Berjuang Tanpa Akhir

Ilustrasi. (Istimewa)

Kau relakan waktu berhargamu, kau biarkan peluh menetes di dahimu, kau jadikan sang malam menjadi siang. Semua yang kau lakukan untuk membahagiakan keluarga kecilmu.

Sosok perempuan yang hebat dan selalu menginspirasi ialah ibuku. Kasih sayang yang ia berikan untukku tidak dapat tergantikan oleh apapun. Perjuangannya tiada henti untuk ketiga anaknya, tanpa terucap lelah dari mulutnya. Ia yang selalu memprioritaskan anak-anaknya lebih dahulu, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Tanggung jawabnya sebagai ibu tidak pernah ia tinggalkan, dari mulai pekerjaan rumah tangga sampai mengurus suami dan anak semua ia lakukan.

Manis dan pahitnya hidup sudah dilewatinya, menjadi seorang ibu rumah tangga saja sudah sulit bagiku karena harus mengerjakan semua sendiri. Ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri dengan penghasilan pas-pasan dan keterbatasan ekonomi keluargaku harus membuat ibu membantu ayah mencari nafkah. Ibu yang memulai usahanya dengan usaha makanan ternyata tidak mencukupi.

Biaya sekolah yang semakin mahal dan kebutuhan hidup yang semakin tinggi akhirnya membuat ibuku membuka warung sembako. Setiap pagi ia sudah harus berjualan hingga larut malam. Walupun hasil dari berjualan sembako sedikit dengan penuh semangat dan kesabaran ibuku tetap berusaha. Setiap hari ibuku harus memutar otak untuk biaya hidup sehari-hari.

Lelah yang terlihat jelas dalam raut wajahnya ia tutupi dengan senyuman. Bahkan disaat lelah pun, ia masih siap mendengar keluh kesah anak-anaknya walaupun sebenarnya ia sendiri lelah dan ingin istirahat. Namun, ia tetap memberikan waktunya kepada anak-anaknya.

Ibuku berpesan “kita harus terus berusaha dalam keadaan tersulit, tidak boleh menyerah begitu saja dan tetap terus bersyukur” aku belajar banyak hal dari dirinya. Saat diriku gagal untuk kuliah di universitas negeri dan menunggu satu tahun untuk kuliah, ia yang terus memberikan diriku semangat tiada henti. Ia terus membimbingku dengan penuh kesabaran, untuk menjadi orang yang tidak mudah menyerah.

Saat aku sakit ia pun berusaha menjaga dan mengurus diriku sampai diriku sehat kembali. Namun, saat dirinya sakit ia menutupi rasa sakitnya itu. Bahkan saat semuanya terlelap, aku melihat ibuku sedang berdoa di sepertiga malamnya untuk mendoakan anak-anaknya dengan air mata yang menetes dipipinya.

Bagiku, apa yang telah ia berikan kepadaku tidak bisa terbalaskan oleh apapun. Aku sangat bersyukur memiliki ibu yang begitu luar biasa hebat, semangat dan perjuangannya demi keluarga sangat membuat diriku semangat. Baginya, kebahagiaan keluarganya adalah nomer satu. Terima kasih atas segala kebaikanmu, ibu. [Ayu Inggarnies/PNJ]

Comments

comments