Kalimat yang Menjadi Andalan Ibu Terhadap Anaknya

Ilustrasi. (Istimewa)

Ibu terhadap anaknya, akan selalu memiliki segudang ekspresi yang tak terucap, namun jika diucapkan hanya muncul kalimat-kalimat sakti yang menjadi andalan. Kalimat sakti tersebut mengandung makna tersirat yang mesti dipahami oleh anaknya.

Salah satunya adalah kalimat “tidak apa-apa”, sebuah kalimat yang menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Sedang ada sesuatu dalam dirinya yang disembunyikan, entah itu kekhawatiran, kemarahan, kekecewaan atau sekedar kalimat penenang.

“Tidak apa-apa,” kata Ibu ketika tidak sengaja aku terjatuh dari ayunan. “Tidak apa-apa,” kata Ibu saat umurku masih menginjak 5 tahun dan takut pada petir. Sejak kecil sampai saat tidak lulus masuk universitas impian, jawabnya “Tidak apa-apa, mungkin soalnya susah. Kamu kurang beruntung, bukan berarti tidak pandai kok.” Itu memang kalimat andalannya.

Hari masih gelap, matahari belum menerangi bumi. Sama seperti mataku yang masih gelap, tidak melihat apa-apa, pikiran kosong, belum meraih cahaya sama sekali. Tapi tidak dengan Ibu, walaupun matahari belum menunjukkan jejaknya, kedua matanya sudah menunjukkan cahaya terang dipagi hari untuk mengurus anak-anaknya.

Ibu, tidur disaat hari sudah gelap tapi bangun disaat dunia ini masih gelap. “Alarm terbaik” menjadi sebutan anak-anak SMA untuk Ibu karena hanya Ibu yang mengatakan waktu sudah pukul 7 pagi, padahal baru pukul 6 pagi.

Ibu, orang yang selalu memasak dan membuatkan bekal ke sekolah. Orang yang sangat peduli masalah kesehatan anak-anaknya terutama untuk mendapat asupan gizi yang cukup. Katanya, dengan membawa bekal aku bisa makan lebih sehat dan juga bisa menghemat.

Ibu, berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pantas saja ia kesal jika dulu, saat aku masih kecil, orang-orang selalu bilang aku ini kurus, padahal gizi dan makan sangat tercukupi.

Ibu, sumber pendidikan gratis yang tidak terkalahkan. Ibu memang berperan dalam hal mendidik, mulai dari pembelajaran akademik sampai pelajaran kehidupan yang tidak akan didapat di sekolah manapun. Sikap yang terbentuk, kejujuran, kebaikan, semuanya didapat dari didikan Ibu.

Ibu selalu tahu apabila ada sikap yang salah dan tidak baik dengan anaknya. Mungkin ia akan marah demi kebaikan sambil memberi nasihat agar anaknya tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Terkadang ia juga sembari menceritakan pengalamannya.

Ibu, apabila sakit, ia akan mengatakan ia kurang enak badan, kurang sehat, tidak langsung mengatakan kata “sakit”. Walaupun begitu ia akan tetap beraktivitas di rumah. “Tidak apa-apa,” menjadi kalimat andalan apabila anak-anaknya di rumah mencegah untuk melakukan pekerjaan rumah.

Ibu, orang yang paling mengerti dengan kemauan dan cita-cita anaknya. Selalu mengutamakan anaknya untuk menjadi lebih baik dari dia. Sedikit rasa kecewa terkadang terlintas bila tersadar aku belum berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai cita-citaku karena Ibu ingin semua tercapai. Lagi-lagi, kalimat “Tidak apa-apa,” terucap dari mulutnya.

Ibu, apabila anaknya mengalami hari yang buruk pasti akan selalu menjadi pendengar yang baik. Tidak lupa untuk memberi saran dan solusi atas kejadian yang terjadi. Ketika anaknya takut akan suatu kejadian, lagi-lagi ia mengeluarkan kalimat andalannya “Tidak apa-apa.” Asalkan jangan takut hantu, pasti akan dibilang penakut.

Ibu juga orang yang unik dan humoris. Setiap pergi dengan ibu pasti ada saja hal-hal lucu yang terjadi entah kami berdebat masalah jalan, melihat tingkah laku orang di jalan yang lucu atau mungkin menertawakan kelakuan kami yang sama-sama konyol.

Ibu, memang orang yang cepat panik. Entah urusan mobil yang mogok, jatuh dari motor, kemalingan sampai hal kecil lainnya seperti sakit perut. Dengan nada panik ia akan bertanya “Beneran gak apa-apa?” Semua itu karena khawatir dan sayang kepada anaknya.

Bagi orang lain, Ibu mungkin hanya berperan sebagai Ibu tapi untukku ia seakan membelah diri, berperan sebagai Ibu dan Ayah. Ia selalu ada bahkan disaat ayah meninggalkanku dan kedua kakakku. Mungkin berat mengurus tiga orang anak seorang diri walaupun umur kami sudah cukup besar tapi mungkin kebahagiaan seorang Ibu memang ditemukan saat mengurus anaknya.

Seberapa banyak rangkaian kata, seberapa banyak uang yang akan dihasilkan dari kesuksesan dimasa depan nanti, tidak akan pernah cukup untuk membayar seberapa besar kasih sayang dan kerja keras yang telah diperjuangkan oleh Ibu. Biarlah tulisan ini menjelaskan kasih yang tidak akan terbayar. [Indi Safitri/PNJ]

Comments

comments