Aku, Bukan Tanggung Jawabnya

Ilustrasi. Istimewa)

Banyak yang bilang bila ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Jika sesuatu buruk menimpa putrinya, ia pasti akan ikut terluka. Bagi sebagian orang, ayah adalah pahlawannya. Termasuk juga untukku. Namun, bukan ayah yang dimaksud, tapi papaku. Ya, ayah adalah sebutan untuk ayah kandungku. Sedangkan papa adalah untuk papa tiriku.

Papa adalah pahlawanku, ia bantu aku, ibuku, dan kakakku untuk bangkit kembali setelah keterpurukan menimpa kami selama bertahun-tahun. Ibuku, memutuskan untuk berpisah dengan ayah ketika aku berumur 6 tahun. Perlakuan ayah yang kasar, yang tidak mau membiayai aku dan kakakku, menjadi alasan kuat ibuku untuk meminta cerai.

Ayah sering sekali mengancam aku, ibuku, kakakku, bahwa ia akan membunuh kami. Sejak kejadian itu, aku dan ibukku sering sekali tidak dirumah. Kami menginap dari suatu tempat ke tempat yang lain. Syukurlah, teman ibukku masih mau menampung kami. Usiaku dan kakakku yang terpaut 10 tahun, memutuskan ibukku untuk membawaku, yang masih kecil. Kakakku, dititipkan kepada nenekku.

Waktu terus berjalan, hakim mengabulkan permintaan ibukku untuk berpisah dengan ayah. Tanpa ayah, kami memutuskan untuk berpindah kota. Karena ancaman masih saja menghantui kami. Sampai suatu saat, ibukku menemukan papa.

Papa yang datang padaku untuk meyakinkan aku bahwa ia bisa menjadi kepala keluargaku, belum bisa membuat aku yakin. Tapi, ia tidak pantang menyerah. Hatinya yang tulus, akhirnya berhasil meyakinkan aku bahwa ia bisa menggantikan ayah. Papa benar-benar bisa membuktikan bahwa ia adalah kepala keluarga yang baik, papa tidak pernah marah kepada aku, ibukku, dan kakakku.

Ia hanya tertawa jika aku mulai menyebalkan. Ia banyak mengajariku cara menjadi manusia yang mempunyai kepribadian yang baik, yang bertanggung jawab, yang sabar, dan tidak menyusahkan orang lain.

Papa, lagi-lagi bisa membuktikan bahwa ia bisa menjadi panutan keluarga. Setiap subuh, ia sudah rapih, memenuhi panggilanNya ke masjid, dengan shalat berjemaah. Di mobilnya, banyak buku bacaan religi. Di waktu senggangnya, ia lebih baik untuk mendengarkan ceramah. Tak henti-hentinya menabung ilmu, dan menebar kebaikan.

Ia menyayangi aku, kakakku layaknya seperti anak kandungnya, ia menggantikan tanggung jawab ayahku. Papa membanting tulang disisa-sisa umurnya, untuk memenuhi kebutuhan aku, ibukku, dan kakakku. Sebenarnya, ia bisa saja memilih untuk tidak membani dirinya dengan aku dan kakakku, namun, ia adalah papaku. Memilih dibebani aku dan kakakku, karena ia adalah malaikat tak bersayap. [Aridha Fatma Adistia/PNJ]

Comments

comments