sedangkan ia tidak punya teman atau saudara di Bogor untuk menjadi tempat singgah satu malam. Ia berusaha bertanya pada pihak perusahaan tersebut apakah hasil ujiannya bisa diumumkan hari ini juga? Jika tidak, maka Ayah harus rela tidur di musala terdekat. Nasib baik menghampirinya, pihak perusahaan memberitahukan hasil ujiannya. Ia pun dinyatakan diterima di perusahaan swasta pengolah semen tersebut, senang bukan main rasanya.

Menuju usia paruh baya Ayah masih memiliki banyak tanggungan yang harus ia kerjakan. Orang tuanya yang mulai menuju usia senja memutuskan untuk pindah rumah dekat dengan kediamannya di Bogor. Alhasil, selama satu tahun Ia sibuk mencari tanah dan membangun rumah untuk orang tuanya. Ia memilih lokasi rumah yang dekat dengan sebuah masjid, agar orang tuanya selalu semangat beribadah kepada Allah. Setelah satu tahun lamanya, rumah untuk bapak dan ibunya selesai dibangun, mereka pun pindah ke kediaman barunya. Tak jarang, Ayah singgah terlebih dahulu untuk mengurus mereka sepulang kerja. Penat hasil bekerja seharian tak juga mendapat tempat. Ayah lebih mengutamakan bakti daripada diri sendiri.

Suatu saat kedua orang tua Ayah sakit parah bersamaan. Mereka hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ayah pun harus sabar merawat keduanya. Dari mulai membopong untuk berobat ke rumah sakit, membersihkan popok, menyuapi makan, hingga mengajari jalan harus ia lakoni demi kesembuhan kedua orang tuanya. Terkadang ia baru bisa pulang ke rumah ketika larut malam. Raut lelahnya tak bisa disembunyikan. Tubuhnya letih dipenuhi beban. Ia terus telaten mengurus kedua orang tuanya hingga mereka wafat. Satu tugas besarnya telah berhasil dijalani dengan sepenuh hati.

Sosok yang tak pernah berhenti menyambung doa di akhir malam

Usaha itu sebuah keharusan, namun doa menjadi pelengkap bagi semua perjalanan, dapat dikatakan Ayah tak pernah absen untuk solat tahajud setiap malam lalu disambung dengan memanjatkan berbagai doa. Ayah selalu mengingatkan bahwa “Manusia itu mahluk yang kecil dan lemah. Manusia dapat menggapai sesuatu bukan karena dirinya hebat melainkan karena Allah yang memudahkan segala urusan manusia itu. Maka doa dan bepasrah kepada Allah menjadi suatu pelengkap bagi usaha manusia yang bisa dibilang sangat remeh apabila dibandingkan dengan kekuatan Allah. Doa menjadi tanda bahwa manusia butuh pertolongan Allah.” ujar Ayah.

Sifat Ayah yang selalu berusaha untuk mendekat kepada Allah menjadi hal yang paling ingin aku tiru. Ayah selalu mengedepankan urusan ibadah dibanding urusan dunia. Salah satunya, Ayah lebih mempriotaskan tabungan ibadah haji daripada kebutuhan lainnya. Bertahun-tahun lamanya Ayah terus menyisihkan sebagian uang gaji, ahirnya pada tahun 2012, satu diantara banyaknya mimpi Ayah terwujud. Ayah pun berangkat ke tanah suci untuk menunaikan rukun islam kelima.

Kini Ayah yang mulai menua akan pensiun bekerja. Sudah menjadi tugasku mulai bekerja keras seperti Ayah, agar kelak aku dapat merawat Ayah dan ibuku seperti mereka mengurus orang tuanya. Mimpi besar terakhir Ayah, Ayah ingin agar hidup anak-anaknya bisa berjalan lebih baik daripada hidupnya. Pada akhirnya, kesabaran, kebaikan, dan keteguhan dalam diri Ayah akan kujadikan contoh sebagai bekal untuk meniti masa depan. Tak lupa dilengkapi dengan selalu berdoa, agar Allah sang Maha Kuasa selalu mempermudah urusan yang sedang dan akan berjalan. [Niken Pangesti]

Comments

comments