Harapan Penjual Kantong Plastik

Hidup di Jakarta memang tidaklah mudah, asal perut dapat terisi berbagai pekerjaan dilakoni agar dapur tetap mengebul. Begitu pun dengan Bambang (27) menjual kantong plastik di Pasar Kebayoran Lama ia lakoni. Ibu – ibu yang berbelanja biasa membutuhkan kantong plastik ini untuk membawa barang belanjannya. Pria yang berasal dari daerah Brebes Jawa Tengah ini merantau mengadu nasib ke ibu kota demi perekenomian yang lebih baik.

Ayah dari satu orang anak ini mulai merantau sejak tahun 2010. Sehari – harinya ia mulai berjualan plastik dari pukul 05.00 – 17.00 WIB. “Hampir seharian sih mbak, ya tergantung penjualan saja, kalau lakunya cepet ya pulangnya cepet juga” ucapnya sambil tersenyum. Dalam sehari, Bambang dapat menjual sebanyak 50 – 70 kantong plastik dengan kisaran harga per kantongnya sekitar Rp. 1000.

Latar pendidikan yang hanya sampai Sekolah Dasar (SD), membuatnya sulit mencari pekerjaan. Walau dengan penghasilan yang pas-pasan Bambang tetap bersyukur. Semangatnya tak pernah berhenti untuk terus bekerja, walau terik matahari menyengat ke tubuhnya. Dari hasil jerih payahnya ini, ia mampu mengirimkan uang untuk anak dan istrinya setiap bulan.

Bisa dibilang, kehidupan Bambang juga jauh dari kata cukup. Untuk tempat melepas lelah sehabis bekerja, ia menyewa tempat seukuran 5 x 5 m di Daerah Cidodol. Jarak yang ditempuh menuju lokasi Pasar Kebayoran Lama, ia tempuh dengan berjalan kaki setiap paginya.

Meski di Pasar Kebayoran Lama banyak dijumpai penjual kantong plastik, tapi Bambang tidak merasa bersaing satu sama lain. “Toh, rezeki sudah diatur sama Allah, kenapa harus takut,” ujarnya saat merapikan plastiknya. Ia mengambil kantong plastik setiap harinya dari agen di sekitar pasar.

Selain menjual kantong plastik, Bambang juga mengumpulkan botol bekas sebagai penghasilan tambahan. Hasil yang ia dapatkan cukup lumayan, sekitar Rp. 25.000. “Buat nambah – nambah uang makan mbak,” tambahnya.

Bambang berharap meskipun ia hanya berjualan kantong plastik tapi anaknya harus bersekolah setinggi-tingginya. Bambang menyadari bahwa hanya pendidikanlah yang dapat memutuskan rantai kemiskinan. Ia ingin anaknya yang sekarang duduk di Sekolah Dasar dapat mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi. “Pokoknya anak saya harus sukses, harus bisa kuliah,” ujar Bambang menutup wawancar. [Dewi Ardianti/PNJ]

Comments

comments