Bank dan Fintech, Berkolaborasi atau Bersaing?

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Yulianti (Mahasiswa Akuntansi Syariah STEI SEBI)

Munculnya perusahaan-perusahaan keuangan yang berbasis teknologi atau financial technology (fintech) memaksa perbankan untuk berbenah. Dengan segala fitur yang memudahkan nasabahnya dan inovasi-inovasi yang tiada henti lagi-lagi membuat industri perbankan harus berpikir keras untuk bisa bertahan.

Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita mulai dari awal. Apa sebenarnya Fintech itu ? Menurut definisi yang dijabarkan oleh National Digital Research Centre (NDRC), teknologi finansial adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial, di mana istilah tersebut berasal dari kata “financial” dan “technology” (Fintech) yang mengacu pada inovasi finansial dengan sentuhan teknologi modern.

Fintech mempunyai usia yang masih muda atau bisa dikatakan baru di dunia Finance sehingga belum semua lapisan masyarakat mengenal dengan baik industri ini. Walaupun Fintech masih baru akan tetapi perkembangan nya begitu pesat di indonesia.

Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), menyatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia naik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal jumlah, penetrasi pemanfaatan teknologi digital di Indonesia sangat besar dan telah mengubah perilaku masyarakat hampir pada semua aspek kehidupan. Peningkatan ini dapat kita cermati pada tabel berikut ini :

Daftar 7 Negara Peringkat Teratas Pengguna Internet 2013 – 2018 (dalam jutaan jiwa):

BACA JUGA:  IITCF Imbau Masyarakat Hati-hati Alokasikan Dana ke Travel

Dari tabel tersebut terlihat jelas bahwa dari tahun ke tahun jumlah pengguna internet mengalami penigkatan yang signifikan, namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, nampak jelas bahwa persentase jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan internet untuk akses layanan perbankan masih relatif rendah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat indonesia masih kesulitan dalam mengakses layanan perbankan, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terpencil) adalah tidak meratanya akses terhadap layanan perbankan tersebut. Tidak meratanya akses terhadap layanan perbankan hingga kini masih menjadi permasalahan yang terus dihadapi oleh lembaga perbankan, khususnya masyarakat di daerah terpencil yang tidak dapat dijangkau oleh lembaga perbankan dan jasa keuangan tersebut.

Apabila kita melihat dari sudut pandang yang lain, saat ini perbankan Indonesia masih memiliki pengaruh yang paling besar dalam mendukung stabilitas sistem keuangan, sehingga implementasi teknologi finansial sangat diharapkan berperan aktif untuk menjangkau setiap elemen masyarakat, khususnya masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terpencil) yang masih belum terakses kehadiran kantor cabang dari lembaga perbankan. hal ini didukung juga oleh OJK, yang saat ini tengah mengembangkan sistem teknologi finansial untuk digunakan dalam layanan di industri jasa keuangan, khususnya aplikasi layanan perbankan di Indonesia.

BACA JUGA:  Zizara Gagas Ajang Cari Bakat "Face Of Muslimah"

Persepsi yang berkembang adalah dunia finance indonesia harus siap terancam oleh munculnya fintech, terutama industri perbankan. Bahkan ada sebuah statement yang mengatakan bahwa bank harus bersiap-siap digantikan oleh fintech. Apakah Statement itu benar?. Namun pada keyataannya, fintech dan bank mempunyai target segmen yang berbeda. Penggunaan fintech pun masih bergantung pada layanan perbankan seperti akun tabungan.

Kolaborasi atau bersaing ?

Apabila kita melihat dari beberapa sisi, lembaga perbankan dan penyedia jasa fintech perlu melakukan kolaborasi yang matang dan terstruktur dengan pemerintah, dalam hal ini BI dan OJK. Kolaborasi tersebut bertujuan agar kelemahan dan ancaman terhadap transaksi finansial perbankan dapat diminimalisasi, sehingga setiap elemen masyarakat dapat mengakses setiap fitur maupun produk perbankan yang ditawarkan oleh lembaga perbankan di Indonesia secara cepat, aman, dan bermanfaat untuk pemenuhan kebutuhan finansialnya.

Dengan melakukan kolaborasi antara bank dan fintech akan menunjukkan sinergi yang akan memperkuat bidang masing-masing serta membangun ekosistem keuangan makro yang lebih sehat dan inklusif.

Jika perbankan kesulitan membuka cabang di pelosok mengingat terbatasnya pendanaan, serta sistem pengawasan dan aturan permodalan yang ketat. Fintech pun terkendala mengakses dana murah. Apalagi peraturan di tiap negara berbeda dan belum jelas. Selain itu, pengetahuan masyarakat akan teknologi finansial yang relatif rendah memungkinkan mereka tidak dapat maksimal dalam mengakses layanan perbankan, sehingga pemerintah, dalam hal ini OJK dan BI, berkolaborasi dengan lembaga perbankan dan penyedia jasa teknologi finansial perlu melakukan sosialisasi penggunaan teknologi finansial tersebut secara intensif dan berkelanjutan.

BACA JUGA:  Jalin Silaturahim, Walikota Depok Gelar Buka Puasa Bersama Insan Pers Kota Depok

Perbankan dan fintech bisa saling berkolaborasi dan mereka saling diuntungkan satu sama lain. perbankan dapat memanfaatkan teknologi fintech untuk menjangkau nasabah dan kawasan yang tak terakses tanpa harus membuka cabang fisik. Di sisi lain, fintech bisa mengakses pendanaan murah untuk meningkatkan aktivitasnya.

Selain berkolaborasi dengan fintech. Industri perbankan juga dapat melakukan 2 cara berikut ini agar bisa bertahan di dunia finance :

Pertama, digitalisasi layanan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih cepat, dan mudah ke nasabah. Misalnya, membuka rekening digital melalui telepon pintar.

Kedua, mengintegrasikan kegiatan perbankan dengan kehidupan nasabah sehari-hari. Seperti yang dilakukan DBS Singapore melalui aplikasi “Home Connect” untuk memudahkan calon klien menaksir harga rumah yang akan dibelinya berdasarkan harga rata-rata di kawasan tersebut.

Jika berkolaborasi bisa saling menguntungkan kenapa harus bersaing.

Comments

comments