Agama dan Politik, Sebuah Renungan

Agama dan politik merupakan dua kata yang kuat pengaruhnya dalam dunia manusia. Kehidupan manusia tidak akan jauh dari politik dan agama, bahkan dari hari pertama manusia berdiri penulis kebingungan mana yang duluan manusia lakukan, percaya kepada suatu hal atau berpolitik dalam pengertian yang luas. Apapun jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah penting, karena yang penting dalam membahas agama dan politik adalah memahami keduanya bekerja, memahami bagaimana agama dan politik mempengaruhi manusia dan dunia, dengan memahami hal tersebut manusia bisa menentukan sikap dan aktivitas yang sesuai bagi situasi dan semua pihak.

Resiprokal (timbal balik, saling berbalasan) merupakan kata yang tepat untuk menjelaskan hubungan antara agama dan politik. Keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kompleks, terkadang agama mempengaruhi politik dan tidak jarang juga politik masuk dalam tubuh agama. Seperti contoh, bagaimana Nabi Muhammad mewarisi komunitas politik di Madinah, sehingga masyarakat Islam sampai sekarang memiliki tradisi politik yang khas. Contoh lain adalah reformasi protestan yang terjadi pada tahun 1517. Disaat kita paham bahwa agama dan politik merupakan entitas – entitas yang berdekatan, perdebatan terkait apakah harusnya ada pemisahan antara agama dan politik yang cenderung membawa perpecahan antar pihak bisa dihindari.

Perdebatan terkait haruskah agama dan politik terpisah bukan merupakan perdebatan yang substansial, karena sejatinya perdebatan tersebut tidak menyentuh permasalahan yang nyata terjadi di masyarakat. Penindasan manusia atas manusia, negara atas negara dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan lain – lain masih bisa terjadi bahkan setelah perdebatan tersebut terselesaikan. Padahal, agama dan politik mempunyai irisan terkait orientasi di dunia. Agama berusaha untuk menyelamatkan manusia dari segala keburukan, politik idealnya merupakan seni mencapai the good life. Kedua kata, agama dan politik sejatinya tidak menginginkan perpecahan, tetapi realita-nya perpecahan tetap terjadi.

Pengkerdilan identitas dan politisasi agama menjadi penyebab mengapa perpecahan bisa terjadi. Sen menangkap bahwa konflik agama seringkali terjadi karena adanya pengkerdilan identitas diri sendiri dan pihak lain. Pelabelan manusia dengan satu identitas seperti “orang Hindu” atau “orang Budha” merupakan simplifikasi yang mengakibatkan banyak hal negatif. Simplifikasi tersebut bisa berimplikasi pada tindakan yang sewenang – wenang (tidak jarang kekerasan) karena mengabaikan identitas lain yang manusia itu miliki. Pelabelan sederhana tersebut muncul karena banyak hal, media bermain, bahkan akademisi juga turut punya andil. Huntington dalam bukunya benturan peradaban merupakan contoh prima pengkerdilan

Identitas (bahkan pada level bangsa) yang bisa berujung pada konflik. Sehingga dengan mengerti bahwa identitas manusia itu jamak dan kita semua pada tingkatan tertentu (tingkatan paling dasar: manusia) mempunyai kesamaan, persatuan bisa tercapai dan musuh sebenarnya bisa dilawan.

Politisasi agama juga bisa menjadi penyebab adanya perpecahan di realita. Penulis mengartikan politisasi agama disini sebagai proses politisasi agama yang berorientasi hanya menggunakan agama sebagai alat memperoleh kekuasaan, uang, dan hal kecil lainnya. Masalah dalam politisasi agama bukan pada politisasi-nya tetapi berada pada tujuan politisasi tersebut karena sudah dijelaskan bahwa politik dan agama tidak terpisahkan sehingga politisasi adalah hal yang common. Tetapi yang sebenarnya dipermasalahkan masyarakat apabila mendengar kata ‘politisasi agama’ berada pada tujuan politisasi tersebut. Disaat tujuannya kerdil, picik, kotor, inilah yang menjadi permasalahan, tetapi disaat politisasi agama menimbulkan persatuan, kerja sama, dan sinergitas antar pihak, menurut penulis hal itu terdengar tidak terlalu buruk.

Sehingga perlu kita kembali menilik keadaan Indonesia, bagaimana agama yang seharusnya murni, menebar kebaikan dan kebersamaan diperlakukan dalam politik, entah itu di kampus atau negara. Perlu juga kembali kita telaah apakah politik kita melenceng yang awalnya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur dengan prinsip kolektifitas menjadi tempat penindasan manusia atas manusia. Apabila kedua deskripsi tersebut cocok dengan keadaan realita Indonesia sekarang maka hanya ada satu solusi. Bergerak!

Diltulis oleh:
Muhammad Cahya Nugraha
Kepala Departemen Litbang Himapol UIN JKT

Comments

comments