Dr. Ade Gafar Abdullah Apresiasi Capaian Peneliti Indonesia

Dr. Ade Gafar Abdullah

BANDUNG – Publikasi ilmiah Indonesia mencapai peringkat ke-2 di ASEAN. Sayangnya, peningkatan tersebut tidak dibarengi dengan jumlah sitasinya atau kutipan yang justru menurun.

Hal ini dikatakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Jakarta, Rabu (11/4). “Namun permasalahannya jumlah publikasinya meningkat drastis, tapi sitasinya menurun,” ujarnya.

Menurut dia, seharusnya kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya. “Kualitas dari jurnal-jurnal yang ada di Indonesia harus didorong terus agar makin baik,” tambah Nasir.

“Dr. Ade Gafar Abdullah dalam akun facebook pribadinya sangat mengapresiasi capaian ini, ia menganggap ini adalah energi potensial untuk mulai mengarahkan dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk mulai memikirkan kualitas, meskipun masih banyak papers dalam bentuk proceedings namun memiliki kualitas sangat bagus,” tulisnya, Jumat (13/4/2018).

Ia menuturkan beberapa fakta bahwa tren publikasi ilmiah Indonesia mulai melesat tahun 2015, setelah para pengelola Pascasarjana di seluruh nusantara tunduk kepada aturan Kemristekdikti bahwa syarat untuk lulus S2/S3 harus publikasi internasional bahkan diikuti beberapa program S1.

BACA JUGA:  Gempa Lombok, Dompet Dhuafa Akan Bangun RS Lapangan dan Layanan Kesehatan Darurat

“Beberapa pengelola masih mentolerir boleh publikasi dalam bentuk proceedings asalkan terindeks Scopus, maka berbondong-bondonglah para mahasiswa memburu event international conference dengan janji proceedingsnya terindeks Scopus,” sebut Ade.

Disamping itu, hibah riset Kemristekdikti pun menuntut luaran publikasi internasional minimal proceedings terindeks Scopus dan dikontrak tahun terakhir wajib publish di journal internasional bereputasi (meskipun janji peneliti jarang terpenuhi), maka para peneliti yang mendapat hibah di tahun pertama banyak yang mengejar luaran berupa proceedings.

“Sebelum tahun 2015 gerakan publikasi internasional hanya gencar dilakukan oleh dosen-dosen di PTN ternama saja,” katanya.

Saat ini muncullah gerakan berjamaah dari seluruh elemen, PTS, Politeknik, PTAIS, Poltekes dan lain-lain. Semua mengejar skor SINTA supaya memiliki Scopus ID, sehingga cara cepat untuk memperolehnya adalah dengan mengikuti konferensi dengan proceedings terindeks Scopus.

“Hampir sebagian besar perolehan publikasi PT di Indonesia, jika diamati di Scopus memang dominan bersumber dari publikasi proceedings terutama bersumber dari AIP, IOP, IEEE, Matec, ASL, dan publisher lainnya,” ucap Dosen Universitas Pendidikan Indonesia ini.

BACA JUGA:  6 Negara Ini Miliki Destinasi Wisata Bagi Pecinta Kucing

Rata-rata sumbangsihnya adalah dari para mahasiswa Master dan Doktoral yang secara otomatis menggaet pembimbingnya sebagai co-authors.

“Ini juga perlu diapresiasi, karena capaian ini mulai menyadarkan kita, bahwa karya ilmiah kita baru sampai level ini, karena ketika ingin naik level maka memerlukan sarana dan prasarana yang mumpuni,” tambahnya.

Jadi, jangan bandingkan kualitas publikasi kita dengan universitas luar seperti NTU ataupun NUS Singapura, bahkan dengan UKM Malayasia pun kita masih minder.

“Ade juga meminta agar ini menjadi momentum yang tepat untuk menyadarkan para pengambil kebijakan, bahwa karya yang baik perlu dukungan sarana dan prasarana yang mumpuni, jangan sampai bertahun-tahun kita berlangganan sci-hub, mau juga dong tanpa takut dosa unduh papers langsung melalui Springer atau Elsevier dan bereksperimen pakai alat canggih di laboratorium sendiri dan tidak ngikut ke negeri tetangga,” tandasnya.

Bahkan postingan ini banya dibanjiri oleh komentar-komentar positif dari kolega-kolega dosen dan peneliti, sebut saja Darmawan Napitulu, ia mengatakan sebaiknya membangun

budaya untuk menulis hasil penelitian ke dalam publikasi. Prosiding internasional hanya sebuah instrumen untuk mendiseminasikan karya indonesia ke manca negara.

BACA JUGA:  Jelang Asian Games, Kemenkes Susun Modul dan Pelatihan Kegawatdaruratan

“Tidak ada yang salah, asalkan melalui proses review yang jelas,faktanya banyak di daerah (luar jawa) belum memahami tentang perbedaan prosiding dengan jurnal, jadi lebih baik budaya menulis dulu dikembangkan lalu budaya mutu berikutnya dan ini hanyalah masalah waktu dan proses,” tulis Darmawan.

Akun Firman Bagja Juangsa mengatakan tidak ada yang salah dengan prosiding, malah bagus sebagai langkah awal untuk meningkatkan kebiasaan menulis.

“Submit ke jurnal memang hal lain yang memang harus dilakukan sambil meningkatkan kualitas penelitian,” imbuhnya.

Senada dengan Darmawan Napitupulu dan Firman Bagja Juangsa, akun Robbi Zhuge Rahim juga menanggapi, bahwa dari tahun 2015 peningkatan publikasi sangat meningkat, bahkan drastis dan memang di dominasi dari Proceeding.

“Peningkatan ini adalah positif, bahkan terkait pro dan kontra nya (seperti 605 author Scopus) bukannya Dikti ingin menggalakkan publikasi salah satunya dengan kolaborasi,karena salah satu jalan publikasi tercepat adalah dari Proceeding,” tandas Robbi. (js)

Comments

comments