Kasih Sayang dari Orang Ketiga

Ilustrasi. (Istimewa)

Ikatan antara seorang ibu dan anak memang sudah tak bisa dipisahkan. Sama halnya dengan kasih sayang yang datang dari orang ketiga setelah ayah dan ibu, dari tante kepada keponakannya yang tak pernah lenyap. Mendengar kata tante membuat hati aku selalu teringat akan perjuanganmu yang begitu hebat. Bagiku tante ibu kedua pelindungku, setelah ibuku.

Aku mempunyai keluarga yang lengkap. Tak jarang juga tanteku lah yang membantu ibuku ketika sedang berjualan. Karena kedekatan ini lah, tanteku ikut merawat dan menjagaku hingga aku tumbuh dewasa. Perjuanganmu yang bernilai besar ini akan selalu kuingat sampai besar nanti dan akan berbalas budi kepada anak-anakmu nantinya.

Dengan tangan halusnya dirimu yang membangkitkan di saat aku terpuruk, dengan mengelus rambutktu, bahkan jika aku tidak mendengarkan nasihat yang diberikan tak sesekali tangan halusmu mencubit halus diriku. Saat masih kecil, aku teringat tanteku yang selalu mengajarkanku membaca kumpulan huruf. Itu lah yang sudah menjadi kebiasaan tanteku untuk mengajarkanku.

Tidak menjadi sosok seorang ibu saja, tanteku bisa menjadi panutan dalam hidupku dan layaknya seorang sahabat. Saling menceritakan dengan isi hati masing-masing dan diiringi dengan keluh kesah, gelak tawa, dan air mata yang menetes. Tanteku selalu menjadi pendengar terbaik, saat hidupku terasa pelik dengan beragam masalah, baik di kampus atau pun di luar kampus, tanteku selalu siap mendengarkan setiap curahanku. Bahkan, tak hanya menjadi pendengar yang baik, dan kerap kali memberikan nasihat yang menenangkan hatiku.

Telah banyak perjuangan yang ia lakukan, Aku berdoa agar Tuhan menjaga dan melindungi tanteku. Aku memang belum bisa untuk membahagiakan tanteku. Dan tak banyak yang bisa aku lakukan untuk meringankan beban hidupmu.

Sebagai wujud rasa terima kasih, aku selalu merawat tanteku ketika jatuh sakit dengan ketulusan hati serta kesabaran aku dapat menjadi penyemangat, agar tanteku kembali sehat dan menemukan kembali semangatnya seperti sedia kala. Demikianlah sebagian kecil yang bisa aku lakukan sebagai timbal balik telah merawatku. Banyak pengorbanan yang diberikan demi kesenanganku.

Terkadang, aku pun pernah membuat luka perasaan tanteku dengan bicara tutur kata tidak sopan sehingga membuat luka perasaannya. Padahal ia juga yang menjadi salah satu orang yang telah mengorbankan waktunya untuk diriku. Walaupun begitu, tanteku tetap sabar merawatku. Aku mencintai tanteku seperti air mencintai pohon dan sinar matahari. Dia membantuku tumbuh, makmur, dan mencapai puncak yang besar. Terima kasih tanteku. [Dewi Ardianti/PNJ]

Comments

comments