Kasih Sayang Ayah di Mata Anaknya

Ilustrasi. (Istimewa)

Terima Kasih Ayah..
Kasih dan sayangmu tak ada hentinya..
Di setiap hari-harimu selalu terselip doa untukku..
Doa yang slalu menemani langkahku..

Sepenggal puisi karya Sinta Dian Pertiwi yang diambil dari jejaring media sosial Wattpad ini adalah ungkapan terima kasih anak kepada ayahnya. Sama halnya dengan Ayahku yang dikenal sebagai pribadi yang tegas namun penyayang. Ia memang tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa ia menyayangi kedua anaknya. Namun, ia menunjukkan kasih sayangnya melalui tindakan.

Ketika aku ingin berangkat kuliah, Ayah selalu mengantarkanku dan bertanya kepadaku “Pulang jam berapa? Nanti Ayah jemput ya!”. Perhatian kecil seperti itu selalu Ayah lontarkan ketika Ayah hendak menurunkanku dari motornya di Stasiun Tanah Abang. Jarak tempat tinggalku dan kampusku memang cukup jauh yang sering kali membuat Ayah selalu khawatir terhadapku.

Aku dikenal tomboy dan memiliki banyak teman laki-laki. Ketika aku ingin pergi sekadar menonton bioskop, hangout, atau ditraktir temanku makan maka Ayah selalu bertanya kepadaku “Ada teman perempuannya tidak? Kalau tidak ada, lebih baik tidak usah ikut!”. Begitu kalimat yang Ayah lontarkan setiap kali aku ingin pergi bersama teman laki-laki ku yang terkadang membuatku kesal. Ia pasti tidak akan mengizinkanku pergi, jika aku hanya perempuan satu-satunya yang ikut di dalamnya.

Tak jarang, Ayah juga sering menelponku puluhan kali, jika aku tak kunjung pulang ke rumah lebih dari pukul 10. Ketika aku tak menjawab teleponku, Ayah akan meminta Adik atau Ibu untuk menghubungiku juga. Sesampai dirumah, Ayah akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan yang sering kali aku sudah malas mendengarkannya “Kenapa telepon Ayah tidak diangkat, sih?”, “Kalau mau pulang jam 12, bilang dong!”.

Mendekati kuliah perdana, aku mengalami sakit yang cukup parah. Aku didiagnosis dokter terkena penyakit Hepatitis A yang disebabkan sering telat makan dan kelelahan. Saat itu aku tidak bisa makan sama sekali. Kalaupun aku makan pasti akan muntah, muka ku pucat, dan berat badanku turun sampai 3 kg. Ayah sangat khawatir akan hal itu, lebih khawatirnya dibandingkan Ibu. Karena sakitku sampai tak bisa masuk makanan, Ayah sampai menangis. Ia mengatakan kepadaku, jika aku sembuh nanti ia akan membeli semua makanan yang aku mau. Akhirnya aku sembuh dari sakitku. Aku merasa bersyukur, begitu pula dengan Ayah. Aku meminta Ayah membelikan beberapa makanan dan langsung ia turuti permintaanku.

Ketika hari libur tiba, tak jarang kami menghabiskan waktu di rumah dengan bernyanyi bersama. Musik yang kami sukai memang berbeda. Ayah memang menyukai band-band atau penyanyi terkenal pada zamannya, sedangkan aku menyukai musik tahun 2000an. Namun, tak jarang juga aku menyukai musik di zaman Ayah. Kami sama-sama menyukai Lionel Richie, Michael Learns to Rock, atau Stevie Wonder. Momen itu yang menjadi hal seru di akhir pekan yang ku habiskan bersama Ayah.

Semakin dewasa, aku memang semakin jarang berbincang dengan Ayah ditambah lagi dengan kesibukanku di kuliah yang seringkali pulang larut malam. Hingga momen Lebaran menjadi hal yang canggung bagiku, ketika Ayah mencium pipiku rasanya aneh sekali. Berbeda saat aku masih kecil yang senang ketika pipiku dicium Ayah.

Ayahku memang bukanlah ayah yang sempurna. Namun, perhatian kecil saja yang ia berikan kepadaku itu membuatku merasa disayangi olehnya. Kalimat yang mengatakan “Ayah adalah cinta pertama putrinya” memang benar adanya. Suatu saat nanti, setiap Ayah pasti akan menyerahkan putrinya kepada laki-laki yang ia percayai bisa menjaga putrinya. Dan saat itu pula, tanggung jawab seorang Ayah telah selesai. Tinggal dimana Ayah melihat putrinya bahagia dengan laki-laki yang dicintainya. [Suhaiela]

Comments

comments