Cita-Cita Terjegal UNBK

Ilustrasi.

Oleh : Rizka Fauziah, S. Pd. I.

Puteeeeri_: “Pak, kalo soal UN hari ini masih susah, saya minta cariin calon suami aja ya. Capek”

Itulah salah satu komentar IG yang mungkin dirasa nyeleneh dan terkesan cuek bahkan bernada putus asa. Namun faktanya, komentar tersebut memang ada di kolom komentar IG milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Entahlah, mungkin pemilik akun puteeeeri_ tersebut sudah kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan kegundahannya bahkan stres menghadapi ujian nasional. Dan bisa jadi, yang sedari awal dia bercita-cita setinggi langit, setelah tahu soal ujiannya sulit, maka pupuslah cita-cita terjegal UNBK.

Bagaimana tidak stres dan putus asa, untuk mengantongi kelulusan saja, setiap murid sekolah menengah harus menempuh UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) berbasis HOTS (High Order Thinking Skill) yang artinya daya nalar tingkat tinggi. HOTS adalah konsep pembaruan pendidikan berbasis taxonomi. Gagasan ini mewajibkan proses kognitif (kerja otak) lebih dari biasanya dan mengerucut pada pengambilan keputusan.

BACA JUGA:  Menuju Pasar Tertib Ukur 2019, Disdagin Sosialisasikan PTU di Pasar Depok Jaya

Padahal diakui oleh beberapa negara, HOTS sulit untuk diterapkan walau memang dapat memberikan hasil belajar yang baik. Toh pada faktanya banyak negara maju yang meninggalkan pendekatan ini. Karena dirasa terlalu membebankan siswa mengingat minat dan bakat serta daya tangkap setiap anak berbeda. Sederhananya, melalui pendekatan HOTS ini, tingkat kemampuan setiap anak dipukul rata dan dituntut untuk sama pada level tertentu. Tentu saja ini tidak bisa dipaksakan, karena dapat mengaburkan arah dan tujuan sistem pendidikan yang diterapkan di suatu negara.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Kirim 30 Ton Paket Superqurban dan 15 Truk Bantuan Logistik untuk Palu - Donggala

Lain halnya, jika kita menilik pada ideologi Islam yang mengandung pengaturan dalam berbagai bidang tak terkecuali bidang pendidikan. Dalam Islam, sistem pendidikan yang unggul adalah sistem pendidikan Islam yang memiliki tujuan utama yaitu membentuk kepribadian Islam dan mencetak peserta didik yang menguasai ilmu pengetahuan maupun ahli sains dan teknologi. Kepribadian Islam inilah yang nantinya akan melejitkan minat dan bakat siswa tanpa ada rasa terpaksa dan tertekan karena akan senantiasa sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia, menentramkan jiwa dan memuaskan akal.

BACA JUGA:  Kota Depok Boyong 61 Medali di Porda Jabar 2018

Kepribadian Islam terbentuk dari pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) manusia dalam memahami hakikat dirinya dan potensi yang ada dalam dirinya. Dalam membentuk kepribadian Islam, minimal ada tiga hal yang harus jadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, keluarga dan negara. Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqafah Islam dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (Sistem Pendidikan Islam menurut Taqiyuddin an-Nabhani).[]

Comments

comments