Berbagai Celotehan Pedagang dan Pembeli di Pasar

(Foto: Ester Lidya)

Pasar Cipinang Muara adalah salah satu pasar tradisional yang terletak di Jakarta Timur. Pasar ini beroprasi di pagi hari, jadi kalau datang siang hari kemungkinan hanya mendapat sisa barang jualan yang belum laku. Apa yang terilintas dipikiran jika mendengar kata pasar tradisional? Tentunya semua hal yang sifatnya tradisional. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada mesin ATM maupun penggesek kartu, semua hal dilakukan secara tradisional.

Pagi itu, saat matahari saja masih malu-malu menunjukan sinarnya, aku malah sudah berada di pasar dengan ibu. Awalnya aku kira pasar masih sepi pembeli karena hari masih subuh. Ternyata aku salah menduga, aku lupa bahwa pembeli pergi ke pasar sebelum mereka berangkat bekerja yaitu justru di waktu subuh.

Jalanan di depan pasar menjadi macet karena lalu lalang kendaraan maupun orang yang ingin masuk ataupun keluar pasar, jadi keberadaan pasar seringkali diidentikan dengan macet. Saat masuk ke dalam pasar, kebisingan mulai terasa di telingaku, berbagai suara bersaut-sautan, baik pedagang yang menawarkan dagangan maupun pembeli yang menawar harga.

Berjalan di pasar pun tak boleh melamun, karena jika berhenti di tengah jalan cukup lama akan ada orang di belakang yang menegormu untuk sekedar bilang permisi, menegormu dengan nada sedikit kasar, atau bahkan langsung menyalipmu dengan gerakan cepat yang seringkali membuat badanmu terdorong dan disambung dengan decakan keras menandakan kamu telah menghalangi jalannya. Yang paling mengagetkan adalah pembawa barang, ia akan berteriak permisi dengan kencang atau biasa meneriakan kalimat “awas air panas” yang membuat orang yang menghalangi jalannya langsung minggir memberi jalan.

Aku mengikuti ibuku mengelilingi pasar karena ibuku berbelanja cukup banyak dan tempat pedagang yang barangnya ingin ia beli berada berjauhan, jadi mau tak mau aku harus berkeliling. Kutemukan berbagai macam pedagang maupun pembeli di pasar cipinang muara ini. Ada pedagang aneka buah, cabai, dan bawang yang akrab disapa Babe karena setiap pembeli yang datang memanggilnya Babe, begitu juga dengan ibuku. Babe adalah orang yang ramah, banyak pembeli yang mengenal dan akrab dengannya.

Babe selalu santai menghadapi beragam sifat pembeli. Ada pembeli yang mengatakan cabai yang dijualnya sangat mahal, untuk pembeli seperti ini Babe menjawab, “Lagian pas lagi mahal ditanya, kemarin pas murah ngga ditanya.” Ada juga pembeli yang saat datang langsung mencela bahwa buah yang Babe jual tidak segar, untuk pembeli seperti ini Babe menjawab, “Yah si Ibu baru datang udah menghina aja.” Bahkan ada juga pembeli yang saat datang tiba-tiba curhat bahwa suaminya sedang dirawat di rumah sakit, untuk pembeli seperti ini Babe meladeninya dengan rasa simpati.

Berbagai macam cara dilakukan pembeli untuk menawar harga barang yang mereka inginkan, berbagai macam cara pula dilakukan pedagang untuk mempertahankan harga barang yang mereka jual. Semua itu mereka lakukan dengan mengandalkan mulut untuk melakukan percakapan sesuai tujuan.

Seperti lelaki paruh bayah yang menjual daging, ibuku mendatangi lapaknya karena berniat memasak teriyaki. Harga yang mahal dan tidak pas dengan perkiraan ibuku membuat ibuku mengeluarkan jurusnya, “Kurangin lah pak, belum beli bumbunya,” tawar ibu. “Yah gabisa bu, tadi udah ada yang nawar juga, modalnya aja berapa, mau untung berapa saya.” jawab lelaki paruh baya penjual daging itu yang membuatku tidak jadi menyantap teriyaki hari itu karena ibu tidak jadi membeli daging.

Lalu saat membeli sayur, ibu melancarkan aksinya lagi, kali ini dengan jurus lain, “Ayolah bu biar langgananan,” kata ibuku pada pedagang penjual sayur agar mau menurunkan harganya dan ternyata ibuku berhasil. Mungkin memang ibuku sudah langganan dilapak sayur ini.

Ada juga pembeli yang menawar dengan berkata, “Kemarin lusa saya beli di Encim ngga segitu bu.” Tidak tahu perkataan ini benar atau tidak, tetapi yang pasti perkataan ini ia utarakan semata-mata untuk meminta turun harga, dan ternyata ia tidak berhasil karena ibu penjual sayur malah menjawab, “Yasudah beli ke Encim saja kalo memang segitu di Encim.”

Aku hanya bisa tersenyum menahan tawa mendengar respon ibu tukang sayur. Ternyata ke pasar walaupun harus berdesak-desakan dan berbanjir peluh, juga bisa menghibur dengan celotehan pembeli dan pedagang yang sebenarnya tidak berniat untuk melucu. (Ester Lidya Norisa/PNJ)

Comments

comments