Kasih Sayangnya Tak Kalah Dengan Ibu dan Ayah

Ilustrasi. (Istimewa)

Jika bukan ia yang menjaga, siapa lagi? Jika bukan mengeluh padanya, ke mana lagi? Ia selalu ada setiap suka dan duka menemani indahnya hari. Kasih sayangnya tak kalah dengan ibu dan ayah. Dijaga olehnya aku merasa istimewa.

Terlahir memiliki kedua orang tua lengkap, merupakan dambaan tiap insan manusia. Apalagi jika memiliki seorang kakak laki-laki yang siap menjaga. Menjaga dari marabahaya dan mengasihi secara sukacita. Hari demi hari kulewati bersamanya, dengan kasih sayang yang tak terhingga.

Sejak kecil selalu bersama, genggamannya selalu erat memegang tanganku. Diajaknya pergi mengaji hingga bermain bersama, tak pernah lepas pandangannya untuk menjagaku sebagai adiknya. Jika ada teman sebaya yang mencoba menggoda, ia pun siap menghadang bak ksatria. Nalurinya sebagai kakak untuk melindungi sang adik pun muncul begitu saja.

Memiliki sosok sang kakak adalah anugerah yang telah diberikan oleh Maha Kuasa dalam hidupku. Selain menjaga, ia juga pengganti ibu yang siap mengajariku. Masih berbekas dalam ingatanku, di mana saat itu aku diajar mengenal huruf olehnya.

Satu per satu huruf alphabet keluar dari mulut manisnya, aku pun mengamatinya dan mencoba mengerti apa yang diucapkan olehnya. Dengan sabar ia menuntunku agar mengerti apa yang diajarkannya. Boleh dikatakan, dia lah sekolah keduaku setelah ibu.

Sebagai sepasang adik dan kakak tentu saja ada hal kecil yang selalu dipermasalahkan, hingga akhirnya menjadi bertengkar. Sifat yang dimiliki tak selalu sama, ada saja perbedaan didalamnya. Walaupun begitu tak lama saling memaafkan, mengingat indahnya hari telah dilewati bersama sebagi adik dan kakak.

Kini usianya beranjak dewasa, begitu pula denganku. Sempat terbesit dalam benakku, jika ia mulai memiliki sepasang kekasih. Apakah dia tetap menyayangiku? Apakah dia tetap menjagaku? Apakah dia akan selalu ada untukku? Pertanyaan demi pertanyaan itu muncul hingga timbul rasa cemburu. Bukan rasa cemburu biasa, ini beda, rasa cemburu adik akan sang kakak yang takut diduakan rasa kasih sayangnya.

Lambat laun aku pun mengerti, pada dasarnya tiap insan telah diciptakan berpasangan oleh sang pencipta. Siapapun dia, aku hanya berharap agar kakakku tak tersakiti hatinya suatu hari nanti, dan aku hanya berharap kakakku tetap seperti dulu, tetap mencintai dan mengasihiku.

Kini yang kulalui denganya, bukan lagi bermain permainan anak-anak. Melainkan bertukar cerita akan kesibukan masing-masing, saling memberi solusi, dan saling memahami bahwa saat ini kita sama-sama sudah dewasa sudah mengerti indahnya dunia diluar sana. Walaupun saat ini ia tak selalu ada disampingku, tapi ku yakin ia tetap menjagaku lewat doanya. [Witri Nasuha/PNJ]

Comments

comments